Peta Provinsi Bengkulu dan nama jalan di
Negara Singapura
BENGKULU, SH – Di Negara Singapura terdapat jalanan dinamakan Bencoolen Street. Bencoolen sendiri
adalah nama Bengkulu saat masa pendudukan Inggris. Sedangkan di Provinsi
Bengkulu tepatnya di Kecamatan Air Besi Kabupaten Bengkulu Utara, terdapat Desa
walaupun secara administratif bernama Sungai Pura, umumnya masyarakat Bengkulu
menyebut Singapura. Serta di Kecamatan Kikim Barat Kabupaten Lahat Provinsi
Sumatera Selatan yang jarak wilayah tidak jauh dari Bengkulu juga terdapat Desa
bernama Singapura. Rasa keingintahuan muncul, apa sejarah yang melatarbelakangi
terjadinya fakta tersebut di Sumatera bagian selatan, khususnya antara Bengkulu
dan Singapura. Sejarah singkat yang Penulis uraikan ini berdasarkan referensi
terpercaya, serta hasil “obrolan” singkat dengan Dr. Agus Setiyanto, Penulis
buku-buku sejarah tentang Bengkulu.
Provinsi Bengkulu meski dicap sebagai daerah miskin di
bagian Sumatera, namun kaya akan sejarah yang unik dan identik. Tidak hanya
itu, daerah bersahaja yang dikelilingi Bukit Barisan, Taman Nasional Kerinci
Sebelat, serta berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini juga kaya akan
sumber daya alam. Sehingga tidak sedikit bangsa lain ingin “menjamahya”,
sebutlah Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang adalah negara-negara yang pernah
bercokol di Bengkulu. Belum lagi bangsa Arab, Cina, India serta bangsa lainnya
pernah datang bermukim dan berdagang di daerah habitat asli bunga terbesar di
dunia, Raflesia Arnoldi.
Dr. Agus Setiyanto menjelaskan bahwa sekitar tahun 1624,
Belanda sebenarnya sudah mengincar Bengkulu. Hal itu ditandai seringnya kapal
Belanda mondar mandir di perairan Selebar (Pulau Baai saat ini). Namun belum
bercokol ataupun sekedar singgah di Bengkulu. Pendudukan Bengkulu dimulai saat
Belanda (VOC) pada tahun 1682 mampu
mengungguli Inggris (East India Company
atau EIC), khususnya setelah terjadi kesepakatan antara VOC dengan Kerajaan
Banten terkait perdagangan rempah-rempah. Kondisi ini mengharuskan EIC keluar
dari Jawa dan mencari daerah baru yang secara politik dan militer menguntungkan
mereka dalam hal perdagangan rempah-rempah.
Sejarah mencatat, serta bukti otentik yang ada hingga
saat ini, seperti Benteng Marlborough, tugu Thomas Parr, Makam Inggris serta
Gedung Daerah/Rumah Dinas Gubernur, bahwa Inggris selepas meninggalkan Jawa
akhirnya bercokol di Bengkulu. Sebagai pengayaan pengetahuan sejarah, menurut
buku Bengkulu dalam Sejarah yang ditulis oleh Firdaus Burhan (1988), ada 2
penyebab Inggris akhirnya bercokol di Bengkulu. Pertama karena kesalahan
navigasi dalam pelayaran, yang awalnya menuju Pariaman Sumatera Barat, tersasar
di Bengkulu. Kedua lantaran adanya permintaan dari penguasa Bengkulu pada saat
itu setelah utusan EIC tiba di Bengkulu.
Terlepas dari 2 alasan tersebut bahwa Inggris “nyaman” di
Bengkulu hingga 140 tahun lamanya. Bahkan yang lebih hebat lagi, buku pertama
sejarah Sumatera (ini sepengetahuan saya) ditulis pegawai dagang Inggirs (EIC)
yang bertugas di Bengkulu bernama William Marsden (pertama terbit tahun 1783),
sekitar 20-35 persen berisikan tentang Bengkulu, terutama hasil kekayaan
alamnya. Walaupun buku-buku sejarah Sumatera saat ini telah banyak namun buku
William Marsden yang memadukan hasil penilaian serta laporan-laporan maupun
wawancara dan kunjungan diberbagai daerah di Sumatera tetap menjadi rujukan
atau referensi lantaran dianggap sebagai karya klasik yang monumental.
Pendudukan Inggris di Bengkulu yang dimulai dari tahun
1685 berakhir secara keseluruhan tahun 1825. Berakhirnya kehadiran Inggris di
Bengkulu disebabkan adanya perjanjian antara Kerajaan Inggris dengan Kerajaan
Belanda. Perjanjian yang terjadi pada 17 Maret 1824 ini oleh pihak Inggris
disebut The Anglo-Dutch Treaty of
1824, sedangkan Belanda menyebutnya Traktat London. Perjanjian ini berisikan
tentang pertukaran kekuasaan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di
Melaka dan Singapura. Pada saat itu Singapura merupakan bagian dari Kerajaan
Melaka. Sederhananya perjanjian tersebut mengatur “tukar guling” antara
Bengkulu yang dikuasai Inggris dengan Singapura yang dikuasai Belanda.
Walaupun Penulis belum menemukan referensi alasan
Pemerintah Singapura menamakan salah satu jalanannya Bencoolen Street, begitu juga di Desa di Bengkulu dan Sumatera
Selatan bernama atau disebut Singapura, uraian sejarah singkat di atas bisa
dijadikan sebagai jawaban. Bukan menyimpulkan, tapi mencoba menganalisa serta
menarik benang merah dari fakta kejadian terdahulu. Sebab penamaan suatu daerah
terkecil sekalipun, tidak terlepas dari sejarah yang pernah dilaluinya,
terlepas sejarah masa lalu nan lama, ataupun sejarah terkini. Pengabadian
sesuatu apapun jelas untuk mengenang kejadian yang pernah dialami.(Frj)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar