Minggu, 30 Desember 2018

Bangkit Pasca Gempa Jogja, Berakhir di Tsunami Selat Sunda // 20 Tahun Berkarya Seventeen Resmi Bubar



C
erita tentang grup band Seventeen mungkin akan terus dikenang sampai waktu yang lama nanti. Saat band lain bubar karena personilnya mulai memilih jalan berkarya yang lain, Seventeen bubar karena personilnya meninggal dunia saat unjuk gigi. Hari Sabtu (22/12/2018) malam kemarin menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, terutama bagi Seventeen. Grup band yang sudah berdiri selama hampir 20 tahun ini menjadi korban tsunami yang menerjang kawasan Tanjung Lesung. Dari empat personel Seventeen, tiga personel meninggal dunia dan hanya satu yang selamat.

                Herman (gitaris Seventeen), Bani (bassist Seventeen), dan Andi (drummer Seventeen) meninggal, sementara ifan (vokalis) bisa selamat dari musibah. Tak hanya itu, Seventeen juga kehilangan dua krunya yaitu Oki dan Ujang serta istri Ifan, Dylan Sahara. Menanggapi musibah yang menimpa Seventeen, seseorang yang sempat berjasa bagi eksistensi grup ini pun mengungkap sebuah kisah perjuangan anak muda dari Yogyakarta yang sukses di panggung nasional ini.

                Ia adalah Dendy Renando, pria yang ikut membesarkan nama Seventeen setelah sempat jatuh bangun. Dendy bertemu dengan Herman di sebuah toko baju miliknya di Yogyakarta tahun 2004 silam dan memutuskan untuk ikut bergabung dengan Seventeen. Bukan sebagai personel band, Dendy adalah manajer Seventeen kala itu yang berulang kali mencoba membuat karir Seventeen menanjak. Dendy mengaku yakin pada Seventeen dan merasakan ikatan kuat dengan para personelnya, saat itu vokalisnya masih Doni, belum Ifan. Sayangnya, perjalanan mereka tak pernah mudah.

                Tahun 2006, gempa mengguncang Yogyakarta yang merupakan basecamp dan tempat tinggal para anggota Seventeen. Akibat gempa itu, promosi album Seventeen terpaksa ditunda. Mereka memilih untuk meyelamatkan keluarga dan membantu proses berbenah di kota tercinta itu. Di tahun yang sama, Doni sang vokalis memutuskan keluar dari Seventeen. Keluarnya Doni menjadi salah satu ganjalan yang dihadapi, saat itu Doni banyak menciptakan lagu untuk Seventeen. Tak lama setelah Doni keluar, Ifan bergabung sebagai vokalis Seventeen dan tahun 2007, mereka meluncurkan lagu baru.

                Lagi-lagi karier Seventeen tak mulus, banyak label rekaman yang menolak lagu demo mereka hingga masing-masing personel memutuskan untuk vakum dan bekerja yang lain. Di saat sulit itu, Ifan paling bersemangat dan punya harapan besar bagi Seventeen hingga tahun 2008 mereka berhasil mendapat kontrak dari label Mi2 Music Production.

                Berkat album Lelaki Hebat dengan lagu andalan Selalu Mengalah, nama Seventeen mulai dikenal dan kehidupan mereka pun berubah jadi lebih baik. Mereka bisa membeli mobil operasional, mengganti instrumen musik yang lebih baik dan bisa mengintrak rumah untuk basecamp sementara di Jakarta. Hari-hari berlangsung begitu cepat dengan semua jadwal dan kesibukan Seventeen bernyanyi di sana-sini.

// 17 Januari 2019 Rencana Rilis Konser 20 Tahun dan Film Dokumenter

                Meski banyak anggota yang kemudian menikah dan menjadi suami serta ayah, Seventeen tak pernah berubah. Dedikasi Herman, semangat Ifan, canda dari Bani dan Andi selalu mewarnai hari-hari mereka. Dendy juga bercerita kalau sebenarnya, 17 Januari 2019 nanti mereka berencana menggelar konser 20 tahun Seventeen dan merilis film dokumenter tentang perjalanan mereka. Sayangnya, Seventeen harus pamit undur diri.

                Bukan karena mereka sudah malas bermusik atau bosan satu sama lain, tapi karena maut mejemput Herman, Bani, dan Andi lebih dulu. Ifan tak sendirian, tak akan pernah sendirian karena banyak orang yang mendukungnya dan akan selalu menguatkan langkah kakinya ke depan nanti. Tsunami Banten seolah ingin beritahu Ifan, Seventeen berakhir bukan karena tak setia, tapi justru sangat solid sampai hanya maut yang memisahkan mereka berempat.

// Survive di Tengah Tsunami, Ifan Rasakan ‘Sakaratul Maut’
 
                Diketahui, satu-satunya personel Seventeen yang selamat dari bencana tsunami Selat Sunda, Riefian Fajarsyah alias Ifan vokalis band Seventeen menceritakan bahwa dirinya juga turut merasakan hantaman tsunami dari laut Selat Sunda tersebut. Dia pun mengaku syok saat tsunami menghantam panggungnya malam itu. Saat itu jangankan dirinya, bata di jalan pun terbongkar keluar ikut menghantam apapun yang ada di depannya.

                “Ketinggian air 5 meter jadi saya nggak bisa menggambarkan, konblok di lapangan sampai terkelupas tembok tebel sekitar 0,5 meter jebol jadi cukup membuat tubuh manusia terpontang panting,” kata Ifan, suami dari Dylan Sahara Puteri, korban tsunami yang ditemukan meninggal, dilansir Liputan6, Selasa (25/12/2018). 

Usai memakamkan istrinya di TPU Tamanarum, Ponorogo, Ifan pun melanjutkan ceritanya saat berupaya selamat dari tsunami. Menurut dia, saat itu hanya pertolongan Allah yang bisa menyelamatkannya. Dirinya sudah tak berdaya dan hanya berdoa. Malah Ifan merasa saat itu sudah dekat dengan kematian. Seingatnya, sekitar 2 jam dirinya terkatung-katung di laut. “Saya merasakan sakaratul maut,” kenang dia. Ifan pun meminta doa dari masyarakat Indonesia untuk para korban tsunami. Bukan hanya ditujukan kepada personil seventeen dan istrinya tapi juga ratusan korban lain.

“Saya minta doanya untuk semua korban agar diterima di sisi Allah SWT, diampuni dosanya dan ditempatkan di tempat yang mulia,” ujar dia. Usai menghantarkan istrinya diperistirahatan terakhir, Ifan pun kembali menuju rumah duka di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kepatihan, Ponorogo Jawa Timur. Sebelumnya, setelah dua hari tidak jelas kabar beritanya, istri Ifan Seventeen, Dylan Sahara, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah Dylan ditemukan di RSUD Pandeglang. Kabar meninggalnya Dylan dalam peristiwa tsunami Selat Sunda diungkapkan langsung Ifan dengan mengunggah kabar tersebut di media sosial. “Alhamdulillah kita udah semobil lagi yuk pulang yuk @dylan_sahara,” tulis Ivan Seventeen, Senin (24/12/2018) malam.

// Resmi Bubar

                Sementara itu, dari empat personel grup band Seventeen hanya tersisa satu, yakni Ifan (vokalis). Oleh karena itu, Ifan melalui akun Instagram pribadinya, mengucapkan terima kasih serta maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang pernah bekerjasama dengan Seventeen selama 20 tahun belakangan ini. "Teman-teman musisi Indonesia, maupun teman-teman sesama entertainer, kawan Seventeen Indonesia, para sahabat, event organizer, client product, music label, management, dan semua pihak yang pernah bekerjasa dengan @seventeenbandid," tulis Ifan, @ifanseventeen, pada keterangan foto dirinya bersama ketiga sahabatnya.



            Ifan mewakili ketiga sahabatnya menyampaikan permohonan maaf. "Mewakili mas Andi, mas Herman, dan mas Bani, kalau selama 20 tahun kurang 20 hari kami berkarya ada salah tutur kata maupun perbuatan yang kurang berkenan, aku memohon maaf yang sedalam-dalamnya," sambungnya. Di akhir tulisannya, Ifan meminta masyarakat mendoakan ketiga rekannya yang kini telah berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa. Tak lupa, Ifan menyatakan bahwa Seventeen undur diri dari panggung hiburan, tertanda dirinya dan sahabat sepanggung, sehidup, dan semati. "Minta tolong doanya buat mas Bani, mas Herman, dan mas Andi. Semoga mereka husnul khotimah dan ditempatkan di sisi Allah yang paling mulia. Pamit terima kasih dari kami. Sahabat sepanggung sehidup dan semati," tutup Ifan.(***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar