|
M
|
ungkin
hanya di negeri kita ini, ada batang pohon tumbuh di tengah jalan raya.
Kejadian fenomenal tersebut acap kali terlihat oleh pengguna kendaraan saat
melewati jalan yang berlubang. Pohon yang ‘tumbuh’ tersebut ditanami oleh
masyarakat akibat gregetan dengan para pembesar negeri ini. Apalagi pohon yang
tumbuh ditengah jalan tersebut, berada di dekat rumah para pembesar dan juga
dekat dengan kantor pembuat jalan. Jenis pohon yang ditanam dan tumbuh di tengah
jalan raya tersebut mayoritas pohon pisang.
Mungkin masyarakat bermaksud seperti hakikat pohon pisang
tersebut yang tidak akan “berbuah dua kali”. Namun pada kenyataannya, pohon
pisang di tengah jalan dapat tumbuh dan berbuah berkali-kali. Masyarakat juga
berpikir, lebih baik pohon pisang yang tumbuh dan berbuah di tengah jalan,
daripada banyak nyawa yang melayang ditengah jalan.
Sayangnya para
pembesar negeri kita ini seakan tak peduli, karena mereka menaiki mobil ber-ac
dan memakai peer keong, sehingga jalan rusak dan berlobang tak pernah mereka
rasakan. Sedangkan para rakyat yang hak dan hartanya dipotong untuk pajak dan
membangun jalan raya ini, harus kuyup disiram lumpur jalan berlobang, bahkan
nyawa mereka melayang. Kadang kita berfikir, untuk apa pembesar negeri ini
berkoar dengan retorika tanpa fakta?.
Masyarakat
tidak butuh seremonial dan Bahasa ‘tinggi’, yang mereka butuhkan hanya
kelancaran dalam mengais hidup. Masyarakat tak peduli para pembesar negeri ini
‘makan duit’ miliaran bahkan triliunan, yang masyarakat inginkan ada kedamaian,
kenyamanan, serta aksi nyata dari mereka para pembesar.
Masyarakat sangat berterimakasih dan mendoakan kebaikan bagi
para pembesar, jika selokan didepan rumah mereka tidak mampet, mengantar anak
ke sekolah tidak macet, ada tempat lapak menggelar dagangan, listrik tidak
padam dan jalan tidak berlubang. Sangat sederhana keinginan dan fikiran
masyarakat kita ini, dibandingkan lamunan besar para kaum borjuis yang
berkoar-koar tanpa alasan.
Sudah
tujuh puluh tiga tahun kita merdeka, berkat tetesan keringat, air mata dan
darah para pejuang. Sedangkan kita, hanya tinggal menikmati hasil perjuangan.
Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Namun kenyataannya, sekedar jalan
berlobang tak bisa ditambal, bahkan pohon dibiarkan tetap tumbuh ditengah
jalan.Mungkin semua itu akibat ‘kebigalan’ para pembesar. Pohon tetap ‘tumbuh’
hingga kini ditengah jalan, menanti ‘sang penebang’ guna menutup lobang jalan.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar