BENGKULU, SH - Fenomena Likuifaksi
di Sulawesi Tengah akibat gempa magnitudo 7,5 dan tsunami pada 28 Oktober 2018
jadi perhatian masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Dampak Likuifaksi Palu memakan banyak korban.
Bukan hanya meterial namun juga nyawa. Sebagian harus kehilangan sanak keluarga
yang ‘tertelan’ bumi hingga tak dapat melihat walau hanya pada kondisi jenazah
terakhir.
Plt gubernur Bengkulu, H. Rohidin Mersyah
menuturkan, kondisi bangunan-bangun yang seluruhnya bergeser dan sebagian besar
tenggelam. Yang membuat merinding, masih banyak jenazah yang tidak berhasil
dievakuasi lantaran sulit menembus struktur tanah yang sudah mengeras bercampur
dengan tembok-tembok beton. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, sebagai
penanda adanya korban yang tidak bisa dievakuasi.
Menurut Rohidin, fenomena likuifaksi Palu
sangat dahsyat dan ia meyimpulkan bahwa kejadian ini amat sangat langka. Bukan
hanya di Indonesia, bahkan juga di dunia sehingga ini patut atau layak
dipelihara dengan salah satunya dijadikan “Musium Alam Likuifaksi”.
Bukan karena lokasi pemukiman tersebut sulit
dibangun kembali dengan bangunan yang sama, namun lebih kepada ‘menyematkan’
fenomena ini sebagai simbol ‘sejarah keganasan alam’ yang pernah terjadi di
Palu Sulawesi Tengah Indonesia.
Rohidin mencontohkan Musium Kobe di Jepang.
Semua yang terkait dengan bencana dikumpulkan dan dibuat narasi bahkan dibuat
film sehingga menjadi musium yang sangat terkenal dan ramai didatangi
masyatakat dunia. Tentu bukan hanya berwisata, numun juga jadi pusat
pemberlajaran dan penelitian.
Rohidin menambahkan, satu-satunya ‘Musium
Alam Likuifaksi’ di dunia banyak manfaat yang akan dipetik jika ini bisa
direalisasikan. Selain akan jadi pusat penelitian ahli gempa dunia, juga akan
jadi objek penelitian ahli gempa di Indonesia melakukan studi.
Selain itu, juga akan jadi pembelajaran bagi
generasi yang akan datang. Bahwa kita pernah pengalami fenomena alam yang amat
sangat dahsyat dan meninggalkan kepiluan. Dan pasti ini akan fenominal
dikemudian hari.
Tentu juga bisa menjadi tempat ziaroh bagi
anak cucu korban. Bukan hanya bagi yang memiliki hubungan kekerabatan atau
hubungan darah semata namun juga sebagai pengingat pada seluruh umat manusia
bahwa kita harus pintar-pintar bersyukur dan menjaga alam ini secara baik dan
bijak untuk menghindari ‘kemarahan’ alam.
Menurut Geolog
dari Saint Louis University John Encarnacion, kejadian Likuifaksi Palu
termasuk fenomena paling ‘seram’ sepanjang terjadinya hal yang sama di beberapa
negara di dunia.
Menurut John, banyak suara-suara aneh terdengar,
yang pada awalnya justru ia sempat berpikir peristiwa di dalam salah satu video
yang sempat viral di media sosial tersebut adalah tsunami.
Fenomena likufaksi juga pernah terjadi di
beberapa negara seperti di Niigata, Jepang, salah satu peristiwa likuifaksi
yang sempat menggemparkan dunia seperti dikutip dari USGS. Dampaknya, bangunan
apartemen amblas.
Peristiwa ini terjadi pada 16 Juni 1964
pascagempa bermagnitudo 7,5 dan dilaporkan sekitar 2.000 rumah hancur total.
Gempa bermagnitudo 6,3 sempat juga terjadi
pada tanggal 25 Februari 2011 yang mengakibatkan likuifaksi di Christchurch,
Selandia Baru. Sesuai dengan yang dilansir dari The New Zealand Herald,
sejumlah bangunan rusak.
Kejadian yang sama juga terjadi di Pohang,
Korea Selatan. Fenomena ini terjadi tanggal 15 November 2017. Namun likuifaksi
yang terjadi tidak menimbulkan kerusakan signifikan di Pohang.
Kendati lima wilayah telah terkena pencairan
tingkat keseriusan dari empat lainnya bahkan lebih rendah sesuai lansiran Korea
Times, Kementerian Dalam Negeri dan Keselamatan Korsel.
Dilansir dari USGS, San Francisco, Amerika
Serikat Sebuah rumah di Mission District San Francisco juga pernah mengalami
kerusakan akibat likuifaksi yang terjadi akibat gempa bumi pada 18 April tahun
1906. Guncangan gempa menyebabkan isi buatan mencair dan kehilangan
kemampuannya untuk menyangga rumah.
Likuifaksi juga terjadi di Dore Street, San Francisco di periode
yang sama. Rumah-rumah di lokasi amblas kendati diketahui bahwa daerah tersebut
dulunya merupakan tanah rawa.
Likuifaksi merupakan kejadian yang ‘menakutkan’ yang lumrahnya terjadi pasca gempa setelah tsunami.
Kembali pada fenomena likuifaksi Palu,
ternyata pada 2012 sudah ada riset yang menghasilkan Peta Zona Bahaya
Likuifaksi untuk daerah Palu dan sekitarnya. Dan ternyata peta tersebut sudah
diserahkan pada pemda setempat menurut lansiran Tempo yang disampikan oleh
peneliti Geologi Teknik dari Pusat Air Tanah Dan Geologi Lingkungan Badan
Geologi, Taufik Wira Buana.
Menurut Taufik sangat tinggi, tinggi, dan rendah.
Itu probabilitas kejadiannya. Kalau tinggi, dia berpotensi sekali terjadi
likuifaksi.
Kesimpulannya, secara saintifik kejadian di
Palu sudah diprediksi karena beberapa tanda-tanda yang sudah didapatkan dari
hasil kajian ilmiah. Namun lagi-lagi bencana alam, hanya mampu diprediksi namun
timing kejadiannya sulit diperkirakan secara ‘tepat’.(doc MC/frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar