Senin, 07 Mei 2018

Bisnis Mobil Bekas, Kian Terhempas


Tam Arafat , salah seorang pelaku usaha jual beli mobil bekas di Kota Bengkulu.(Doc:frj/SH)

BENGKULU, SH – Bisnis jual beli mobil bekas di Bengkulu mengalami masa krisis hingga kini. Puluhan showroom mobil bekas tutup. Omzet penjualan turun drastis. Begitulah kondisi terkini yang dialami oleh para pengusaha mobil bekas. Tak terkecuali di Bengkulu. Sebuah kondisi pahit yang sudah mereka rasakan sejak 3 tahun terakhir.
Bisa dibilang tahun 2010 hingga 2014 adalah masa keemasan para pedagang mobil bekas di Bengkulu. Bahkan kawasan Sawah Lebar hingga Tebeng telah menjelma menjadi kawasan showroom mobil bekas.
Namun sejak tahun 2015, tanda-tanda bakal terhempasnya bisnis mobil bekas mulai terasa. Turunnya harga beberapa komoditi unggulan Bengkulu seperti sawit dan karet, kala itu berdampak pada daya beli masyarakat untuk membeli mobil bekas.
Salah seorang pelaku usaha jual beli mobil bekas, Tam Arafat tak menapik jika turunnya perekonomian masyarakat sejak tiga tahun terakhir telah mempengaruhi bisni jual beli mobil. “Saat ini di Bengkulu ada sekitar 150 showroom mobil bekas. Sekitar 30% nya gulung tikar akibat krisis ekonomi melanda,” terang Tam pemilik Showroom Arafat yang berlokasi di Sawah Lebar.
Kisah manis di tahun 2010 ujar dia masih belum terulang hingga kini. “Dulu (tahun 2010) kami bisa menjual hingga 30 unit mobil dalam sebulan. Kini harga karet dan sawit yang masih belum manis membuat penjualan turun dan hanya mampu menjual 10 unit dalam sebulan,” terangnya.
Diakui Tam, kondisi ekonomi Bengkulu masih dipengaruhi oleh hasil komoditi perkebunan sawit dan karet. Jika harga komodiit itu turun maka turun juga daya beli masyarakat. Sebaliknya jika harga naik maka daya beli masyarakat juga naik.
Ketergantungan ini tentu bukanlah suatu hal yang baik. Untuk itu ia berharap agar pemerintah daerah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tergantung dari naik turunnya harga kedua komoditi tersebut di pasar dunia.
“Jika di Bengkulu ada industri maka akan bisa meningkat perekonomian masyarakat dan juga daya belinya yang tidak hanya tergantung dari harga jual sawit dan karet saja,” pungkasnya.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar