Direktur
WCC Cahaya Perempuan Provinsi Bengkulu Tety Sumeri
BENGKULU,
SH - Fenomena terungkapnya perselingkuhan antar pasangan
suami-istri sedang marak terjadi. Berdasarkan data WCC dari 23 kasus Kekerasan
Terhadap Istri (KTI) 13 kasus dipicu karena suaminya melakukan perselingkuhan
dimana ada yang membalas dengan cara yang sama sebagai bentuk kekesalan
perempuan atau sakit hati mengalami kekerasan dari suaminya.
Direktur Women Crisis Centre (WCC) Cahaya
Perempuan Provinsi Bengkulu Tety Sumeri mengungkapkan, Berdasarkan data WCC
terjadi 23 kasus Kekerasan Terhadap Istri (KTI), 13 kasus dipicu karena
suaminya melakukan perselingkuhan.
"Perempuan berselingkuh sebagai bentuk
kekesalan atau sakit hati saat mengalami kekerasan dari suaminya dimana ia
ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa melakukannya," ungkap Tety Senin
pagi (12/3/18).
Berdasarkan data Pengadilan Agama Provinsi
Bengkulu, kasus perselingkuhan disebabkan Poligami pada tahun 2016 ada 4 kasus
dan 2017 ada 4 Kasus. Tidak hanya laki-laki yang mampu tetapi perempuan juga
bisa melakukan perselingkuhan lantaran laki-laki melanggar komitmen pernikahan.
"Kasus perselingkuhan sekarang memang
banyak terjadi, tidak hanya laki-laki, perempuan yang dikhianati juga bisa
melakukan perselingkuhan," lanjut Tety.
Perselingkuhan menunjukkan bahwa ada perilaku
yang salah. Berdasarkan pengalaman kasus yang ditangani WCC, kebanyakan istri
mendaptkan perlakuan kekerasan meliputi kekerasan ekonomi, kekerasan sosial
atau tidak boleh mengikuti aktivitas, kekerasan Psikologis yaitu karena tidak
menjaga komitmen pernikahan, dan kekerasan Fisik.
"Faktor terbesar penyebab terjadinya
perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya karena berbagai tindak kekerasan
yang dialaminya seperti kekerasan psikologis dan fisik," jelas Tety.
Perselingkuhan sendiri merupakan perilaku
yang tidak baik yang seharusnya banyak disadari oleh setiap laki-laki khususnya
wanita. Diharapkan, membangun relasi harus didasarkan pada penghargaan dan
hubungan kekeluargaan dengan pendidikan dan keadilan gender.
"Kita harus mendasari semua hubungan
diluar komitmen kita melalui asas pengharagaan dan saling menghormati tanpa ada
asas lain yang nantinya akan mengarah pada perselingkuhan,' tutup Tety.
Pakar Psikologi, Ani Suprapti mengatakan,
Fenomena wanita berselingkuh rata-rata wanita memilih selingkuh karena dipicu
ketidakbahagiaan pernikahan, bukan nafsu. Wanita yang dilaporkan memiliki
kebahagiaan hubungan yang rendah, hampir tiga kali mempunyai kecenderungan
untuk berselingkuh dibandingkan para wanita yang merasa puas dengan kehidupan
pernikahannya.
"Wanita lebih cenderung berselingkuh
jika mereka tidak puas dengan pernikahan mereka, berbeda dengan pria lebih
cenderung mencari hubungan fisik," jelas Ani.
Perbedaan tentang perselingkuhan antara pria
dan wanita tidak selesai di sana. Akibat dari perselingkuhan seorang wanita
bisa lebih dramatis. Seringkali, pasangan selingkuh para wanita bisa
memperlakukannya dengan sangat baik, dan wanita tersebut mungkin kemudian
menyadari apa yang hilang dalam pernikahannya.
"Dalam kasus perselingkuhan wanita, dia
mungkin tidak menyesali perselingkuhannya karena merasa mendapatkan kebahagiaan
diluar pernikahannya," lanjut Ani.
Biasanya ada berbagai faktor yang menyebabkan
seorang wanita selingkuh dari pasangan resminya. Diantaranya jika dalam
perkawinan yang tidak dipelihara, emotional intimacy-nya menurun. Masing-masing
baik suami dan istri hidup dalam dunianya sendiri tanpa adanya koneksi atau
hubungan yang mendalam tentang berbagai hal.
"Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya perselingkuhan ini akibat kurangnya hubungan dan komunikasi yang
baik antar pasangan," sambung Ani.
Lebih lanjut, Ani mengatakan pasangan yang
sudah memiliki anak akan lebih rentan mengalami penurunan emotional karena
pembicaraan, waktu, dan energi suami-istri habis atau banyak tercurah ke sana.
"Kadang-kadang suami atau istri jadi
terlupakan lalu hubungannya mengendur, tidak dekat lagi secara emosi dan makin
lama makin menjauh," tutur Ani.
Hal inilah yang kadang menimbulkan rasa sepi,
bosan, dan jenuh. Kondisi ini jadi rentan ketika ada pihak lain yang simpatik
dan memenuhi kebutuhan emosi seorang wanita. Dari yang semula hubungan hanya
mengobrol biasa, lalu berkembang menjadi lebih jauh.
"Biasanya untuk perempuan, intimacy
secara emosi lebih penting dibanding intimacy secara fisik," sambung Ani.
Terakhir Ani mengingatkan kepada semua
pasangan untuk menjauhi perbuatan selingkuh, selain tidak baik hal ini juga
akan merusak hubungan keluarga yang telah dibangun. Ada baiknya semua masalah
yang terjadi dibicarakan sebaik mungkin dan diselesaikan dengan baik sesegera
mungkin.
"Semua masalah akan selesai dengan
komunikasi yang baik, sehingga membangun komunikasi yang baik dan intens akan
mampu menghindarkan semua asangan dari perselingkuhan," pungkas Ani.(Frj)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar