![]() |
| Lokasi pembangunan PLTU di Bengkulu. |
BENGKULU, SH – Puluhan petani
pengggarap lahan di area Pelabuhan Pulau Baai kemarin siang menghadang satu
alat berat jenis eskavator proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu
bara yang akan membongkar areal di sekitar kebun palawija milik petani.
Kehadiran
tiga petugas proyek dan alat berat itu pun nyaris berakhir dengan baku fisik
sebab Wilkan bersikeras menghalangi aktivitas alat berat yang sudah didatangkan
ke lokasi.
Mendapat
tentangan dan protes dari petani, ketiga petugas proyek pun menghentikan
aktivitas dan meninggalkan lokasi tersebut.
Wilkan
salah seorang petani mengatakan, kedatangan petugas proyek tersebut hendak
menggusur kebunnya serta kebun lima orang petani lainnya yang sudah
bertahun-tahun menggarapan lahan di area Pelabuhan Pulau Baai.
“Belum
ada pembicaraan apapun tentang lahan yang kami garap, jadi saya minta jangan
ada aktivitas disini,” ujar Wilkan.
Untuk
diketahui, sudah beberapa pekan sebelumnya pemilik proyek sudah memasang garis
batas di dalam lahan garapan masyarakat tersebut tanpa pemberitahuan atau
informasi apapun kepada petani.
Saat ini para petani sangat mengeluhkan sikap pemerintah daerah yang lepas tangan dari persoalan yang dihadapi para petani penggarap yang mengandalkan lahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Saat ini para petani sangat mengeluhkan sikap pemerintah daerah yang lepas tangan dari persoalan yang dihadapi para petani penggarap yang mengandalkan lahan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Sebelum
proyek dimulai kami tidak pernah mendapat sosialisasi lalu tiba-tiba ada
informasi perluasan lahan PLTU batu bara dan kebun kami kena imbas,” ucapnya.
Proyek
PLTU batu bara 2x100 Megawatt di Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu dibangun
oleh investor asal China dengan meminjam lahan di area Pelabuhan Pulau Baai
yang selama ini dikelola PT Pelindo II.
Sebagaimana
di berita minggu lalu kami ungkapkan, kehadiran proyek yang ditargetkan
beroperasi pada 2020 ini telah menuai protes dari masyarakat Kelurahan Teluk
Sepang dengan kekhawatiran pembakaran batu bara akan mencemari udara yang
dihirup masyarakat yang hanya berjarak 1,5 kilometer dari lokasi proyek.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar