Nuansa Asri di hutan Mangrove
Saat
ini pariwisata merupakan salah satu modal utama suatu daerah dalam percepatan mengenalkan
identitasnya di mata publik agar dapat cepat terkenal. Sebab mobolisasi
jaringan internet secara cepat mempublikaswikannya, jika itu menarik untuk didatangi.
Salah satu potensi tersebut terdapat di kawasan wisata hutan Mangrove di Kota
Bengkulu. Selain alamnya masih asri, ditempat ini juga, para pengunjung dapat banyak
belajar bagaimana cara membuat hutan Mangrove buatan dan olahan berupa dodol
Mangrove. Nah.. penasaran kan. Berikut kami ajak anda untuk mengujugi wisata
hutan Mangrove di RT. 16 Kampung Sejahtera Kota Bengkulu !!!!
Fikriyadi Najmi -
Kota Bengkulu
BENGKULU, SH – Ekosistem mangrove di sekitar
Pelabuhan Pulau Baai yang kini bernama Kampung Sejahtera yang terletak di
Kelurahan Sumber Jaya, Kota Bengkulu menjadi objek wisata baru yang terus
dipadati para wisatawan lokal maupun mancanegara yang didominasi kaum muda
mudi, khususnya pada saat menjelang sore hari hingga hari libur seperti Sabtu sore
hingga minggu.
“Sudah hampir setahun, lokasi hutan
mangrove di pelataran Masjid Al-Barokah ini dipadati pengunjung,” kata Erna,
warga Kampung Nelayan Kelurahan Sumber Jaya.
Erna mengatakan, sebagian besar para
pengunjung datang ke lokasi itu untuk menikmati pemandangan hamparan mangrove
dengan caramenyewa perahu atau kapal kecil bersama nahkodahnya dengan ongkos
Rp. 10 ribu rupiah pererang atau kelompok m inimal 10 orang dalam sekali
berkeliling dengan durasi 1 jam. Lokasi ini juga menyediakan pemandangan untuk
para pecinta shelfi untuk berfoto ria bersama kerabat terdekata tau orang
terkasih lainnya yang persis berada di pelataran masjid yang menghadap hutan
mangrove nan rimbun yang dibangun di atas muara dengan bahan kayu tahan air.
Sebagian besar pengunjung ke lokasi
ini pasti mengabadikan dalam bentuk foto bersama hingga swafoto pemandangan
yang cantik dan asri itu untuk diunggah ke berbagai media sosial, terutama
instagram.
Tidak hanya menikmati ekosistem
mangrove dan nuansa permukiman nelayan yang masih bernuansa tradisional saja,
pengunjung juga dapat menyewa berlayar dengan perahu.
Jika kita selama ini hanya mengenal
Buah mangrove sebagai tanaman biasa, namun di tempat ini justru beda. Buah
mangrove atas hasil kreasi para istri nelayan dapat mengubahn ya berupa sirop
mangrove dan dodol mangrove. Dua komoditi ini terus ditingkatkan agar dengan
cepat diakui di pasaran.
Disini para pengunjung dapat belajar
membuatnya di kawasan perumahan serta produk ini juga banyak juga dijual di
lokasi wisata.
“Sebagian nelayan sudah beralih
menjadi pemandu wisata dadakan dengan membawa pengunjung berkeliling hutan
mangrove,” sambung Erna.
Sementara Hendrik, seorang pengunjung
asal kota Manna Bengkulu Selatan mengatakan, dirinya mendapat informasi tentang
objek wisata baru itu lewat sejumlah foto pengunjung lainnya di instagram dan
medsos lainnya dan langsung berniat mendatangi karena rasa penasaran.
Untuk menjawab rasa penasaran, ia
bersama sejumlah rekannya langsung mendatangi lokasi tersebut dan mengaku cukup
puas dengan nuansa berbeda yang terdapat di lokasi itu.
Selain menjadi sumber pendapatan baru
bagi nelayan, keberadaan objek wisata baru dapat membuka peluang bagi warga
setempat untuk membuka warung makanan ringan dan makanan hasil laut berupa
ciput, udang hingga kepiting goreng.
Selain spot foto bersama keluarga, khusus sore hari saat liburan, lokasi ini
juga banyak digunakan untuk foto preweed, tak khayal lokasi ini jadi favorit
bagi yang ingin menjadikan lata mangrove sebagai moment hari kebaghagian
mereka.
Yoli dari kabupaten Seluma ini
misalnya, ia bersama pasangan dan anggota kelauraganya memilih tempat ini, tak
lain karena sejak semula cinta akan nuansa lingkungan asri dan tempat ini
menjawab keinginanya dan tak perlu mengeluarkan biaya besar. Sebab para nelayan
tak menarik punggutan apapun selain menyewa perahu untuk berkeling ataupun
berfoto di atas perahu.
“Kami baru kali ini mengunjungi tempat
ini, tempat ini juga tau dari info kawan, akhirnya kami putuskan untuk
melakukan foto preweed dan hasilnya
cukup bagus” ungkap yoli.
Untuk diketahui, setiap hari lokasi
ini paling tidak didatangi 200 orang pengunjung, para istri nelayan banyak mencoba
membuka usaha sampingan dalam membantu suami dengan menggelar warung kecil
untuk jual makanan dan minuman.(Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar