Muhasabah
|
J
|
angan hanya karena
ingin eksis, pahala jadi habis. Jangan hanya karena ingin di puji, amal ibadah
jadi tak berisi. Jangan hanya karena ingin pamer, niat ibadah jadi luber.
Tak sedikit kita
menyaksikan tingkah-polah sebagian manusia hari ini yang gemar mengumumkan amal
ibadahnya kepada khalayak ramai. Melalui akun di media sosial, memamerkan amalan
yang sedang dikerjakan agar dipuji serta dinilai taat dan beriman. Tak sedikit
pula kita memperhatikan, justeru semakin hari semakin marak perbuatan semacam
ini berserakan di dunia maya. Manfaat apakah yang akan di dapat jika orang lain
tahu kita sedang melaksanakan satu amal ibadah? Harapan akan pujian manusia,
sedangkan nilai di sisi Allah terancam binasa?
Dalam sebuah riwayat
Ibnu Majah, hadist dari Abu Sai’id al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih
tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal? Dia berkata, “Kami
mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi: yaitu seseorang shalat,
lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.”
Riya adalah sebuah
penyakit di dalam hati yang amat berbahaya bagi kehidupan akhirat seorang
hamba. Karena itu dalam sebuah riwayat Imam Ahmad, Rasulullah pun menyampaikan
rasa yang ditakutkannya terjadi pada umat, melakukan perbuatan syirik kecil,
yaitu riya.
Betapa perilaku riya
sangat sulit dihindari. Syaitan amat halus memainkan perasaan manusia. Rasa
ingin amal ibadahnya diketahui orang, hasrat ingin dipuji atas ketaatan yang
dilakukan.
Riya ibarat virus yang
tak bisa diprediksi tepat kapan menjangkiti hati seseorang. Ianya akan tertanam
dalam jika tidak segera dimusnahkan. Godaan untuk dipuji oleh sesama manusia
memang selalu dibisikkan oleh syaitan. Gunanya agar amal ibadah seorang yang
dikerjaan seorang hamba tidak akan bernilai pahala di sisi Allah azza wa jalla.
Hingga kelak di hari perhitungan, setiap orang yang terpengaruh oleh tipu daya
riya, akan menyesal karena tak ada ganjaran tersisa di buku catatan amal
ibadahnya.
Ada sebuah kisah dari
seorang sahabat di masa ke-khalifah Islam. Saat pasukan muslim ingin masuk ke
dalam sebuah kawasan musuh, terbenturlah para mujahidin dengan tembok amat
besar yang dibuat untuk membentengi kawasan tersebut. Sulit bagi kaum pasukan
untuk bisa masuk dan membobol benteng sebesar itu. Teruslah mereka berpikir dan
berupaya. Tetiba datang seorang yang mencoba menggali bagian bawah benteng.
Setelah beberapa waktu, ia pun berhasil membuat jalur bawah tembok dari galian
itu sehingga semua pasukan bisa masuk ke wilayah penaklukan.
Karena jasa pemuda itu,
sang khalifah di masa itu terkesima dan ingin memberikannya penghargaan. Tetapi
tidak ada satu orang pun yang tahu siapa dia yang seketika menghilang dan tak
berbekas. Karena rasa penasarannya, khalifah meminta untuk diumumkan ke seluruh
penjuru negeri, bagi siapa pun pemuda itu atau siapa pun yang mengetahui siapa
dia diminta untuk memberitahukan, karena khalifah akan memberikan imbalan
sejumlah tertentu.
Sekian hari menunggu,
datanglah seorang laki-laki berjubah panjang dengan wajah tertutup ke hadapan
sang khalifah. Berkatalah ia, “wahai khalifah, bukankah engkau sedang mencari
siapa pemuda yang berhasil membuka jalan bagi pasukan di penaklukan kala itu?
Khalifah pun terkaget dengan pernyataan laki-laki ini. “Ya tentu, apakah engkau
mengetahui siapa laki-laki itu?”
“Aku akan beritahu,
tetapi tolong kabulkan tiga syarat untukku.”
“Apa syarat itu,
bukankah aku sudah menyiapkan imbalan yang besar untuknya” tegas khalifah.
“Tiga syaratku, (1)
tolong rahasiakan siapa dia sepanjang massa, (2) tolong jangan beri imbalan
sedikit pun kepadanya, (3) tolong jangan catat namanya di dalam sejarah.”
Mendengar itu khalifah pun tercengan, bagaimana mungkin ada orang yang
mengajukan tiga syarat seperti itu kepadaku. Padahal ketiganya adalah yang
diinginkan banyak orang.
“Baiklah, aku akan
mengabulkan syarat itu. Maka beritahukanlah siapa laki-laki berjasa itu?”
Dengan membuka tutup wajahnya, laki-laki itu menjawab, “ialah aku.”
Dari kisah di atas,
kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sesungguhnya merahasiakan kebaikan atau
amal ibadah benar tidak mudah. Tetapi merahasiakannya tetap lebih utama dari
membukanya hingga terhapuslah semua ganjarannya. Sahabat di atas lebih memilih
untuk dilihat dan dipuji oleh penduduk langit, terlebih dinilai di sisi Allah
daripada sekadar dipuji oleh sesama manusia, yang justeru memicu rusaknya amal
ibadah dan niat tulus mengabdi kepada-Nya.(sumber:hijaz.Id)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar