BENGKULU, SH – hai.. kamu para generasi milineal !! topik
tentang generasi millennial selalu menarik untuk dibahas. khususya
yang lahir di antara tahun 1980-2000 yang menjadi generasi berusia produktif.
Mereka adalah para profesional muda yang, dengan karakteristik uniknya,
menimbulkan gelombang perubahan di seluruh dunia. Sayangnya, perubahan itu
tidak selalu baik. Sudah banyak cerita tentang kaum millennial yang membuat para senior
dan bos mereka frustrasi, sehingga tak ada pilihan selain melepaskan mereka.
Berikut ini beberapa hal yang sering dikeluhkan orang tentang profesional dari
generasi millennial. !!!
Sulit Berkomunikasi
Komunikasi adalah masalah lama yang
menghantui semua profesional. Tapi masalah ini semakin meruncing pada sebagian
generasi millennial.
Mungkin karena generasi ini tumbuh di tengah doktrin-doktrin semacam, “Tentukan sendiri masa depanmu!” dan “Jadilah dirimu sendiri!” sehingga mereka merasa lebih enggan membaur dengan
sekitar.
Millennial adalah
generasi yang cerdas dan kreatif. Mereka tak suka menjadi pengikut, lebih suka
menjadi individu yang bebas. Memang ada baiknya mereka diberikan
kebebasan, hanya saja kebebasan itu harus tetap disertai dengan kemampuan bekerja
sama. Baik dalam konteks pekerjaan ataupun di
luar pekerjaan.
Sisi baiknya, millennial tidak takut menerima tugas yang
menantang. Bila kita bisa menemukan keseimbangan yang tepat antara kebebasan
dan tanggung jawab tersebut, potensi generasi ini bisa didorong secara
maksimal.
Masalah Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri yang terlalu tinggi ataupun
terlalu rendah, dua-duanya bisa jadi masalah. Dan dua-duanya merajalela di
antara generasi millennial. Millennial adalah
generasi hebat. Ditempa kualitas pendidikan yang terus meningkat, kelas-kelas
akselerasi dengan program canggih, serta iklim kompetitif yang kuat. Generasi
ini memunculkan para overachiever-superstar di bidangnya masing-masing, dan mereka
sadar akan kemampuannya.
Merasa paling hebat dan tahu segalanya, mereka menuntut
untuk diperlakukan spesial
Bila tidak diredam, kepercayaan diri ini bisa
memunculkan sifat-sifat negatif. Mereka jadi tidak hormat pada orang yang lebih
tua, bahkan tidak hormat pada atasan. Merasa paling hebat dan tahu segalanya,
mereka menuntut untuk diperlakukan spesial.
Di sisi lain, yang tidak termasuk overachiever menjadi minder, padahal bisa jadi
sebenarnya pencapaian mereka tidak buruk. Mereka terlalu silau dengan
pencapaian orang lain sehingga menganggap diri sendiri sebagai orang gagal.
Akibatnya bisa ditebak: stres, tidak bersemangat, dan takut untuk berkarya.
Kedua masalah kepercayaan diri bisa kita
kurangi dengan cara belajar hidup sederhana. Daripada memusingkan apa yang tidak
kita miliki, lebih baik kita fokus pada memberi dan mengubah diri jadi lebih baik dari hari ke hari. Selain itu bila sudah jadi orang hebat, jangan lupa
pada ilmu padi: semakin merunduk artinya semakin berisi.
Merusak tradisi
Generasi millennial benci status quo. Mereka selalu ingin berinovasi, menciptakan sesuatu
yang baru, dan membuat kehidupan lebih baik. Apalagi mengingat teknologi dan
informasi kini begitu mudah diakses, mereka suka menantang apa yang ada di
hadapan mereka dan bertanya, “Apakah tidak ada cara yang lebih baik?”
Mengapa harus datang ke kantor bila pekerjaan
bisa dikirim dari via internet? Mengapa harus kuliah bila kemampuan saya lebih
baik dibanding mereka yang punya ijazah? Mengapa tidak semua perusahaan
memberikan asuransi kesehatan bagi karyawan? Ini contoh kecil tradisi yang
“dirusak” oleh mereka.
Keinginan untuk membuat
perubahan dapat menciptakan hubungan yang kurang harmonis, baik antara si millennial dengan karyawan lain atau dengan
perusahaan. Tapi perubahan itu sendiri tidak selalu buruk.
Kuncinya ada pada pikiran yang terbuka. Kaum millennial harus legawa bila ide mereka tidak
diterima. Sebaliknya, generasi yang lebih tua tidak boleh takut pada perubahan,
bila memang itu bisa mendatangkan dampak positif yang jelas.
Tidak Takut Kehilangan
Pekerjaan
Kepercayaan diri millennial terhadap kemampuan teknis membuat
sebagian dari mereka tidak takut mencari pekerjaan baru. Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai keinginan, mereka
mudah saja berkata, “Pekerjaan ini tidak cocok dengan saya,” dan mulai melirik
perusahaan lain.
Masalah “kutu loncat” marak terjadi
pada millennial yang masih berusia muda, terutama
alumni almamater ternama. Lebih parah lagi di dunia startup, sudah jadi hal lumrah bila seseorang berganti pekerjaan
setiap tahun. Ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang sering
bertahan di satu pekerjaan saja sampai pensiun.
Berganti pekerjaan itu tidak ada salahnya.
Tapi kita juga harus mengerti pentingnya menyesuaikan diri. Bila kita menuntut
kebijakan fleksibel dari perusahaan, kita juga harus siap bersikap fleksibel
terhadap tuntutan pekerjaan. Adaptasi adalah bagian penting dari
profesionalisme.
Kelakuan Buruk
Ini bukan masalah yang hanya terjadi pada
generasi millennial. Tapi di khusus
untuk generasi ini, kelakuan buruk bisa terjadi di mana saja dan terekspos begitu luas.
Sebagian
orang mungkin mengira bahwa kelakuan di internet atau media sosial tidak punya
konsekuensi. Padahal itu dapat menjadi harimau yang mendatangkan mimpi buruk. Satu saja kelakuan buruk karyawan tersebar ke
publik, sudah cukup menjadi bencana bagi perusahaan. Dan bila itu terjadi,
tidak ada jalan lain kecuali memutuskan ikatan kerja.
Lebih parah lagi, kelakuan buruk kini tidak
hanya bisa terjadi di dunia nyata. Sebagian orang mungkin mengira bahwa
kelakuan di internet atau media sosial tidak punya konsekuensi. Padahal itu
dapat menjadi harimau yang mendatangkan mimpi buruk.
Tidak hanya reputasi perusahaan, reputasi
pribadi pun dapat tercoreng. Karier seseorang bisa hancur hanya karena satu post Twitter, dan sudah banyak contoh
kasusnya.
Attitude Before Aptitude
Keahlian bisa dilatih, tapi kepribadian
sangat sulit diubah. Bila harus memilih antara superstar yang bermasalah dan orang biasa yang
taat perintah, kemungkinan seorang pemimpin akan memilih yang kedua. Lagipula superstar bermasalah belum tentu mengeluarkan
keahliannya seratus persen.
Bukan berarti keahlian sama sekali tidak ada
harganya. Idealnya, seorang profesional harus memiliki keahlian dan kepribadian yang
sama-sama berkualitas. Maka dari itu millennial, yang-umumnya-unggul di keahlian, harus
mau berpikiran terbuka dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.(**)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar