Tam Arafat , salah seorang pelaku usaha jual
beli mobil bekas di Kota Bengkulu.(Doc:frj/SH)
BENGKULU, SH – Bisnis jual beli mobil bekas di Bengkulu
mengalami masa krisis hingga kini. Puluhan showroom mobil bekas tutup. Omzet
penjualan turun drastis. Begitulah kondisi terkini yang dialami oleh para
pengusaha mobil bekas. Tak terkecuali di Bengkulu. Sebuah kondisi pahit yang
sudah mereka rasakan sejak 3 tahun terakhir.
Bisa
dibilang tahun 2010 hingga 2014 adalah masa keemasan para pedagang mobil bekas
di Bengkulu. Bahkan kawasan Sawah Lebar hingga Tebeng telah menjelma menjadi
kawasan showroom mobil bekas.
Namun sejak
tahun 2015, tanda-tanda bakal terhempasnya bisnis mobil bekas mulai terasa.
Turunnya harga beberapa komoditi unggulan Bengkulu seperti sawit dan karet,
kala itu berdampak pada daya beli masyarakat untuk membeli mobil bekas.
Salah
seorang pelaku usaha jual beli mobil bekas, Tam Arafat tak menapik jika
turunnya perekonomian masyarakat sejak tiga tahun terakhir telah mempengaruhi
bisni jual beli mobil. “Saat ini di Bengkulu ada sekitar 150 showroom mobil
bekas. Sekitar 30% nya gulung tikar akibat krisis ekonomi melanda,” terang Tam
pemilik Showroom Arafat yang berlokasi di Sawah Lebar.
Kisah manis
di tahun 2010 ujar dia masih belum terulang hingga kini. “Dulu (tahun 2010)
kami bisa menjual hingga 30 unit mobil dalam sebulan. Kini harga karet dan
sawit yang masih belum manis membuat penjualan turun dan hanya mampu menjual 10
unit dalam sebulan,” terangnya.
Diakui Tam,
kondisi ekonomi Bengkulu masih dipengaruhi oleh hasil komoditi perkebunan sawit
dan karet. Jika harga komodiit itu turun maka turun juga daya beli masyarakat.
Sebaliknya jika harga naik maka daya beli masyarakat juga naik.
Ketergantungan
ini tentu bukanlah suatu hal yang baik. Untuk itu ia berharap agar pemerintah
daerah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tergantung dari
naik turunnya harga kedua komoditi tersebut di pasar dunia.
“Jika di
Bengkulu ada industri maka akan bisa meningkat perekonomian masyarakat dan juga
daya belinya yang tidak hanya tergantung dari harga jual sawit dan karet saja,”
pungkasnya.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar