Kantor
pusat Bank Bengkulu yang berlokasi di Jalan S. Parman Bengkulu adalah salah
satu gedung besar bertingkat di Kota Bengkulu
BENGKULU,
SH – Alasan
kebijakan amortisasi (PSAK 55) yang diberlakukan sejak tahun 2015 yang
disampaikan pihak manajemen Bank Bengkulu saat RUPS tahun buku 2017 sebagai
salah satu penyebab turunnya capaian laba disesalkan sejumlah ekonom. Mereka
menilai alasan itu seolah-olah mempertanyakan lagi kapabilitas dan kompetensi
manajemen Bank Bengkulu yang dikomandoi Agus Salim selaku Direkur Utama.
Seperti
yang telah diberitakan di portal media ini sebelumnya, bahwa dikatakan Plt
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersya saat RUPS (14/3) pihak manajemen Bank Bengkulu
menjelaskan bahwa penurunan capaian laba di tahun 2017 disebabkan karena adanya
kebijakan amortisasi (PSAK 55) berupa pinjaman bunga flat dalam bentuk
pelunasan tanpa denda bunga yang diberlakukan sejak tahun 2015 lalu. Hal ini
menyebabkan tahun 2016 dan 2017 pendapatan bunga menurun.
Para
ekonom berpendapat bahwa alasan yang disampaikan pihak manajemen Bank Bengkulu
itu, tersirat bahwa ada semacam kesalahan kebijakan yang dilakukan oleh
manajemen lama (sebelumnya) yang membuat capaian laba di tahun 2017 mengalami
penurunan.
Menurut
ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UNIB Prof Kamaludin mengatakan,
jika target laba tidak tercapai, apalagi turun dari tahun sebelumnya, artinya
ada sesuatu yang keliru dilakukan pihak manajemen. Dan tanggungjawab itu
terletak di manajemen.
“Saya
pikir tidak bisa menyalahkan manajemen lama. Sebab tongkat komando berada pada
manajemen yang baru,” tegasnya.
Lebih
jauh dikatakan guru besar manajemen keuangan FEB UNIB ini, seharusnya manajemen
Bank Bengkulu yang baru ini bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Paling tidak
sama dengan periode sebelumnya.
Jika
terjadi penurunan kinerja (capaian laba) artinya mungkin ada pengelolaan
manajemen keuangan yang keliru dilakukan. “Bisa jadi pada saat itu manajemen
tidak bisa mencari sumber pembiayaan yang relatif murah sehingga beban biaya
menjadi tinggi. Bisa jadi juga karena biaya operasional yang tinggi. Untuk
memastikan apa yang menjadi penyebabnya itu, bisa dicek pada laporan laba
ruginya. Dari sana bisa diketahui apa yang menyebabkan biaya operasional itu
menjadi tinggi,” jelasnya.
Hal
senada juga diungkapkan oleh ekonom lainnya, Dr Syaiful Anwar AB. Pakar
manajemen dari FEB UNIB ini juga menilai, bahwa jika memang amortisasi yang
menjadi salah satu pemicu terjadinya penurunan laba Bank Bengkulu di tahun
2017, artinya sejak tahun itu diberlakukan bank ini tentu selalu mengalami
defisit laba.
“Namun
pada nyatanya, laba di tahun 2015 dan 2016 masih lebih baik. Ini artinya ada
ketidak mampuan pihak manajemen dalam menjual sehingga dana tidak terserap
banyak keluar yang bisa menjadi keuntungan bank,” katanya.
Secara
blak-balakan, Syaiful mengilustrasikan bahwa Bank Bengkulu ini ibarat sebuah
klub sepakbola. Untuk meningkatkan performa klub ini maka didatangkanlah
manager dan pemain impor yang berkualitas.
Hal
ini dilakukan agar para pemain impor yang katanya jago itu, bisa memberi
inspirasi bagi pemain lokal dan bisa membawa peningkatan klub (Bank Bengkulu)
ke arah yang lebih baik lagi. “Tapi bagaimana jika yang diharapkan justru
sebaliknya dimana capaian laba menjadi turun dan beberapa indikator pertumbuhan
lainnya tak mencapai target yang telah ditetapkan?” tanyanya.
Syaiful
pun menyarankan kepada pihak pemegang saham untuk melakukan evaluasi agar laba
Bank Bengkulu tidak terus tergerus. “Penurunan capaian laba ini adalah sinyal
warning bagi pihak manajemen Bank Bengkulu agar lebih serius dalam menangani
bank ini,” pungkas Syaiful. (frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar