Senin, 19 Maret 2018

Selingkuh Dipicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga


Direktur WCC Cahaya Perempuan Provinsi Bengkulu Tety Sumeri


BENGKULU, SH - Fenomena terungkapnya perselingkuhan antar pasangan suami-istri sedang marak terjadi. Berdasarkan data WCC dari 23 kasus Kekerasan Terhadap Istri (KTI) 13 kasus dipicu karena suaminya melakukan perselingkuhan dimana ada yang membalas dengan cara yang sama sebagai bentuk kekesalan perempuan atau sakit hati mengalami kekerasan dari suaminya.

Direktur Women Crisis Centre (WCC) Cahaya Perempuan Provinsi Bengkulu Tety Sumeri mengungkapkan, Berdasarkan data WCC terjadi 23 kasus Kekerasan Terhadap Istri (KTI), 13 kasus dipicu karena suaminya melakukan perselingkuhan.

"Perempuan berselingkuh sebagai bentuk kekesalan atau sakit hati saat mengalami kekerasan dari suaminya dimana ia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa melakukannya," ungkap Tety Senin pagi (12/3/18).

Berdasarkan data Pengadilan Agama Provinsi Bengkulu, kasus perselingkuhan disebabkan Poligami pada tahun 2016 ada 4 kasus dan 2017 ada 4 Kasus. Tidak hanya laki-laki yang mampu tetapi perempuan juga bisa melakukan perselingkuhan lantaran laki-laki melanggar komitmen  pernikahan.

"Kasus perselingkuhan sekarang memang banyak terjadi, tidak hanya laki-laki, perempuan yang dikhianati juga bisa melakukan perselingkuhan," lanjut Tety.

Perselingkuhan menunjukkan bahwa ada perilaku yang salah. Berdasarkan pengalaman kasus yang ditangani WCC, kebanyakan istri mendaptkan perlakuan kekerasan meliputi kekerasan ekonomi, kekerasan sosial atau tidak boleh mengikuti aktivitas, kekerasan Psikologis yaitu karena tidak menjaga komitmen pernikahan, dan kekerasan Fisik.

"Faktor terbesar penyebab terjadinya perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya karena berbagai tindak kekerasan yang dialaminya seperti kekerasan psikologis dan fisik," jelas Tety.

Perselingkuhan sendiri merupakan perilaku yang tidak baik yang seharusnya banyak disadari oleh setiap laki-laki khususnya wanita. Diharapkan, membangun relasi harus didasarkan pada penghargaan dan hubungan kekeluargaan dengan pendidikan dan keadilan gender.

"Kita harus mendasari semua hubungan diluar komitmen kita melalui asas pengharagaan dan saling menghormati tanpa ada asas lain yang nantinya akan mengarah pada perselingkuhan,' tutup Tety.

Pakar Psikologi, Ani Suprapti mengatakan, Fenomena wanita berselingkuh rata-rata wanita memilih selingkuh karena dipicu ketidakbahagiaan pernikahan, bukan nafsu. Wanita yang dilaporkan memiliki kebahagiaan hubungan yang rendah, hampir tiga kali mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh dibandingkan para wanita yang merasa puas dengan kehidupan pernikahannya.

"Wanita lebih cenderung berselingkuh jika mereka tidak puas dengan pernikahan mereka, berbeda dengan pria lebih cenderung mencari hubungan fisik," jelas Ani.

Perbedaan tentang perselingkuhan antara pria dan wanita tidak selesai di sana. Akibat dari perselingkuhan seorang wanita bisa lebih dramatis. Seringkali, pasangan selingkuh para wanita bisa memperlakukannya dengan sangat baik, dan wanita tersebut mungkin kemudian menyadari apa yang hilang dalam pernikahannya.

"Dalam kasus perselingkuhan wanita, dia mungkin tidak menyesali perselingkuhannya karena merasa mendapatkan kebahagiaan diluar pernikahannya," lanjut Ani.

Biasanya ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang wanita selingkuh dari pasangan resminya. Diantaranya jika dalam perkawinan yang tidak dipelihara, emotional intimacy-nya menurun. Masing-masing baik suami dan istri hidup dalam dunianya sendiri tanpa adanya koneksi atau hubungan yang mendalam tentang berbagai hal.

"Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perselingkuhan ini akibat kurangnya hubungan dan komunikasi yang baik antar pasangan," sambung Ani.

Lebih lanjut, Ani mengatakan pasangan yang sudah memiliki anak akan lebih rentan mengalami penurunan emotional karena pembicaraan, waktu, dan energi suami-istri habis atau banyak tercurah ke sana.

"Kadang-kadang suami atau istri jadi terlupakan lalu hubungannya mengendur, tidak dekat lagi secara emosi dan makin lama makin menjauh," tutur Ani.

Hal inilah yang kadang menimbulkan rasa sepi, bosan, dan jenuh. Kondisi ini jadi rentan ketika ada pihak lain yang simpatik dan memenuhi kebutuhan emosi seorang wanita. Dari yang semula hubungan hanya mengobrol biasa, lalu berkembang menjadi lebih jauh.

"Biasanya untuk perempuan, intimacy secara emosi lebih penting dibanding intimacy secara fisik," sambung Ani.

Terakhir Ani mengingatkan kepada semua pasangan untuk menjauhi perbuatan selingkuh, selain tidak baik hal ini juga akan merusak hubungan keluarga yang telah dibangun. Ada baiknya semua masalah yang terjadi dibicarakan sebaik mungkin dan diselesaikan dengan baik sesegera mungkin.

"Semua masalah akan selesai dengan komunikasi yang baik, sehingga membangun komunikasi yang baik dan intens akan mampu menghindarkan semua asangan dari perselingkuhan," pungkas Ani.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar