Minggu, 30 Desember 2018

Rahasiakanlah Amal Ibadahmu, Sebagaimana Engkau Merahasiakan Semua Aib-Aibmu


Muhasabah
J
angan hanya karena ingin eksis, pahala jadi habis. Jangan hanya karena ingin di puji, amal ibadah jadi tak berisi. Jangan hanya karena ingin pamer, niat ibadah jadi luber.

Tak sedikit kita menyaksikan tingkah-polah sebagian manusia hari ini yang gemar mengumumkan amal ibadahnya kepada khalayak ramai. Melalui akun di media sosial, memamerkan amalan yang sedang dikerjakan agar dipuji serta dinilai taat dan beriman. Tak sedikit pula kita memperhatikan, justeru semakin hari semakin marak perbuatan semacam ini berserakan di dunia maya. Manfaat apakah yang akan di dapat jika orang lain tahu kita sedang melaksanakan satu amal ibadah? Harapan akan pujian manusia, sedangkan nilai di sisi Allah terancam binasa?

Dalam sebuah riwayat Ibnu Majah, hadist dari Abu Sai’id al Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal? Dia berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi: yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.”

Riya adalah sebuah penyakit di dalam hati yang amat berbahaya bagi kehidupan akhirat seorang hamba. Karena itu dalam sebuah riwayat Imam Ahmad, Rasulullah pun menyampaikan rasa yang ditakutkannya terjadi pada umat, melakukan perbuatan syirik kecil, yaitu riya.

Betapa perilaku riya sangat sulit dihindari. Syaitan amat halus memainkan perasaan manusia. Rasa ingin amal ibadahnya diketahui orang, hasrat ingin dipuji atas ketaatan yang dilakukan.

Riya ibarat virus yang tak bisa diprediksi tepat kapan menjangkiti hati seseorang. Ianya akan tertanam dalam jika tidak segera dimusnahkan. Godaan untuk dipuji oleh sesama manusia memang selalu dibisikkan oleh syaitan. Gunanya agar amal ibadah seorang yang dikerjaan seorang hamba tidak akan bernilai pahala di sisi Allah azza wa jalla. Hingga kelak di hari perhitungan, setiap orang yang terpengaruh oleh tipu daya riya, akan menyesal karena tak ada ganjaran tersisa di buku catatan amal ibadahnya.

Ada sebuah kisah dari seorang sahabat di masa ke-khalifah Islam. Saat pasukan muslim ingin masuk ke dalam sebuah kawasan musuh, terbenturlah para mujahidin dengan tembok amat besar yang dibuat untuk membentengi kawasan tersebut. Sulit bagi kaum pasukan untuk bisa masuk dan membobol benteng sebesar itu. Teruslah mereka berpikir dan berupaya. Tetiba datang seorang yang mencoba menggali bagian bawah benteng. Setelah beberapa waktu, ia pun berhasil membuat jalur bawah tembok dari galian itu sehingga semua pasukan bisa masuk ke wilayah penaklukan.

Karena jasa pemuda itu, sang khalifah di masa itu terkesima dan ingin memberikannya penghargaan. Tetapi tidak ada satu orang pun yang tahu siapa dia yang seketika menghilang dan tak berbekas. Karena rasa penasarannya, khalifah meminta untuk diumumkan ke seluruh penjuru negeri, bagi siapa pun pemuda itu atau siapa pun yang mengetahui siapa dia diminta untuk memberitahukan, karena khalifah akan memberikan imbalan sejumlah tertentu.
 
Sekian hari menunggu, datanglah seorang laki-laki berjubah panjang dengan wajah tertutup ke hadapan sang khalifah. Berkatalah ia, “wahai khalifah, bukankah engkau sedang mencari siapa pemuda yang berhasil membuka jalan bagi pasukan di penaklukan kala itu? Khalifah pun terkaget dengan pernyataan laki-laki ini. “Ya tentu, apakah engkau mengetahui siapa laki-laki itu?”

“Aku akan beritahu, tetapi tolong kabulkan tiga syarat untukku.”

“Apa syarat itu, bukankah aku sudah menyiapkan imbalan yang besar untuknya” tegas khalifah.

“Tiga syaratku, (1) tolong rahasiakan siapa dia sepanjang massa, (2) tolong jangan beri imbalan sedikit pun kepadanya, (3) tolong jangan catat namanya di dalam sejarah.” Mendengar itu khalifah pun tercengan, bagaimana mungkin ada orang yang mengajukan tiga syarat seperti itu kepadaku. Padahal ketiganya adalah yang diinginkan banyak orang.

“Baiklah, aku akan mengabulkan syarat itu. Maka beritahukanlah siapa laki-laki berjasa itu?” Dengan membuka tutup wajahnya, laki-laki itu menjawab, “ialah aku.”

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa sesungguhnya merahasiakan kebaikan atau amal ibadah benar tidak mudah. Tetapi merahasiakannya tetap lebih utama dari membukanya hingga terhapuslah semua ganjarannya. Sahabat di atas lebih memilih untuk dilihat dan dipuji oleh penduduk langit, terlebih dinilai di sisi Allah daripada sekadar dipuji oleh sesama manusia, yang justeru memicu rusaknya amal ibadah dan niat tulus mengabdi kepada-Nya.(sumber:hijaz.Id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar