Selasa, 11 September 2018

Ironi ‘Suburnya’ Pohon Pisang di Tengah Jalan




M
ungkin hanya di negeri kita ini, ada batang pohon tumbuh di tengah jalan raya. Kejadian fenomenal tersebut acap kali terlihat oleh pengguna kendaraan saat melewati jalan yang berlubang. Pohon yang ‘tumbuh’ tersebut ditanami oleh masyarakat akibat gregetan dengan para pembesar negeri ini. Apalagi pohon yang tumbuh ditengah jalan tersebut, berada di dekat rumah para pembesar dan juga dekat dengan kantor pembuat jalan. Jenis pohon yang ditanam dan tumbuh di tengah jalan raya tersebut mayoritas pohon pisang. 

Mungkin masyarakat bermaksud seperti hakikat pohon pisang tersebut yang tidak akan “berbuah dua kali”. Namun pada kenyataannya, pohon pisang di tengah jalan dapat tumbuh dan berbuah berkali-kali. Masyarakat juga berpikir, lebih baik pohon pisang yang tumbuh dan berbuah di tengah jalan, daripada banyak nyawa yang melayang ditengah jalan.

 Sayangnya para pembesar negeri kita ini seakan tak peduli, karena mereka menaiki mobil ber-ac dan memakai peer keong, sehingga jalan rusak dan berlobang tak pernah mereka rasakan. Sedangkan para rakyat yang hak dan hartanya dipotong untuk pajak dan membangun jalan raya ini, harus kuyup disiram lumpur jalan berlobang, bahkan nyawa mereka melayang. Kadang kita berfikir, untuk apa pembesar negeri ini berkoar dengan retorika tanpa fakta?.

            Masyarakat tidak butuh seremonial dan Bahasa ‘tinggi’, yang mereka butuhkan hanya kelancaran dalam mengais hidup. Masyarakat tak peduli para pembesar negeri ini ‘makan duit’ miliaran bahkan triliunan, yang masyarakat inginkan ada kedamaian, kenyamanan, serta aksi nyata dari mereka para pembesar.  

Masyarakat sangat berterimakasih dan mendoakan kebaikan bagi para pembesar, jika selokan didepan rumah mereka tidak mampet, mengantar anak ke sekolah tidak macet, ada tempat lapak menggelar dagangan, listrik tidak padam dan jalan tidak berlubang. Sangat sederhana keinginan dan fikiran masyarakat kita ini, dibandingkan lamunan besar para kaum borjuis yang berkoar-koar tanpa alasan.

            Sudah tujuh puluh tiga tahun kita merdeka, berkat tetesan keringat, air mata dan darah para pejuang. Sedangkan kita, hanya tinggal menikmati hasil perjuangan. Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Namun kenyataannya, sekedar jalan berlobang tak bisa ditambal, bahkan pohon dibiarkan tetap tumbuh ditengah jalan.Mungkin semua itu akibat ‘kebigalan’ para pembesar. Pohon tetap ‘tumbuh’ hingga kini ditengah jalan, menanti ‘sang penebang’ guna menutup lobang jalan.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar