Senin, 07 Mei 2018

Ekonom Sesalkan Manajemen Bank Bengkulu Penurunan Laba


Kantor pusat Bank Bengkulu yang berlokasi di Jalan S. Parman Bengkulu adalah salah satu gedung besar bertingkat di Kota Bengkulu

BENGKULU, SH – Alasan kebijakan amortisasi (PSAK 55) yang diberlakukan sejak tahun 2015 yang disampaikan pihak manajemen Bank Bengkulu saat RUPS tahun buku 2017 sebagai salah satu penyebab turunnya capaian laba disesalkan sejumlah ekonom. Mereka menilai alasan itu seolah-olah mempertanyakan lagi kapabilitas dan kompetensi manajemen Bank Bengkulu yang dikomandoi Agus Salim selaku Direkur Utama.
Seperti yang telah diberitakan di portal media ini sebelumnya, bahwa dikatakan Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersya saat RUPS (14/3) pihak manajemen Bank Bengkulu menjelaskan bahwa penurunan capaian laba di tahun 2017 disebabkan karena adanya kebijakan amortisasi (PSAK 55) berupa pinjaman bunga flat dalam bentuk pelunasan tanpa denda bunga yang diberlakukan sejak tahun 2015 lalu. Hal ini menyebabkan tahun 2016 dan 2017 pendapatan bunga menurun.
Para ekonom berpendapat bahwa alasan yang disampaikan pihak manajemen Bank Bengkulu itu, tersirat bahwa ada semacam kesalahan kebijakan yang dilakukan oleh manajemen lama (sebelumnya) yang membuat capaian laba di tahun 2017 mengalami penurunan.
Menurut ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UNIB Prof Kamaludin mengatakan, jika target laba tidak tercapai, apalagi turun dari tahun sebelumnya, artinya ada sesuatu yang keliru dilakukan pihak manajemen. Dan tanggungjawab itu terletak di manajemen.
“Saya pikir tidak bisa menyalahkan manajemen lama. Sebab tongkat komando berada pada manajemen yang baru,” tegasnya.
Lebih jauh dikatakan guru besar manajemen keuangan FEB UNIB ini, seharusnya manajemen Bank Bengkulu yang baru ini bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Paling tidak sama dengan periode sebelumnya.
Jika terjadi penurunan kinerja (capaian laba) artinya mungkin ada pengelolaan manajemen keuangan yang keliru dilakukan. “Bisa jadi pada saat itu manajemen tidak bisa mencari sumber pembiayaan yang relatif murah sehingga beban biaya menjadi tinggi. Bisa jadi juga karena biaya operasional yang tinggi. Untuk memastikan apa yang menjadi penyebabnya itu, bisa dicek pada laporan laba ruginya. Dari sana bisa diketahui apa yang menyebabkan biaya operasional itu menjadi tinggi,” jelasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh ekonom lainnya, Dr Syaiful Anwar AB. Pakar manajemen dari FEB UNIB ini juga menilai, bahwa jika memang amortisasi yang menjadi salah satu pemicu terjadinya penurunan laba Bank Bengkulu di tahun 2017, artinya sejak tahun itu diberlakukan bank ini tentu selalu mengalami defisit laba.
“Namun pada nyatanya, laba di tahun 2015 dan 2016 masih lebih baik. Ini artinya ada ketidak mampuan pihak manajemen dalam menjual sehingga dana tidak terserap banyak keluar yang bisa menjadi keuntungan bank,” katanya.
Secara blak-balakan, Syaiful mengilustrasikan bahwa Bank Bengkulu ini ibarat sebuah klub sepakbola. Untuk meningkatkan performa klub ini maka didatangkanlah manager dan pemain impor yang berkualitas.
Hal ini dilakukan agar para pemain impor yang katanya jago itu, bisa memberi inspirasi bagi pemain lokal dan bisa membawa peningkatan klub (Bank Bengkulu) ke arah yang lebih baik lagi. “Tapi bagaimana jika yang diharapkan justru sebaliknya dimana capaian laba menjadi turun dan beberapa indikator pertumbuhan lainnya tak mencapai target yang telah ditetapkan?” tanyanya.
Syaiful pun menyarankan kepada pihak pemegang saham untuk melakukan evaluasi agar laba Bank Bengkulu tidak terus tergerus. “Penurunan capaian laba ini adalah sinyal warning bagi pihak manajemen Bank Bengkulu agar lebih serius dalam menangani bank ini,” pungkas Syaiful. (frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar