Senin, 08 April 2019

Warga Mengeluh Lambannya Sikap Manager TLB



BENGKULU, SH – Salah satu warga korban dampak PLTU PT TLB Darmawan mengatakan, dirinya sangat menyesalkan sikap lamban dan terkesan tidak serius dari Manager PT TLB Abu Bakar. Selasa pagi (03/04/19).
“Jujur saya katakan disini bapak/ibu wartawan, kami sudah lama menggiring permasalahan ini sejak Tahun 2017 silam. Namun hasilnya selalu lamban dan penuh dengan tanda tanya,” ujar Darmawan merupakan pensiunan PNS warga Teluk Sepang.
Darmawan menambahkan, perkebunan aset sawit merupakan sumber kehidupan baginya, istri dan ke-enam karyawannya sekarang sudah tidak bisa berbuat banyak lantaran kebun sawit yang seluas tiga hektar dengan populasi panen sawit pertahunnya empat ton hancur bagai ditelan bumi akibat dampak semburan dahsyat PLTU PT TLB pimpinan Managernya Abu Bakar.
“Kebun sawit satu-satunya aset kami seluas 3 hektar dengan panen 4 ton pertahunnya kini hanya tinggal cerita kenangan saja pak. Termasuk nasib anak, istri dan ke-6 karyawan kami sampai pasa detik sekarang tidak bisa berbuat banyak alias pengangguran. Justru itu, pada kesempatan mediasi terakhir pada Sabtu lalu(9/3/19) yang difasilitasi pihak Polresta Bengkulu bisa tuntas dan clear,” tutupnya.
Sementara itu, Kuasa Hukum Kanopi Siap Kawal Kasus TLB Hingga Tuntas.Abu Bakar akan berjanji menyelesaikan permasalahan warga dengan membayar semua ganti rugi tanam tumbuh tersebut.
Dalam hal ini, Kuasa Hukum Kanopi Saman Lating, SH pada Reportase Rakyat mengatakan, berkomitmen untuk terus menggiring dan mengkawal permasalahan dihadapi warga Teluk Sepang hingga tuntas.
“Kanopi telah mengamanahkan hal ini semua pada saya selaku kuasa hukumnya. Tuntutan kita tidak banyak. Yakni pihak TLB mau bayar atau tidak. Apapun terjadi, mengkawal masyarakat Teluk Sepang hingga tuntas,” tutupnya.
// Generasi Millenial Bengkulu Surati Capres-Cawapres RI

 Fera Narasanti salah seorangaktivis Mahasiswi UMB mengatakan, segenap anak muda millenial Bengkulu menyurati kandidat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Indonesia yang akan memimpin pemerintahan periode 2019-2024 untuk mendorong penggunaan energi terbarukan sebagai sumber utama kelistrikan nasional dan menghentikan penggunaan energi fosil batu bara.Senin siang (02/4/19).
“Kami menuliskan aspirasi anak muda millenial untuk pembangunan energi masa depan Indonesia agar segera meninggalkan energi kotor batu bara dan beralih ke energi terbarukan,” ujarNarasati.
Fera menambahkan, dirinya menuliskan surat karena keprihatinan agar mendesak pemerintah menstop proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu, padahal warga sekitar sudah menolak keberadaan proyek itu karena khawatir dengan pencemaran udara akibat pembakaran batu bara.
Menurut Fera, pembangkit listrik dari energi terbarukan seperti matahari, angin dan air sangat melimpah potensinya di Bengkulu sehingga pemerintah seharusnya memilih pengembangan energi terbarukan dibanding mendatangkan investor untuk membangun PLTU batu bara.
Sementara, Juru Kampanye Energi aktivis Kanopi Bengkulu, Olan Sahayu mengatakan penggalangan surat untuk kandidat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) yang maju pada Pilpres 2019 didasari keprihatinan atas regu

lasi pengembangan kelistrikan nasional yang masih bertumpu pada energi fosil. Menurutnya, hal itu tertuang dalam kebijakan penambahan daya listrik 35.000 Megawatt di Indonesia di mana 60 persen masih bergantung pada energi fosil batu bara.
“Kami menantang kedua capres untuk segera meninggalkan ketergantungan pada energi batu bara dan mendorong pembangunan listrik bersih berkelanjutan,” ungkap Olan sapaan aktivis perempuan Kanopi ini.
Terakhir, Olan menjelaskan, surat yang ditulis para anak muda millenial Bengkulu akan dikirimkan kepada tim pemenangan kedua kandidat capres-cawapres RI dan selanjutnya akan dikumpulkan dengan kartu pos dari seluruh Indonesia yang digalang 37 organisasi lingkungan hidup yang bergabung dalam gerakan #BersihkanIndonesia.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar