Para Remaja sedang belajar
Tari Andun
Indonesia kaya akan warisan budaya dari para leluhur, salah satunya
jenis tarian. Tarian merupakan simbol dari suatu gerakan atau kebiasaan yang
dilakukan masyarakat di suatu daerah yang terkadang menjadi salah satu identitas
dari suatu kawasan di mata masyarakat daerah lainnya. Tak terkecuali tari Andun
yang Merupakan tarian khas dari masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan, Seluma
dan Kaur yang hingga kini tetap dilestarikan oleh para generasi muda. Nah…
bagaimana keunikan dan khasan dari tari Andun tersebut. Berikut ulasan dari tim
Redaksi Suara Hukum Bengkulu !!!
Fikriyadi Najmi – Kota
Bengkulu
Alunan Kolintang dan Rebana secara
konstan terus berbunyi ditabuh para ahli. Di tengah lapangan dua pasangan
muda-mudi disaksikan ratusan pasang mata tampak menari dengan kedua tangan
terbentang laksana elang dengan langkah teratur. Tari Andun, demikianlah
masyarakat adat suku serawai yang mendiami Kabupaten Seluma dan Bengkulu
Selatan, Provinsi Bengkulu menyebutnya.
Cukup sulit menemukan refrensi berapa usia tari andun, namun suku
serawai menyebut ini merupakan seni tari yang mereka miliki. Tari andun tak
dapat dimainkan oleh sembarang orang. Harus memiliki kriteria, mereka
dipastikan harus bujang dan gadis atau belum menikah, penari yang berpasangan
tidak boleh memiliki hubungan darah atau kerabat. Bila ada yang berbohong soal
status maka akan dikenai denda adat.
Tari ini dahulu kala sebagai media pencarian jodoh bagimasyarakat adat
suku serawai. Penari menggunakan kostum sangat sopan. Untuk pria biasanya
mengenakan sarung panjang hingga mata kaki, mengenakan peci/atau topi adat.
Sementara pakaian mengenakan baju adat atau boleh juga blazer. Sementara untuk
perempuan mengenakan kebaya dan selendang penutup kepala. Sepasang penari
berdiri secara berdampingan dibatasi satu meja.
Sebelum menari sepasang muda-mudi akan menjura hormat pada tetua. Jika
diperhatikan, cukup mudah menari andun. cukup dengan mengembangkan tangan
seperti elang terbang, lalu melangkah maju beberapa langkah, kemudian mundur
beberapa langkah dan berputar.
"Meski terlihat mudah namun tari andun tetap menjadikan pihak pria
sebagai patokan. Bila pria berputar maka, perempuan juga berputar, bila pria
melangkah maka perempuan juga melangkah," jelas tokoh masyarakat Desa
Penago Baru, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, Sailun, Sabtu (7/4/18).
Tari andun merupakan media mencari jodoh, maka selama menari kedua belah
pihak harus pintar menangkap pesan mata dari lawan jenis.
"Kekuatan tari andun, ada di mata, masing-masing penari akan tahu
pesan lirikan mata dari pasangan menarinya," tambah Sailun.
Sailun menambahkan, makin sering kontak mata terjadi antara kedua penari
maka dapat dipastikan ketertarikan keduanya ada. "Semakin sering kontak
mata, maka dipastikan ketertarikan keduanya ada," jelasnya.
Pesan Cinta Pantun Berbalas Setelah tari andun dilakukan, dan
pesan-pesan cinta dilepas melalui kontak mata tidak serta merta pasangan penari
dapat langsung berkenalan dan mengungkapkan cinta secara langsung. "Usai
menari andun, maka dilanjutkan dengan saling lempar pantun (Berejung),
pesan-pesan pantun itu berisikan makna tersirat bahwa masing-masing mempunyai
rasa suka dan cinta," beber Sailun.
Tokoh adat serawai Desa Penago Baru lainnya, Girin membenarkan hal itu.
Menurut Girin kepiawaian mencari jodoh di masyarakat serawai harus menguasai
tari andun dan berejung atau pantun berbalas.
"Tari andun adalah media pertama mereka mencari jodoh, bila
dianggap cocok tantangan berikutnya adalah pria harus mampu menyampaikan rasa
cinta melalui berpantun dan akan dibalas oleh perempuan," tambah Girin.
Saat Supermoon meski Mendung Pantun berbalas tersebut dilakukan di
hadapan ratusan penonton yanbg terdiri dari para tokoh adat, tokoh desa dan
orangtua.
"Jadi, kalau pria tak bisa berpantun alamat akan jomblo, makanya
kalau dahulu laki-laki pintar berpantun," jelas Giran.
Media Cinta Penuh Sopan Santun Girin menjelaskan, tari andun dan
berejung biasanya dilakukan pada saat pesta pernikahan, musim panen dan acara
adat lainnya. Ia bersifat hiburan. "Ini momen kaum muda mencari pasangan.
Ungkapan cinta secara tersirat dilakukan lewat media seni tari. yang diawasi
oleh ratusan orang tua, tokoh adat, dan masyarakat.
Jadi bila mereka sudah dapat jodoh maka akan menikah, jadi penuh dengan
sopan santun. Tidak ada pacaran di tempat gelap dan hubungan bebas, semua
diawasai orangtua," jelas Girin.
Girin dan Sailun mengatakan kesakralan dan pelestarian tari andun sudah
puluhan tahun memudar seiring waktu.
"Bila ada acara pernikahan, masyarakat lebih memilih musik koplo
dan organ tunggal. Padahal festival tari andun tradisi budaya luhur cukup baik
digelar," jelas Girin.
Menurut kedua tokoh ini tari Andun bila dibudayakan kembali dalam
keseharian muda-mudi akan dapat menekan angka seks bebas, pernikahan dini dan
tindakan asusila lainnya. Mereka memberi saran Pemda Kabupaten Seluma, Provinsi
Bengkulu dapat menghidupkan lagi makna dan pelestarian tari andun.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar