Selasa, 06 Maret 2018

Pulau Baai dan Pasar Bantal, Dua Lokasi Rawan TRAWL


Plt Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Bengkulu, Ivan Samsurizal, ST

BENGKULU, SH - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi bekerjasama dengan stakeholder terkait, terus melakukan penertiban alat tangkap trawl. Pihaknya menargetkan dalam pekan ini operasi penertiban secara rutin dilakukan di dua lokasi yakni, di areal Pulau Baai dan dilanjutkan ke Pasar Bantal Kecamatan Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala DKP Provinsi Bengkulu, Ivan Syamsurizal, ST, mengaku, upaya penertiban tersebut baru bersifat pembinaan dan belum sampai pada penindakan hukum dimana jika ada kapal trawl yang berniat melaut akan langsung dicegah.

"Kami terus melakukan penertiban untuk semua kapal pengguna trawl agar tidak menggunakannya lagi saat melaut," ujar Ivan, Selasa (27/2/18).

Penertiban tersebut akan dilakukan di Pelabuhan Pulau Baai yang merupakan pintu keluar kapal dengan alat tangkap trawl dan dilanjutkan ke Pasar Bantal Kecamatan Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko. Kedua lokasi ini dinilai sangat rawan oleh kapal yang menggunakan trawl.

"Kita lakukan penertiban terutama di dua lokasi ini yang memang rawan dilalui para kapal yang menggunakan trawl," sambung Ivan.

Operasi penertiban yang dilakukan ini merupakan bagian dari langkah menindak-lanjuti tuntutan yang disampaikan nelayan tradisional saat aksi demo di depan kantor gubernur Bengkulu beberapa waktu lalu.
"Ini tindak lanjut dari tuntutan para nelayan saat aksi beberapa waktu lagi dan segera kita tanggapi dengan baik," lanjut Ivan.

Pencegahan yang dilakukan pihaknya berupa penyitaan alat tangkap trawl atau jarring Pukat Harimau dari kapal-kapal yang diduga membawa trawl meskipun dalam operasi tersebut pihaknya tidak menemukan kapal yang menggunakan trawl.

"Dalam operasi kami hanya menemukan ada sebagian kapal yang diketahui tidak mengurus izin yang ditetapkan berkenaan dengan kelautan dan kami lepas dengan catatan harus segera mengyus izin," jelas Ivan.

Ivan menambahkan, pihaknya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan para nelayan terakit pos pengawasan kapal yang menggunakan trawl mengingat keterbatasan SDM sehingga masyarakat diminta ikut mengawasi.

"Kami akan membentuk pos pengawasan dengan melibatkan para nelayan terutama untuk dua lokasi yang sangat rawan ini agar tidak lagi dimasuki kapal-kapal pengguna trawl," tukas Ivan.

Sementara itu Nelayan Pasar Bengkulu, Deden mengatakan, pihaknya meminta Pemerintah untuk memberantas trawl karena menyebabkan kesejahteraan nelayan berkurang akibat penyalahgunaan trawl oleh para oknum tak bertanggung jawab.

"Kami minta permasalahan trawl ini segera diselesaikan agar kami para nelayan tradisional tak lagi resah akibat para oknum yang tak bertanggung jawab ini," pungkas Deden.

// Masih Resahkan Nelayan Tradisional Bengkulu

Maraknya alat tangkap  trawl atau yang dikenal istilah jaring Pukat Harimau ini memang masih kian meresahkan bagi kalangan Nelayan Tradisional di Bengkulu.

Seperti pengakuan salah satu nelayan tradisional,  Maryulis (46) warga Pondok Besi yang telah menjadi nelayan selama 25 tahun di pantai Kota Bengkulu mengaku sangat resah dengan keberadaan kapal trawl tersebut. Ia mengecam maraknya Pukat Harimau tersebut lantaran bisa berdampak merusak ekosistem laut.

“Kami berharap sebagai nelayan tradisional, pemerintah dan aparat harus berani menertibkan trawl itu. Sebab kalau masih dibiarkan, kasian kami ini  kalau cari ikan sulit. Kasian dengan anak dan cucu kami nanti,” ujar Maryuli pada hari selasa pagi (27/02/18).

Maryuli sebagai nelayan tradisional sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah berupa alat tangkap memadahi.

“Kalu bisa pemerintah  bantu kami nelayan kecil ini. Supaya kami bisa berkembang maju,” tutupnya.

Berdasarkan pantauan awak media SH dilapangan pada hari Rabu siang (28/02/18) tampak sejumlah aparat kepolisian tengah ramai berjaga-berjaga memantau gerak para nelayan yang tengah berkumpul dipesisir pantai Kelurahan Malabero.

Salah satu nelayan S-Y (54) saat ditemui mengungkapkan, saat ini para nelayan pesisir pantai sedang menunggu kedatangan kapal trawl. Para nelayan tersebut akan melakukan sweeping untuk melakukan pencegatan besar-besaran terhadap kapal trawl yang saat ini tengah meresahkan mereka para nelayan tradisional.

“kami sekarang sedang menunggu kedatangan kapal trawl, kalu ketemu kami bakar kapal trawl itu. Karena  telah meresahkan kami,”ujar S-Y.

Hal senada juga disampaikan nelayan lainnya, N-I (45), kejadian ini sudah berulang kali terjadi dan puncakny terjadi hari ini.

“Nelayan tradisional seperti kami sudah cukup sabar. Jadi kami minta juga aparat tegas terkait trawl ini,”pungkasnya.(frj/pau)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar