|
C
|
erita tentang grup band Seventeen mungkin akan terus dikenang
sampai waktu yang lama nanti. Saat band lain bubar karena personilnya mulai
memilih jalan berkarya yang lain, Seventeen bubar karena personilnya
meninggal dunia saat unjuk gigi. Hari Sabtu (22/12/2018) malam kemarin menjadi
hari bersejarah bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, terutama
bagi Seventeen. Grup band yang sudah berdiri selama hampir 20 tahun ini
menjadi korban tsunami yang menerjang kawasan Tanjung Lesung. Dari empat
personel Seventeen, tiga personel meninggal dunia dan hanya satu yang selamat.
Herman
(gitaris Seventeen), Bani (bassist Seventeen), dan Andi (drummer Seventeen)
meninggal, sementara ifan (vokalis) bisa selamat dari musibah. Tak hanya itu,
Seventeen juga kehilangan dua krunya yaitu Oki dan Ujang serta istri Ifan,
Dylan Sahara. Menanggapi musibah yang menimpa Seventeen, seseorang yang sempat
berjasa bagi eksistensi grup ini pun mengungkap sebuah kisah perjuangan anak
muda dari Yogyakarta yang sukses di panggung nasional ini.
Ia
adalah Dendy Renando, pria yang ikut membesarkan nama Seventeen setelah sempat
jatuh bangun. Dendy bertemu dengan Herman di sebuah toko baju miliknya di
Yogyakarta tahun 2004 silam dan memutuskan untuk ikut bergabung dengan Seventeen. Bukan sebagai personel band, Dendy adalah manajer Seventeen kala
itu yang berulang kali mencoba membuat karir Seventeen menanjak.
Dendy mengaku yakin pada Seventeen dan merasakan ikatan kuat dengan
para personelnya, saat itu vokalisnya masih Doni, belum Ifan. Sayangnya,
perjalanan mereka tak pernah mudah.
Tahun
2006, gempa mengguncang Yogyakarta yang merupakan basecamp dan tempat tinggal
para anggota Seventeen. Akibat
gempa itu, promosi album Seventeen terpaksa ditunda. Mereka memilih
untuk meyelamatkan keluarga dan membantu proses berbenah di kota tercinta itu.
Di tahun yang sama, Doni sang vokalis memutuskan keluar dari Seventeen. Keluarnya
Doni menjadi salah satu ganjalan yang dihadapi, saat itu Doni banyak
menciptakan lagu untuk Seventeen. Tak lama setelah Doni keluar, Ifan
bergabung sebagai vokalis Seventeen dan
tahun 2007, mereka meluncurkan lagu baru.
Lagi-lagi
karier Seventeen tak mulus, banyak label rekaman
yang menolak lagu demo mereka hingga masing-masing personel memutuskan untuk
vakum dan bekerja yang lain. Di saat sulit itu, Ifan paling bersemangat dan
punya harapan besar bagi Seventeen hingga tahun 2008 mereka
berhasil mendapat kontrak dari label Mi2 Music Production.
Berkat
album Lelaki Hebat dengan lagu andalan Selalu Mengalah, nama Seventeen mulai dikenal dan kehidupan mereka pun berubah jadi lebih baik. Mereka
bisa membeli mobil operasional, mengganti instrumen musik yang lebih baik dan
bisa mengintrak rumah untuk basecamp sementara di Jakarta. Hari-hari
berlangsung begitu cepat dengan semua jadwal dan kesibukan Seventeen bernyanyi
di sana-sini.
// 17 Januari 2019 Rencana Rilis Konser 20
Tahun dan Film Dokumenter
Meski
banyak anggota yang kemudian menikah dan menjadi suami serta ayah, Seventeen
tak pernah berubah. Dedikasi Herman, semangat Ifan, canda dari Bani dan Andi
selalu mewarnai hari-hari mereka. Dendy juga bercerita kalau sebenarnya, 17
Januari 2019 nanti mereka berencana menggelar konser 20 tahun Seventeen dan
merilis film dokumenter tentang perjalanan mereka. Sayangnya, Seventeen harus
pamit undur diri.
Bukan
karena mereka sudah malas bermusik atau bosan satu sama lain, tapi karena maut
mejemput Herman, Bani, dan Andi lebih dulu. Ifan tak sendirian, tak akan pernah
sendirian karena banyak orang yang mendukungnya dan akan selalu menguatkan
langkah kakinya ke depan nanti. Tsunami Banten seolah ingin beritahu Ifan,
Seventeen berakhir bukan karena tak setia, tapi justru sangat solid sampai
hanya maut yang memisahkan mereka berempat.
// Survive di Tengah Tsunami, Ifan
Rasakan ‘Sakaratul Maut’
Diketahui, satu-satunya personel
Seventeen yang selamat dari bencana tsunami Selat Sunda, Riefian Fajarsyah
alias Ifan vokalis band Seventeen menceritakan bahwa dirinya juga turut
merasakan hantaman tsunami dari laut Selat Sunda tersebut. Dia pun mengaku syok
saat tsunami menghantam panggungnya malam itu. Saat itu jangankan dirinya, bata
di jalan pun terbongkar keluar ikut menghantam apapun yang ada di depannya.
“Ketinggian air 5 meter jadi saya
nggak bisa menggambarkan, konblok di lapangan sampai terkelupas tembok tebel
sekitar 0,5 meter jebol jadi cukup membuat tubuh manusia terpontang panting,”
kata Ifan, suami dari Dylan Sahara Puteri, korban tsunami yang ditemukan
meninggal, dilansir Liputan6, Selasa (25/12/2018).
Usai memakamkan
istrinya di TPU Tamanarum, Ponorogo, Ifan pun melanjutkan ceritanya saat
berupaya selamat dari tsunami. Menurut dia, saat itu hanya pertolongan Allah
yang bisa menyelamatkannya. Dirinya sudah tak berdaya dan hanya berdoa. Malah
Ifan merasa saat itu sudah dekat dengan kematian. Seingatnya, sekitar 2 jam
dirinya terkatung-katung di laut. “Saya merasakan sakaratul maut,” kenang dia.
Ifan pun meminta doa dari masyarakat Indonesia untuk para korban tsunami. Bukan
hanya ditujukan kepada personil seventeen dan istrinya tapi juga ratusan korban
lain.
“Saya minta doanya
untuk semua korban agar diterima di sisi Allah SWT, diampuni dosanya dan
ditempatkan di tempat yang mulia,” ujar dia. Usai menghantarkan istrinya
diperistirahatan terakhir, Ifan pun kembali menuju rumah duka di Jalan Yos
Sudarso, Kelurahan Kepatihan, Ponorogo Jawa Timur. Sebelumnya, setelah dua hari
tidak jelas kabar beritanya, istri Ifan Seventeen, Dylan Sahara, akhirnya
ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah Dylan ditemukan di RSUD
Pandeglang. Kabar meninggalnya Dylan dalam peristiwa tsunami Selat Sunda
diungkapkan langsung Ifan dengan mengunggah kabar tersebut di media sosial.
“Alhamdulillah kita udah semobil lagi yuk pulang yuk @dylan_sahara,” tulis Ivan
Seventeen, Senin (24/12/2018) malam.
// Resmi Bubar
Sementara itu, dari empat personel grup band Seventeen
hanya tersisa satu, yakni Ifan (vokalis). Oleh karena itu, Ifan melalui akun
Instagram pribadinya, mengucapkan terima kasih serta maaf yang sebesar-besarnya
kepada siapapun yang pernah bekerjasama dengan Seventeen selama 20 tahun
belakangan ini. "Teman-teman musisi Indonesia, maupun teman-teman sesama
entertainer, kawan Seventeen Indonesia, para sahabat, event organizer, client
product, music label, management, dan semua pihak yang pernah bekerjasa dengan
@seventeenbandid," tulis Ifan, @ifanseventeen, pada keterangan foto
dirinya bersama ketiga sahabatnya.
Ifan mewakili ketiga sahabatnya menyampaikan permohonan maaf. "Mewakili mas Andi, mas Herman, dan mas Bani, kalau selama 20 tahun kurang 20 hari kami berkarya ada salah tutur kata maupun perbuatan yang kurang berkenan, aku memohon maaf yang sedalam-dalamnya," sambungnya. Di akhir tulisannya, Ifan meminta masyarakat mendoakan ketiga rekannya yang kini telah berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa. Tak lupa, Ifan menyatakan bahwa Seventeen undur diri dari panggung hiburan, tertanda dirinya dan sahabat sepanggung, sehidup, dan semati. "Minta tolong doanya buat mas Bani, mas Herman, dan mas Andi. Semoga mereka husnul khotimah dan ditempatkan di sisi Allah yang paling mulia. Pamit terima kasih dari kami. Sahabat sepanggung sehidup dan semati," tutup Ifan.(***)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar