Senin, 20 Agustus 2018

Belajar Ashabiyah dari Wong Deso


Oleh: Fatkur Rohman (Alumni mahasiswa IAIN Bengkulu)


S
uatu organisasi komunitas, kelompok, partai, golongan, suku, ras, agama bahkan suatu negara kuat jika didalamnya kuat, yang dimaksud didalamnya adalah orang-orang yang ada dalam suatu golongan tersebut mempunyai kekuatan mempertahankan keyakinannya. Menurut Ibnu Khaldun, suatu suku mungkin dapat membentuk dan memelihara suatu negara apabila suku itu memiliki sejumlah karakteristik sosial-politik tertentu, yang oleh Ibnu Khaldun disebut dengan Ashabiyah. Karakteristik ini justru berada hanya dalam kerangka kebudayaan desa. Maka menurut saya kita bisa belajar ashabiyah dari wong deso (orang desa).

Jika suatu suatu organisasi komunitas, kelompok, partai, golongan, suku, ras, agama bahkan suatu negara tidak memiliki ashabiyah dalam dirinya menurut Ibnu Khaldun bisa melemahnya suatu Negara. Maka kita harus belajar ashabiyah dari wong deso (orang desa) karena orang-orang desa biasanya masih memiliki rasa gotong royong yang kuat, empati yang besar, dan kekompakan yang tidak diragukan lagi.
Menurut Ibnu Khaldun ashabiyah adalah kekuatan penggerak negara dan merupakan landasan tegaknya suatu negara atau dinasti. Bilamana negara atau dinasti tersebut telah mapan, ia akan berupaya menghancurkan ashabiyah. Ashabiyah mempunyai peran besar dalam perluasan negara setelah sebelumnya merupakan landasan tegaknya negara tersebut. Bila ashabiyah itu kuat, maka negara yang akan muncul akan luas, sebaliknya bila ashabiyah lemah, maka luas negara yang muncul relatif terbatas.
Dari pesan tokoh fenomenal dalam karyanya yang berjudul Mukaddimah Ibnu Khaldun tentang ashabiyah kita bisa mengevaluasi dalam diri kita, ketika dalam suatu organisasi komunitas, kelompok, partai, golongan, suku, ras, agama bahkan suatu negara sudahkah memiliki ashabiyah yang tinggi? Kita bisa mengukur negara kita, semakin luas atau terbataskah wilayah kita? Atau jangan-jangan wilayah kita semakin terbatas karena seringnya penjualan aset suatu negara kita dijual bebas, kita juga bisa mengevaluasi saat menjelang hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia sudah seberapa besarkah kita belajar sejarah Indonesia yang kita cintai ini? Mari kita kuatkan kembali ashabiyah kita seperti orang-orang desa yang masih memiliki tingkat ashabiyah mereka yang tinggi. Jangan sampai justru orang-orang desa juga ashabiyahnya sengaja dihancurkan oleh rezim saat ini. Waulahu’alambishowab.(**)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar