Minggu, 02 Desember 2018

2 Minggu Stok LPG Kosong, Ratusan Warga Kandang Limun Mengantre

// Taufik : Wajib Jual Sesuai HET Rp 15.000 per Tabung !!

BENGKULU, SH  - Ratusan warga kandang limun, RT 6, RW IV, UNIB belakang beramai-ramai mengantre di salah satu pangkalan LPG demi untuk mendapatkan LPG 3 Kg. Ratusan warga ini nampak berdesakan untuk memperoleh gas yang mulai langka sejak beberapa minggu terakhir ini. 

Salah seorang warga yang mengantre, Reni (35) mengatakan, Gas LPG mulai susah didapat sejak 2 minggu terakhir, kalaupun ada itupun harus mengantre cukup panjang dan ramai. "Kadang kita tidak mendapat bagian, apalagi jika antrean kita paling belakang" ujarnya, Sabtu (24/11/18).

Disisi lain, pemilik pangkalan LPG mengungkapkan, untuk mengantisipasi terjadinya monopoli warga yang akan membeli gas harus disertai foto kopi kartu keluarga. Setiap 1 KK mendapat 1 kali penukaran supaya mendapat secara keseluruhan dan tidak ada kecurangan. 

"Untuk menghindari kecurangan, setiap warga membawa foto copi KK dan mendaftarkan diri terlebih dahulu sebelum pengambilan gas LPG, sehingga nanti yang telah mendaftar mendapat bagian semua," ucap Jamal Nur pemilik pangakalan.

Lanjutnya, stok yang masuk hari ini habis dalam waktu 30 menit bahkan ada warga yang tidak mendapat bagian. Masyarakat berbondong-bondong dan desak desakan bahkan kita pernah kehilangan tabung gas LPG dan kekurangan uang dari pembayaran ketika sedang sibuk melayani penukaran,” jelas Jamal 

"Setiap tahun katanya ada penambahan stok, tapi setiap akhir tahun kita mengalami penurunan stok, kedepan kita berharap supaya pihak distributor menggunakan pendataan yang sesuai, sehingga LPG tersalurkan kesemua warga," tambahnya.

Untuk diketahui bersama, stok LPG yang masuk ke pangkalan milik Jamal berasal dari PT. Kartika dengan jumlah 100 tabung gas LPG 3 Kg.

Warga kota Bengkulu telah hamper sebulan terakhir diresahkan dengan sulitnya memperoleh gas rumah tangga, LPG 3 KG. Kelangkaan gas LPG ini dirasakan warga sejak beberapa minggu lalu. Tidak hanya itu, selain langka, warga juga harus membayar harga LPG diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. 

Ketua Gempur Kota Bengkulu, Taufik Hidayat menuturkan, harus diwaspadai adanya praktek penjualan tabung gas diatas HET. Ini disampaikan Gempur karena melihat kondisi kelangkaan gas beberapa pekan terakhir, sehingga sangat rawan dimainkan para agen dan pengecer nakal.  

“Waspada, pemerintah harus meningkatkan kontrol terkait dengan HET LPG 3 KG di tengah masyarakat, jangan sampai ada kesempatan yang diambil dalam kesempitan, banyak agen dan pengecer nakal yang mencari keuntungan ditengah kesusahan masyarakat,” katanya. Menurut Taufik, bagi siapa saja yang berani menjual tabung gas LPG diatas HET yang telah ditetapkan pemerintah daerah masing-masing maka bisa dikenakan pidana. Pemerintah Daerah Kota Bengkulu sendiri telah menetapkan HET untuk LPG 3 Kg sebesar Rp 15.500 per tabung. 

“Mungkin masyarakat sendiri tidak tahu berapa sebenarnya harga gas LPG yang resmi, informasi yang kami terima, warga harus membayar 22 ribu sampai dengan 26 ribu per tabung, ini jelas melanggar aturan, bisa dilaporkan ke kepolisian untuk ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku, Gempur siap fasilitasi, kasihan masyarakat kita terus tercekik dengan harga bahan pokok yang terus meningkat,” tambah Taufik.

Taufik menambahkan, HET adalah harga ditingkat warung-warung yang langsung bersentuhan dengan konsumen bukan untuk dijual kembali. “Gas 3 Kg itu barang bersubsidi makanya penggunaannya diatur negara, gas 3 Kg untuk masyarakat miskin bukan untuk golongan kaya jadi jangan disalahgunakan, sudah banyak kasus di daerah lain penjual yang diciduk polisi, pelakunya bisa ditindak dengan UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen,” kata Taufik.

Taufik juga menghimbau kepada agen dan pengecer gas LPG 3 Kg  untuk mentaati aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Menurutnya menjual diatas HET adalah bentuk tindakan pidana yang jelas-jelas merugikan masyarakat dan negar. “Pemkot juga harus proaktif, harus dipantau terus, begitu juga dengan pertamina harus menindak tegas agen-agenya yang nakal,” tutup Taufik.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar