Senin, 16 April 2018

Pemprov Akan Permudah Perizinan


// Target Investasi 2018, Rp 2,7 Triliun
Kabid Pengendalian Penanaman Modal DPMPTSP Provinsi Bengkulu, Drs. Saud Hutabarat

BENGKULU, SH - Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Bengkulu menargetkan investasi yang masuk ke Bengkulu pada tahun 2018 menembus angka Rp. 2,7 Triliun. Target tersebut optimis tercapai bila bersinergi dengan Dinas Penamanam Modal Kota/Kabupaten mengenai izin prinsip yang disinergikan dengan sisi administrasi yang harus terus dilaporkan agar para investor lebih percaya untuk berinvestasi.
Kabid Pengendalian Penanaman Modal DPMPTSP Provinsi Bengkulu, Drs Saud Hutabarat mengatakan, setiap daerah kabipaten/kota di provinsi Bengkulu memiliki target APBD yang terakomodir di Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPMRI) secara nasional. Target tersebut dapat dicapai sesuai dengan kinerja masing-masing pemerintah provinsi.
“Kami Optimis realisasi Investasi Rp 2,7 Triliun itu bisa terwujud jika saling bersinergi dengan semua dinas terkait dengan percepatan izin dan pelaporan data rilis investasi yang lengkap,” ujar Saud, Senin pagi (9/4/18).
Di tahun 2017 lalu, target APBD mencapai Rp. 2,4 Triliun dengan capaian yang diraih Rp. 2.14 Triliun. Data tersebut dilihat dari rencana investasi penanaman modal dalam negeri dan asing yang masuk izin prinsip yang terakomodir melalui aplikasi SPIPC.
“Capaian kita di tahun 2017 cukup baik dibanding tahun sebelumnya, di tahun ini diharapkan semakin meningkat,” sambung Saud.
Saud menerangkan, walaupun secara realisasi tidak mencapai 100 persen, tetapi secara pertumbuhan investasi di Provinsi Bengkulu ada kenaikan 26 persen dibandingkan tahun 2016 lalu. Pertumbuhan ini menunjukkan trend investasi yang positif.
Adapun rencana investasi dari investor, baik dari penanaman modal dalam negeri dan asing bisa terealisasi bila rencana investasinya harus multiplier efek, diantaranya mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menumbuhkan ekonomi.
“Para investor dapat dilayani dengan baik dan rencana investasi dapat terealisasi dengan baik jika memang tidak bertentangan dengan aturan dan menciptakan multiplier efek,” sambung Saud.
Investasi ini akan sangat menguntungkan di bidang usaha sektor yang diminati seperti bidang sumber energi dan tenaga listrik seperti PLTU dan Mikro Hidro.
Selain itu, bidang perdagangan dan perhotelan serta kawasan ekonomi khusus di Pelabuhan Pulau Baai juga akan menambah minat berinvestasi.
“Kita fasilitasi semua hal yang diperlukan investor serta mengatasi kendala-kendala yang ada dengan pertemuan agar para investor bisa nyaman berinvestasi di Bengkulu,” jelas Saud.
Untuk diketahui bersama, berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) 2017 sudah ada beberapa investor yang sudah melakukan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yaitu sebanyak 27 perusahaan dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak 18 perusahaan. Negara yang melakukan investasi di Bengkulu mulai dari Inggris, China, Singapura, Jepang Malaysia, Australia, dan Korea Selatan.
“Inggris, Singapura, Malaysia, dan Australia fokus ke sektor perkebunan. Sedangkan Jepang, China, dan Uni Emirat Arab lebih dominan di sektor listrik. Sementara Korea Selatan fokus ke sektor perdagangan dan British Virgin Island di bidang pertambangan,” ungkap Saud.
Berdasarkan data periode 2013 sampai 2017, total investor yang berminat berinvestasi di Bengkulu terdiri dari PMA mencapai 62 perusahaan dengan rincian Kota Bengkulu 29 perusahaan, Bengkulu Selatan 2 perusahaan, Kepahiang 1 perusahaan, Lebong 2 perusahaan, Rejang Lebong 7 perusahaan, Mukomuko 2 perusahaan, Seluma 4 perusahaan, Kaur 5 perusahaan, dan Bengkulu Utara 10 perusahaan. Puluhan perusahaan tersebut berasal dari negara Inggris, China, Singapura, Jepang, Australia, Korea Selatan, Belgia, Taiwan, Malaysia, dan Korea Selatan.
“Harapan kami masing-masing kabupaten/kota bisa menampilkan potensi daerah lebih rinci agar lebih terukur dan membuat investor asing bisa melihat di BKPM RI dan memutuskan segera berinvestasi di Bengkulu,” lanjut Saud.
Berdasarkan data periode 2013 sampai 2017, jumlah PMDN di Provinsi Bengkulu mencapai 169 dengan rincian Kota Bengkulu ada 30, Bengkulu Selatan 24, Kepahiang 2, Lebong 9, Rejang Lebong 5, Seluma 2, Kaur 30, Bengkulu Tengah 33, dan Bengkulu Utara 34.
“Sudah cukup banyak PMDN maupun PMA yang masuk ke Bengkulu, kedepannya diharapkan dengan sinergi antar pihak terkait bisa semakin meningkatkan jumlah investor di Bengkulu,” tutur Saud.
Saud berharap, kedepannya pemerintah kabupaten atau kota dapat mendampingi percepatan berusaha terutama dalam percepatan perizinan agar para investor atau calon investor dapat merealisasikan rencana investasinya dengan target investasi Rp. 2,7 Triliun tersebut bisa dipenuhi dan jumlah investor di Bengkulu smeakin meningkat sehingga mampu menumbuhkan ekonomi Bengkulu.
“Harapan kita seluruh investor di Bengkulu sudah teregister atau terdaftar dan bisa dipantau dan diharapkan bisa membangun Bengkulu,” pungkas Saud.
Sementara itu, Pakar Ekonomi Bengkulu, Prof. Dr. Kamaludin mengatakan, pihaknya berharap investasi di Bengkulu bisa terus ditingkatkan, mengingat efeknya sangat mendukung banyak sektor khususnya mengurangi menciptakan lapangan kerja baru.
“Tak hanya menambah sektor usaha, investasi ini juga akan mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran,” ujar Kamaludin.
Kamaludin mengatakan, iklim investasi di Bengkulu sudah membaik, terbukti dengan semakin banyaknya investor yang berencana untuk berinvestasi di Bengkulu. Hal ini tentu akan membawa dampak baik bagi ekonomi Bengkulu yang semakin tumbuh.
“Tak bisa dipungkiri, investasi adalah kunci ekonomi kita. Jika investasi meningkat ekonomi juga bisa meningkat dan kesejahteraan Bengkulu juga akan meningkat,”  tutup Kamaludin.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar