Minggu, 30 Desember 2018

Muslihan DS dan Heliardo Calon Wagub


BENGKULU, SH – Ternyata tidak semua parpol pengusung menunjukan riak ingin mengusung kadernya menuju kursi wagub. Bisa karena beban etika politik atau belum solidnya dukungan terhadap kader tertentu di kalangan internal partai. Berbeda dengan PKB dan Hanura yang nampak sudah satu kata ingin mengusung masing-masing ketuanya, PKB untuk Heliardo dan Hanura untuk Muslihan DS.  

                Jika dilihat dari aturan parpol, partai yang paling berhak mengusulkan calon Wakil Gubernur untuk mendapingi Rohidin Mersyah adalah partai pengusung. Parpol tersebut yakni PKB, Hanura, PKPI, dan Nasdem selebihnya hanya berstatus sebagai pendukung, PAN, Gerindra, PPP, dan Golkar. PKB sedari awal sudah mengadang-gadang Heliardo untuk mendampingi Rohidin di sisa masa jabatan 2018-2020. Mantan ketua Tim sukses pasangan Ridwan Mukti-Rohidin Mersyah itu diyakini memiliki kapasitas untuk mengisi jabatan cawagub. Bahkan akhir-akhir ini dukungan kepada Heliardo bermunculan terutama dari kalangan muda nahdyin yang ingin menyandingkan Rohidin Mersyah yang notabene kader muhammadiyah dengan Heliardo yang warga NU. 

Heliardo selaku ketua DPW PKB tentunya memiliki hak ‘lebih’ diinternal partai. Begitu juga bargaining politik dengan sesama partai pengusung lain seperti Nasdem, Hanura, dan PKPI, lebih-lebih dibanding partai pendukung. Partai PKB satu-satunya parpol yang tidak ragu mendukung Ridwan Mukti bahkan menjadi pioner membangun konsolidasi politik untuk mendukung pasangan RM2. Heliardo juga didaulat sebagai ketua tim pemenangan, posisi itu tentu semakin mentasbihkan posisi politiknya terutama dihadapan Rohidin Mersyah. Jasanya selaku nahkoda di pertempuran sengit pilwagub lalu harus wajib dipertimbangkan. 

Mantan anggota DPRD Provinsi Bengkulu itu memang terkenal dengan pembawaan yang kalem dalam politik namun, jam terbang politiknya sudah tidak diragukan lagi, termasuk kemampuan menggotong partai PKB ke jajaran parpol elit di Bengkulu. Analisis lain, komposisi politik tradisional yang merujuk pada representasi kesukuan terbesar di Provinsi Bengkulu, Serawai-Rejang. Heliardo berdarah Rejang asli dari Kepahiang sedangkan Rohidin Mersyah putra asli Bengkulu Selatan representasi dari Suku Serawai. Tanpa mengkesampingkan suku lain yang mungkin lebih besar, klop rasanya ketika Heliardo ini diusul mendampingi Rohidin.  

Sosok Heliardo sangat solid didukung internal partai, ketika hak PKB digunakan untuk pilwagub maka, satu-satunya yang tokoh yang paling mungkin disodorkan adalah Heliardo. Walaupun di jajaran elit PKB terdapat nama yang tak kalah kenamaan, Leni Haryati Jhon Latief. Namun Leni Haryati tidak mungkin mampu bermanuver teralu jauh karena gayung perahu ada di tangan Heliardo, kecuali restu diberikan. “Saya kira kalau PKB inginnya bang Heliardo untuk wagub, beliau sosok penganyom tidak membeda-beda, saya saja yang baru bergabung di PKB mendapat perlakuan yang sama dengan kader-kader lain, itu bukti ketauladanan yang melekat pada beliau, Insyallah kalau kita 100% dukung beliau” Ucap Aurego Jaya. 

Aurego juga memberi statmen yang menjamin kemampuan personal Heliardo untuk menjawab kebutuhan pembangunan di Provinsi Bengkulu. Menurutnya sosok Heliardo memiliki pengalaman  di pemerintahan daerah sebagai anggota DPRD Provinsi Bengkulu periode 2009-2014. Sewaktu menjabat anggota DPRD Heliardo banyak bersentuhan dengan kaum muda, masalah kesehatan dan pendidikan. Heliardo adalah anggota DPRD Provinsi Bengkulu di komisi IV yang memang membidangi masalah-masalah itu. “kalau pengalaman tidak perlu diragukan beliau mantan anggota DPRD, lebih lagi tugas wagub itu mirip dengan tugas DPRD dalam Undang-undang, lebih pressing ke pengawasan jalannya roda pembangunan , saya kira beliau orang yang paling tepat” tambah Aurego.

Satu-satunya yang menjadi titik lemah Heliardo kemampuan membangun konsolidasi dengan anggota DPRD yang nanti akan menjadi pemilih. Bila merujuk pada aturan pengisian kekosongan jabatan wakil kepala daerah DPRD-lah yang punya hak pilih menentukan wakil gubernur. Proses pemilihan di DPRD akan berjalan setelah mereka menerima dua nama dari gubernur Rohidin untuk dipilih melalui rapat paripurna. Kedua nama yang dipilih gubernur itu adalah nama-nama hasil usulan partai pengusung. “kalau menilainya coz politik tentu beliau orang yang paling lemah tapi kita harus menjauhkan persepsi buruk itu dari teman-teman DPRD, saya kira konsolidasi politik tidak melulu urusan uang namun tanggungjawab mereka sebagai wakil rakyat itu juga patut diapresiasi, mari hilangkan negatif thinking, kompetisi pilwagub harus berjalan bermartabat dan bebas politik uang” Kata Aurego. 

// Hanura dan Muslihan DS 

                Diketahui bersama, Hanura adalah partai utama di koalisi dukungan RM2, bersama-sama PKB Hanura menjadi partai pendukung pertama pasangan RM2. Hanura memiliki posisi politik yang sama-sama strategis dengan PKB, sekretaris DPD Hanura Usin Abdisyah Putra Sembiring bahkan ditunjuk sebagai sekretaris Tim Pemenangan pasangan RM2. Usin menjadi konseptor dibalik kemenangan Ridwan Mukti-Rohidin Mersyah, mantan aktifis 98 itu menjadi main konsep bersama-sama dengan konsultan politik RM2. Jasa Hanura menghantarkan kemenangan RM2 sudah tidak bisa diragukan lagi. 

                Hanura memiliki kader-kader yang sangat mumpuni untuk mengisi kursi wagub. Sebut saja David Suardi yang saat ini bergabung dengan Hanura pasca pilwakot, Edy Ryanto pengusaha yang kini juga menjadi kader Hanura. Ada tokoh srikandi Hanura Rini Susanti Caleg Hanura yang akan bertarung di DPR RI. Namun, tokoh-tokoh Hanura itu diyakini belum mampu mengalahkan kharisma Ketua DPD Hanura, Muslihan Diding Sutrisno. Dalam berbagai kesempatan Hanura terlihat menyematkan pesan politik untuk mengusung sang ketua DPD sebagai calon wagub. 

                Mantan Bupati Bengkulu Utara dan Rejang Lebong itu memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat untuk diusulkan sebagai cawagub. Pak Mus sapaan akrabnya, masih menjadi tokoh utama apabila Hanura berniat menggunakan haknya di pilwagub mendatang. Pengalaman sebagai kepala daerah di dua kabupaten berbeda adalah modal besar yang dimiliki Muslihan DS dan itu hanya ada di Muslihan DS, sebuah pengalaman yang sulit digapai siapapun di era sekarang. Mayoritas masyarakat Bengkulu mengenal Muslihan DS, pertama karena aktifitas politik , kedua karena beliau pernah menjadi ‘raja’ hampir di 60% teritorial wilayah Provinsi Bengkulu. 

                Berbicara pengalaman birokrasi Muslihan DS adalah mbahnya, demikian hal dengan kemampuan konsolidasi politik. Purnawiran Angkatan Darat itu berkali-kali mengisi headline media massa di Bengkulu karena aktifitas politiknya seperti pernah menjadi calon gubernur dan anggota DPR RI. Walaupun Muslihan DS belum beruntung namun great politik Muslihan DS di Bengkulu bisa disimpul bernilai A+. Kelebihan lain, Muslihan DS adalah mantan Bupati yang sudah terbiasa dan matang ketika nanti harus berhadapan di sisitem pilwagub di DPRD.

                Sinyal dari gedung daerah juga demikian, Gubernur Rohidin nampaknya lebih condong ke sosok Muslihan DS. Ada banyak faktor, Muslihan DS diyakini tidak memiliki niat politik lain kecuali kursi wagub. Sosoknya bisa disebut sebagai tokoh netral karena bisa diterima semua kalangan. Apabila Muslihan DS menjadi wagub maka dia akan memainkan dua peran sekaligus, sebagai wakil gubernur bisa juga berperan sebagai penasehat pemerintahan. 

                Baru-baru ini sinyal itu semakin menguat, Rohidin Mersyah menghadiri dan membuka resmi pebekalan calon anggota legislatif Hanura di yang digelar di Kota Bengkulu. Di acara itu juga bermunculan selentingan untuk memasangankan Rohidin Mersyah dengan Muslihan DS. Rahman Tamrin, salah satu caleg Hanura yang ikut pembekalan bahkan meminta Pak Muslihan untuk mendengarkan suara kader Hanura yang menginginkannya maju cawagub. Permintaan Rahman Tamrin hampir diamini seluruh peserta pembekalan. “kami mendukung penuh pak Mus untuk ke kursi wagub beliau pemimpin kharismatik yang sangat pas untuk wagub, berpengalaman, bukan hanya itu beliau tokoh Bengkulu yang sudah banyak berjasa untuk Provinsi ini, saya kira sangat tepat ketika pak Mus berdampingan dengan pak Rohidin” ujar Rahman Tamrin. 

                Dukungan sosio-politik juga dimiliki Muslihan DS, selaku tokoh jawa sosok Muslihan merepresentasikan salah satu suku mayoritasi di Provinsi Bengkulu. Berpasangan dengan Rohidin adalah kolaborasi yang pas sekaligus menjadi kebiasaan perpaduan politik di Bengkulu. Duet Serawai-Jawa, Rejang-Serawai, Jawa-Rejang ataupun kebalikannya seakan sudah menjadi pakem politik konvensional di Bengkulu. Tanpa bermaksud memasyarakatkan politik identitas tapi fakta-fakta itu terjadi di Bengkulu dan masih laku di sebagian kalangan. 

                “Pak Mus tokoh jawa, beliau juga kaya prestasi baik di waktu aktif di militer ataupun karirnya sebagai kepala daerah, kepemimpinannya sangat berkarakter penuh wibawa dan itu penting untuk Bengkulu hari ini” ujar Tamrin. Dukungan boleh saja bermunculan terhadap kedua tokoh itu namun, fakta politik hari ini keduanya belum menyatakan sikap secara resmi, siap atau tidak. Konsolidasi politik mungkin terus dibangun namun publik butuh kepastian dari partai-partai pengusung siapa sebenarnya yang akan mereka usul. Desakan ini wajar saja terjadi karena mengingat waktu yang terus berjalan. Jabatan gubernur dan wakil gubernur akan berakhir Februari 2020. Artinya waktu 18 bulan yang diamanat konstitusi bisa saja terancam hangus bila parpol pengusung belum juga sekata. 

                Sementara Itu, untuk diketahuii bersama, Pilwagub harus segera dijelang agar roda pembangunan tetap terjaga di track-nya, seminimal tak mundur. Penundaan akan berdampak serius terutama keseimbangan dalam menjalankan agenda kebijakan pemerintah daerah. Partai pengusung punya tanggungjawab penuh demikiana juga Rohidin Mersyah selaku Gubernur yang punya hak preogratif bertahap. Begitu pula DPRD, selaku wakil rakyat harus segera menentukan pilihan agar suara rakyat tidak tersandra pada stigma kotor para penyambung suara rakyat. Demikian ucap Taufik Hidayat, Aktifis Gempur Bengkulu.

                “Kita harus menjauhkan agenda pilwagub dari kesesatan berpikir seperti narasi-narasi yang mengarahkan calon wagub pada pemenuhan unsur-unsur keterwakilan baik golongan atau kelompok politik tertentu, Pilwagub harus merujuk pada konteks Bengkulu hari ini, tidak boleh menyodorkan calon yang hanya ideal dalam tataran normatif namun harus berorientasi pada solusi alternatif terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi Provinsi Bengkulu, seperti minimnya serapan anggaran” ujar Taufik

                Taufik menuturkan, calon wagub harus memiliki visi membangun yang lebih frontal ketimbang pemimpin sebelumnya. Wagub harus memiliki visi yang relatif gila dan menghindari mazhab zona nyaman karena penganut zona nyaman sudah terbukti tidak mampu membawa terobosan berarti bagi pembangunan. Ia juga menyinggung pola politik representasi yang dihadirkan pada agenda pilwagub, menurutnya pola seperti itu jelas gagal memenuhi kebutuhan rakyat Bengkulu secara utuh. 

                Menurut Taufik, waktu pengisian kekosongan jabatan wagub semasa jabatan Gubernur Junaidi Hamsyah. Ia menjelasakan, pola pengisian wagub waktu itu hanya didasar pada unsur representasi terutama soal kesukuan, Rejang-Serawai dan politik balas budi. Ia melihat kolaborasi gubernur dan wagub waktu itu tidak berdampak apa-apa bagi pembangunan. “Kejadiannya sama dengan tahun 2013, kita harus belajar dari masa lalu, mari buka mata buka telinga masih banyak putra terbaik daerah ini yang kompeten untuk mengisi jabatan wagub, parpol tidak boleh intervensi suara publik melalui hak-hak konstitusi yang dimiliknya. Saya sarankan partai pengusung tidak boleh ngotot dengan hasrat politiknya, mari berbicara pro pembangunan bukan pro politik representasi apalagi menawarkan politik balas budi yang jelas konvensional dan feodal” tambahnya.

                Sebelumnya, Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah secara resmi telah menjabat gubernur definitif. Rohidin dilantik presiden Joko Widodo di istana negara unutk menggantikan Ridwan Mukti yang saat ini mendekam di Penjara. Dengan demikian jabatan wakil Gubernur Bengkulu mengalami kekosongan. Maka, sesuai dengan ketentuan UU Pemerintah Daerah, partai pengusung di pilkada terakhir harus mengusulkan calon wakil gubernur untuk mengisi kekososngan jabatan wagub. Partai-partai pengusung pencalonan Ridwan Mukti-Rohidin Mersyah di pilkada lalu seperti Nasdem, Hanura, PKB dan PKPI memiliki hak untuk mengusulkan calon wakil gubernur. Hak itulah yang sampai saat ini belum digunakan oleh partai. 

                “Partai harus sesegara mungkin mengambil hak konstitusinya jangan sampai kadaluarsa, aturanya 18 bulan, kalau kurang dari itu maka hak itu hangus, itu amanat rakyat yang harus dipenuhi oleh parpol tidak boleh berleha-leha. Saran saya parpol mengajukan kader yang benar-benar susuai dengan kebutuhan pembangunan, tidak mesti pimpinan bisa juga tokoh independen tapi jangan juga disandera, yang penting calon yang disodorkan bisa menjawab arus besar suara rakyat yang menginginkan perubahan” lanjutTaufik

                Kekhawatiran Taufik pada politik balas budi di Pilwagub mendatang didasari pada narasi-narasi politik yang selama ini dihadirkan di hadapan publik. Mayoritas statmen yang muncul  berkaitan erat dengan politik balas budi yang fokus pada estimasi keterwakilan kelompok dan golongan. Taufik juga menyinggung isu yang berkembang di tengah agenda pilwagub yaitu munculnya nama sosok yang diduga memiliki hubungan kekeluargaan dengan mantan gubernur sebelumnya. Taufik meminta parpol untuk benar-benar selektif dalam menentukan cawagub. 

                “Untuk pilwagub saya belum melihat wacana yang membahas tentang jawaban atas kebuntuan pembangunan, apalagi berbicara visi misi yang bisa ditawarkan kepada publik, yang hadir justru kajian-kajian teoritis yang berbau kepentingan kelompok tertentu yang sama sekali tidak merepresentasikan suara publik. Terakhir saya ingin mewarning parpol pengusung untuk tidak memainkan politik balas budi yang akan bermuara pada madeknya roda pembangunan, jangan sampai beli kucing dalam karung dua kali” Tutup Taufik.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar