Oleh: Fatkur Rohman (Alumni mahasiswa IAIN Bengkulu)
|
S
|
uatu organisasi komunitas, kelompok, partai, golongan,
suku, ras, agama bahkan suatu negara kuat jika didalamnya kuat, yang dimaksud
didalamnya adalah orang-orang yang ada dalam suatu golongan tersebut mempunyai
kekuatan mempertahankan keyakinannya. Menurut Ibnu Khaldun, suatu suku mungkin
dapat membentuk dan memelihara suatu negara apabila suku itu memiliki sejumlah
karakteristik sosial-politik tertentu, yang oleh Ibnu Khaldun disebut dengan
Ashabiyah. Karakteristik ini justru berada hanya dalam kerangka kebudayaan
desa. Maka menurut saya kita bisa belajar ashabiyah dari wong deso (orang
desa).
Jika suatu
suatu organisasi komunitas, kelompok, partai, golongan, suku, ras, agama bahkan
suatu negara tidak memiliki ashabiyah dalam dirinya menurut Ibnu Khaldun bisa
melemahnya suatu Negara. Maka kita harus belajar ashabiyah dari wong deso
(orang desa) karena orang-orang desa biasanya masih memiliki rasa gotong royong
yang kuat, empati yang besar, dan kekompakan yang tidak diragukan lagi.
Menurut
Ibnu Khaldun ashabiyah adalah kekuatan penggerak negara dan merupakan landasan
tegaknya suatu negara atau dinasti. Bilamana negara atau dinasti tersebut telah
mapan, ia akan berupaya menghancurkan ashabiyah. Ashabiyah mempunyai peran
besar dalam perluasan negara setelah sebelumnya merupakan landasan tegaknya
negara tersebut. Bila ashabiyah itu kuat, maka negara yang akan muncul akan
luas, sebaliknya bila ashabiyah lemah, maka luas negara yang muncul relatif
terbatas.
Dari pesan
tokoh fenomenal dalam karyanya yang berjudul Mukaddimah Ibnu Khaldun tentang
ashabiyah kita bisa mengevaluasi dalam diri kita, ketika dalam suatu organisasi
komunitas, kelompok, partai, golongan, suku, ras, agama bahkan suatu negara
sudahkah memiliki ashabiyah yang tinggi? Kita bisa mengukur negara kita,
semakin luas atau terbataskah wilayah kita? Atau jangan-jangan wilayah kita
semakin terbatas karena seringnya penjualan aset suatu negara kita dijual
bebas, kita juga bisa mengevaluasi saat menjelang hari ulang tahun kemerdekaan
Indonesia sudah seberapa besarkah kita belajar sejarah Indonesia yang kita
cintai ini? Mari kita kuatkan kembali ashabiyah kita seperti orang-orang desa
yang masih memiliki tingkat ashabiyah mereka yang tinggi. Jangan sampai justru
orang-orang desa juga ashabiyahnya sengaja dihancurkan oleh rezim saat ini.
Waulahu’alambishowab.(**)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar