Senin, 19 Maret 2018

Unik dan Satu-Satunya, Wisata Mangrove Di Tengah Kota


Nuansa Asri di hutan Mangrove

            Saat ini pariwisata merupakan salah satu modal utama suatu daerah dalam percepatan mengenalkan identitasnya di mata publik agar dapat cepat terkenal. Sebab mobolisasi jaringan internet secara cepat mempublikaswikannya, jika itu menarik untuk didatangi. Salah satu potensi tersebut terdapat di kawasan wisata hutan Mangrove di Kota Bengkulu. Selain alamnya masih asri, ditempat ini juga, para pengunjung dapat banyak belajar bagaimana cara membuat hutan Mangrove buatan dan olahan berupa dodol Mangrove. Nah.. penasaran kan. Berikut kami ajak anda untuk mengujugi wisata hutan Mangrove di RT. 16 Kampung Sejahtera Kota Bengkulu !!!!
Fikriyadi Najmi - Kota Bengkulu

BENGKULU, SH – Ekosistem mangrove di sekitar Pelabuhan Pulau Baai yang kini bernama Kampung Sejahtera yang terletak di Kelurahan Sumber Jaya, Kota Bengkulu menjadi objek wisata baru yang terus dipadati para wisatawan lokal maupun mancanegara yang didominasi kaum muda mudi, khususnya pada saat menjelang sore hari hingga hari libur seperti Sabtu sore hingga minggu.

“Sudah hampir setahun, lokasi hutan mangrove di pelataran Masjid Al-Barokah ini dipadati pengunjung,” kata Erna, warga Kampung Nelayan Kelurahan Sumber Jaya.
Erna mengatakan, sebagian besar para pengunjung datang ke lokasi itu untuk menikmati pemandangan hamparan mangrove dengan caramenyewa perahu atau kapal kecil bersama nahkodahnya dengan ongkos Rp. 10 ribu rupiah pererang atau kelompok m inimal 10 orang dalam sekali berkeliling dengan durasi 1 jam. Lokasi ini juga menyediakan pemandangan untuk para pecinta shelfi untuk berfoto ria bersama kerabat terdekata tau orang terkasih lainnya yang persis berada di pelataran masjid yang menghadap hutan mangrove nan rimbun yang dibangun di atas muara dengan bahan kayu tahan air.
Sebagian besar pengunjung ke lokasi ini pasti mengabadikan dalam bentuk foto bersama hingga swafoto pemandangan yang cantik dan asri itu untuk diunggah ke berbagai media sosial, terutama instagram.
Tidak hanya menikmati ekosistem mangrove dan nuansa permukiman nelayan yang masih bernuansa tradisional saja, pengunjung juga dapat menyewa berlayar dengan perahu.
Jika kita selama ini hanya mengenal Buah mangrove sebagai tanaman biasa, namun di tempat ini justru beda. Buah mangrove atas hasil kreasi para istri nelayan dapat mengubahn ya berupa sirop mangrove dan dodol mangrove. Dua komoditi ini terus ditingkatkan agar dengan cepat diakui di pasaran.
Disini para pengunjung dapat belajar membuatnya di kawasan perumahan serta produk ini juga banyak juga dijual di lokasi wisata.
“Sebagian nelayan sudah beralih menjadi pemandu wisata dadakan dengan membawa pengunjung berkeliling hutan mangrove,” sambung Erna.
Sementara Hendrik, seorang pengunjung asal kota Manna Bengkulu Selatan mengatakan, dirinya mendapat informasi tentang objek wisata baru itu lewat sejumlah foto pengunjung lainnya di instagram dan medsos lainnya dan langsung berniat mendatangi karena rasa penasaran.
Untuk menjawab rasa penasaran, ia bersama sejumlah rekannya langsung mendatangi lokasi tersebut dan mengaku cukup puas dengan nuansa berbeda yang terdapat di lokasi itu.
Selain menjadi sumber pendapatan baru bagi nelayan, keberadaan objek wisata baru dapat membuka peluang bagi warga setempat untuk membuka warung makanan ringan dan makanan hasil laut berupa ciput, udang hingga kepiting goreng.
Selain spot foto bersama keluarga, khusus sore hari saat liburan, lokasi ini juga banyak digunakan untuk foto preweed, tak khayal lokasi ini jadi favorit bagi yang ingin menjadikan lata mangrove sebagai moment hari kebaghagian mereka.
Yoli dari kabupaten Seluma ini misalnya, ia bersama pasangan dan anggota kelauraganya memilih tempat ini, tak lain karena sejak semula cinta akan nuansa lingkungan asri dan tempat ini menjawab keinginanya dan tak perlu mengeluarkan biaya besar. Sebab para nelayan tak menarik punggutan apapun selain menyewa perahu untuk berkeling ataupun berfoto di atas perahu.
“Kami baru kali ini mengunjungi tempat ini, tempat ini juga tau dari info kawan, akhirnya kami putuskan untuk melakukan foto preweed dan hasilnya cukup bagus” ungkap yoli.
Untuk diketahui, setiap hari lokasi ini paling tidak didatangi 200 orang pengunjung, para istri nelayan banyak mencoba membuka usaha sampingan dalam membantu suami dengan menggelar warung kecil untuk jual makanan dan minuman.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar