Minggu, 16 Desember 2018

Banjir Parah, Warga Perumnas Bumi Mas Demo BTN dan Developer

BENGKULU, SH – Puluhan warga perumahan nasional (Perumnas) Bumi Mas 1 Kelurahan Bentiring Kecamatan Muara Bangka Hulu Kota Bengkulu pukul 09.00 WIB, Selasa pagi (11/12/18) berdemo ke kantor Bank Tabungan Negara (BTN) Bengkulu. Kedatangan puyluhan Kepala Keluarga ini mempotes rumah mereka yang kebanjiran saat hujan deras mengguyur Kota Bengkulu, pada Senin sore hingga Senin malam (10/12/18).

 

Salah satu warga mengatakan, air menggenangi kawasan rumah mereka hingga setinggi lutut orang dewasa.

 

“Air tadi malam setinggi lutut masuk rumah. Bahkan ada sebagian rumah yang berada disitu terndam air setinggi dada,” ujarnya.

 

Abdul Rahman (50) menceritakan, warga menuntut banjir tersebut segera diatasi segera dan kedepannya tidak terulang lagi. Selama ini Perumahan Bumi Mas 1 terparah terendam banjir. Dirinya yang hampir setahun lebih menghuni perumahan tersebut merasakan setiap hujan deras pasti merasa was-was dan ketakutan sebab perumahan tempat tinggal mereka selalu kebanjiran. Puncaknya Senin malam (10/11/18), air sangat tinggi menggenangi perumahan mereka.

 

Akibatnya banjir ini, sebagian dari mereka mengalami kerugian hin gga puluhan juta rupiah akibat barang-barang elektronik, kendaraan, serta ternak terendam banjir.

 

“Pernah mengadu kedepolover, namun tidak ada solusinya tidak ditanggapi serius,” tukasnya.

 

Abdul Rahman menambahkan, saat membeli rumah di perumnas tersebut, warga dijanjikan rumah layak huni dan bebas banjir. Kedua belah pihak pengembang dan pembeli rumah sudah menandatangani 9 item perjanjian, termasuk perjanjian bebas banjir. Kenyataannya rumah yang mereka saat ini tidak layak huni, bahkan ada terdapat bangunan yang miring karena berdiri di atas derah rawa-rawa timbunan.

 

Untuk diketahui, sebelumnya pihak deplover sudah menjanjikan biaya ganti rugi/kompensasi sebesar Rp 8 hingga Rp 10 juta per rumah. Tergantung ketinggian air yang merendam rumah dengan pencairan bertahap perminggu, namun warga tetap mau pindah bahkan ingin melalkukan over kredit, namun permasalahnya rumah yang mereka tempati tak bias di over kreditkan karena belum berjangka 5 tahun sebagai syarat untuk melakukan over kredit sebagaimana yang tertuang dalam akad pembelian perumahan.

”Percuma ada kompensasi kalau setiap hujan banjir lagi. Kami mau pindah saja” cetus Rahman.

 

Setelah beberapa lama berdemo di depan Bank BTN, beberpa perwakilan diajak berdiskusi oleh pihak Bank. Tak lama itu, salah satu perwakilan warga yang masuk menemui manajemen BTN menemui pendemo. Rasmin salah satu perwakilan warga yang ikut masuk mengatakan, warga sudah mengusulkan perbaikan Drainase. Karena drainase merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dalam rancangan perencanaan pembangunan.

 

“Drainase yang harus segera diperbaiki, bukan hanya dibangun namun juga di beton hingga tahan terjangan banjir. Jika tidak kunjung diperbaiki maka kami sepakat tidak membayar KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dan bahkan akan meminta untuk pindah dan tidak akan membayar kredit perumahan untuk sementara waktu,” pungkasnya.

 

Sementara, Pimpinan Bank Tabungan Negara (BTN) menyesalkan aksi yang dilakukan warga Perumnas Bumi Mas 1 yang mendatangi kantornya.

 

“Seharusnya jangan bawa ribut ke kantor. Karena akan merusak citra BTN,” ujar Ketua Bidang Bagian Risiko BTN Bengkulu, Pelita Sebayang.

 

Meski begitu, BTN tetap menindaklanjuti protes warga tersebut. Dengan langsung memanggil Developer PT. Bumi Sarindo, yang mengurusi perumnas tersebut. Selanjutnya manajemen BTN, Developer PT. Bumi Sarindo dan beberapa perwakilan dari warga melakukan mediasi. Setelah melakukan mediasi, Developer PT. Bumi Sarindo, Etra Yunardi langsung menyambangi warga.

 

Etra mengakui, saat ini pengembang tengah berupaya membangun drainase, hanya saja mengalami banyak kendala. Salah satunya belum adanya persetujuan dari pemilik lahan yang tanahnya digunakan sebagai aliran drainase itu.

 

“Saat ini kita sedang berupaya membangun drainase di sana, namun ada kendala, lantaran ada kebun kelapa sawit dan pemiliknya menolak jika tanahnya dipakai untuk aliran drainase,” ujarnya.

 

Dengan kendala itu, mediasi bakal dilanjutkan pada Rabu (12/12/18). Yang akan dihadiri warga, developer, dan dinas terkait untuk mencari solusi dan menyelesaikan masalah tersebut.

 

Untuk diketahui bersama, Developer PT. Bumi Sarindo membangun sekitar 250 rumah di kawasan Bentiring, Kota Bengkulu. Dari jumlah tersebut, hanya 100 rumah yang tidak terkena dampak banjir. Banjir terparah ada di blok B, C , N , M dan R.

 

Tidak hanya di kelurahan Bentiring, hujan deras dalam tempo 4 jam di wilayah Kota Bengkulu, sedikitnya ada 5 kelurahan yang terkena dampak banjir cukup parah, yakni kelurahan Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Bentiring serta Bumi Ayu yang merupakan daerah rendah dan sebagian di wilayah Betungan.(frj)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar