![]() |
| Satgas Pangan Mobil di Banten dan Jakarta |
BENGKULU, SH – Dalam pertumbuhan
ekonomi daerah, Bengkulu bisa jadi kalah dibanding Provinsi DKI Jakarta. Namun
dalam cara menstabilkan harga pangan untuk masyarakat, terkhusus beras medium,
Bengkulu menjadi contoh bagi daerah ibu kota Indonesia ini.
Setidaknya itulah yang dilakukan dan
diyakini Kepala Divre Bulog DKI dan Banten, Dedi Sabetra. Mantan Kepala Divre
Bulog Bengkulu ini mengaku mengadopsi sejumlah cara yang pernah ia lakukan saat
di Bengkulu dalam menciptakan stabilitas harga pangan masyarakat.
Hasilnya pun bisa dibilang cukup jitu.
Saat jelang puasa, hingga hari raya Idul Fitri lalu, harga kebutuhan pangan di
Bengkulu stabil.
Tidak ada gejolak krisis harga pangan
yang sebelumnya sempat dikhawatirkan karena permintaan yang tinggi pada
masa-masa itu. Bahkan, BPS Bengkulu mencatat pada kurun waktu itu (Mei, Juni
dan Juli 2018) inflasi di Bengkulu di bawah 1%. Dimana kelompok bahan pangan
menyumbang inflasi terkecil.
Kepala Divre Bulog DKI dan Banten, Dedi
Sabetra (berdiri) melakukan rapat dahulu bersama Satgas Pangan DKI (Reskrimsus
Polda Metro Jaya) sebelum melakukan aksi turun ke lapangan. Sejumlah strategi
dan rencana yang akan ia lakukan dalam menstabilkan harga pangan di DKI.
Terlebih jelang akhir tahun ini.
“Apa yang sudah saya lakukan di
Provinsi Bengkulu saat menjadi Kadivre Bulog di sana, saya lakukan juga di DKI.
Jika di Bengkulu pola ini berhasil dalam menstabilkan harga pangan maka saya
sangat berkeyakinan Insya Allah di DKI juga akan berhasil,”
kata Dedi.
Beberapa strategi yang juga telah ia
terapkan di Bengkulu sebelumnya itu yakni, melakukan kemitraan dengan sejumlah
pihak terkait. Kemudian, membangun komitmen bersama dalam menciptakan
stabilitas pangan bagi masyarakat.
“Kegiatan operasi pasar (OP) adalah
rutinitas yang Bulog lakukan. Namun dengan menjalin kemitraan dan membangun
komitmen bersama menjadi kunci dari keberhasilan program OP yang dilakukan
tersebut,” jelasnya.
“Singkatnya kita memberikan
penguatan-penguatan tambahan dari OP yang dilakukan. Sehingga kegiatan itu
tepat sasaran dan berjalan efektif,” ujarnya.
Dedi mengatakan pihaknya menjalin
kerjasama dengan PD Pasar Jaya serta Tim Satgas Pangan dari Bareskrim Polri
untuk menjamin kegiatan OP berjalan sesuai harapan. Kerjasama ini adalah
sinergitas Bulog dengan lembaga lain sebagai penguatan untuk menjamin
stabilitas pangan di masyarakat.
Kadivre dan 3 Kasubdivre Wilayah DKI – Banten
foto Bersama Tim Satgas Pangan.
Ada empat kegiatan OP dalam sinergitas
yang dilakukan Bulog DKI. Pertama melakukan OPdari pasar ke pasar lewat jalur
Satgas Pangan. Kedua, OP dari kemitraan BUMD DKI.
Ketiga OP ke pemukiman-pemukiman
masyarakat lewat jalur ekonomi kerakyatan Rumah Pangan Kita (RPK) dan keempat
Bulog bersama BUMD Pemda memiliki toko di sejumlah pasar dalam rangka supply
komoditi ke masyarakat dan para pedagang.
“Semua kegiatan OP langsung saya
gerakan dalam rangka menjaga stabilitas pangan. Hasilnya sudah mulai terlihat
dimana harga beras medium mengalami penurunan,” jelasnya.
“Terkhusus pada poin keempat pada
kegiatan OP ini, mulai Jum’at (30/11/18) akan dibuka Toko Pangan Kita Jaya. Ada
12 toko yang dibuka dari 24 pasar pantauan BPS,” tandasnya.
Adapun lokasi 12 pasar yang ada toko
pangan ini yaitu, Pasar Senin, Jati Negara, Pal Merah, Keramat Jati, Tomang
Barat, Glodok, Tanah Abang, Klender, Anyar Bahari, Atom, Kebayoran Lama dan
Rawa Badak. Sinergita Bulog dengan Satgas Pangan serta PD Pasar Jaya bisa
sebagai role model ke depannya.
“Untuk menjamin stabilitas pangan di masyarakat, perlu
ada toko punya Negara yang ada di pasar. Gunanya untuk menyuplai pangan pokok
yang sangat mempengaruhi inflasi ke pasar. Baik langsung pelayanan ke
masyarakat dan juga para pedagang pengecer. Sehingga stock ada terus, supply
tidak terputus sehingga harga pangan pokok selalu stabil,” jelas Dedi.
// Satgas Pangan Mobil
Kemitraan Bulog DKI dan PD Pasar Jaya
dalam upaya menstabilkan harga beras medium dan komoditi lainnya dilakukan
secara masif dan setiap hari. Disamping itu juga ada Satgas pangan mobil yang
membuka tenda jualan di pasar.
Pola ini terang Dedi, dilakukan Bulog
DKI bersama Satgas pangan berjualan beras OP untuk melayani kebutuhan
masyarakat dan pedagang. “Untuk harga beras OP medium yang kita jual di dalam
tenda mobil ini untuk ke pedagang Rp 8.250 per Kg. Sedangkan untuk harga ke
masyarakat Rp 8.500 per Kg. Harga ini khusus untuk wilayah DKI dan Banten.
Untuk menjamin, kelancaran dan
pengamanan dalam penjualan beras ke masyarakat ini, Bulog diback-up oleh Satgas
pangan secara prefentiv. “Siapa yang macam-macam maka akan langsung ditindak
oleh tim Satgas pangan dari unsur Kepolisian,” jelasnya.
Tim Satgas pangan bersama dengan Bulog
juga kerap melakukan monitoring dan pengawasan ke pasar-pasar untuk memastikan
distribusi pangan berjalan dan harga terjangkau oleh masyarakat.
“Dengan cara ini Isnya Allah distribusi
pangan ke masyarakat akan stabil dan harga terjangkau,” tutupnya.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar