Plt Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Bengkulu, Ivan Samsurizal,
ST
BENGKULU, SH - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)
Provinsi bekerjasama dengan stakeholder terkait, terus melakukan penertiban
alat tangkap trawl. Pihaknya
menargetkan dalam pekan ini operasi penertiban secara rutin dilakukan di dua
lokasi yakni, di areal Pulau Baai dan dilanjutkan ke Pasar Bantal Kecamatan
Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko.
Pelaksana
tugas (Plt) Kepala DKP Provinsi Bengkulu, Ivan Syamsurizal, ST, mengaku, upaya
penertiban tersebut baru bersifat pembinaan dan belum sampai pada penindakan
hukum dimana jika ada kapal trawl
yang berniat melaut akan langsung dicegah.
"Kami
terus melakukan penertiban untuk semua kapal pengguna trawl agar tidak menggunakannya
lagi saat melaut," ujar Ivan, Selasa (27/2/18).
Penertiban
tersebut akan dilakukan di Pelabuhan Pulau Baai yang merupakan pintu keluar
kapal dengan alat tangkap trawl dan dilanjutkan ke Pasar Bantal Kecamatan
Teramang Jaya, Kabupaten Mukomuko. Kedua lokasi ini dinilai sangat rawan oleh
kapal yang menggunakan trawl.
"Kita
lakukan penertiban terutama di dua lokasi ini yang memang rawan dilalui para
kapal yang menggunakan trawl,"
sambung Ivan.
Operasi
penertiban yang dilakukan ini merupakan bagian dari langkah menindak-lanjuti
tuntutan yang disampaikan nelayan tradisional saat aksi demo di depan kantor
gubernur Bengkulu beberapa waktu lalu.
"Ini
tindak lanjut dari tuntutan para nelayan saat aksi beberapa waktu lagi dan
segera kita tanggapi dengan baik," lanjut Ivan.
Pencegahan
yang dilakukan pihaknya berupa penyitaan alat tangkap trawl atau jarring Pukat Harimau dari kapal-kapal yang diduga
membawa trawl meskipun dalam operasi tersebut pihaknya tidak menemukan kapal
yang menggunakan trawl.
"Dalam
operasi kami hanya menemukan ada sebagian kapal yang diketahui tidak mengurus
izin yang ditetapkan berkenaan dengan kelautan dan kami lepas dengan catatan
harus segera mengyus izin," jelas Ivan.
Ivan
menambahkan, pihaknya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan para nelayan
terakit pos pengawasan kapal yang menggunakan trawl mengingat keterbatasan SDM
sehingga masyarakat diminta ikut mengawasi.
"Kami
akan membentuk pos pengawasan dengan melibatkan para nelayan terutama untuk dua
lokasi yang sangat rawan ini agar tidak lagi dimasuki kapal-kapal pengguna
trawl," tukas Ivan.
Sementara
itu Nelayan Pasar Bengkulu, Deden mengatakan, pihaknya meminta Pemerintah untuk
memberantas trawl karena menyebabkan
kesejahteraan nelayan berkurang akibat penyalahgunaan trawl oleh para oknum tak
bertanggung jawab.
"Kami
minta permasalahan trawl ini segera
diselesaikan agar kami para nelayan tradisional tak lagi resah akibat para
oknum yang tak bertanggung jawab ini," pungkas Deden.
// Masih Resahkan Nelayan Tradisional Bengkulu
Maraknya alat tangkap trawl atau yang dikenal istilah jaring Pukat Harimau ini memang masih
kian meresahkan bagi kalangan Nelayan Tradisional di Bengkulu.
Seperti
pengakuan salah satu nelayan tradisional, Maryulis (46) warga Pondok Besi
yang telah menjadi nelayan selama 25 tahun di pantai Kota Bengkulu mengaku
sangat resah dengan keberadaan kapal trawl
tersebut. Ia mengecam maraknya Pukat Harimau tersebut lantaran bisa berdampak
merusak ekosistem laut.
“Kami
berharap sebagai nelayan tradisional, pemerintah dan aparat harus berani
menertibkan trawl itu. Sebab kalau
masih dibiarkan, kasian kami ini kalau
cari ikan sulit. Kasian dengan anak dan cucu kami nanti,” ujar Maryuli pada
hari selasa pagi (27/02/18).
Maryuli
sebagai nelayan tradisional sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah berupa
alat tangkap memadahi.
“Kalu
bisa pemerintah bantu kami nelayan kecil ini. Supaya kami bisa berkembang
maju,” tutupnya.
Berdasarkan pantauan awak media SH
dilapangan pada hari Rabu siang (28/02/18) tampak sejumlah aparat kepolisian
tengah ramai berjaga-berjaga memantau gerak para nelayan yang tengah berkumpul
dipesisir pantai Kelurahan Malabero.
Salah satu nelayan S-Y (54) saat
ditemui mengungkapkan, saat ini para nelayan pesisir pantai sedang menunggu
kedatangan kapal trawl. Para nelayan tersebut akan melakukan sweeping untuk melakukan pencegatan
besar-besaran terhadap kapal trawl
yang saat ini tengah meresahkan mereka para nelayan tradisional.
“kami sekarang sedang
menunggu kedatangan kapal trawl, kalu
ketemu kami bakar kapal trawl itu.
Karena telah meresahkan kami,”ujar S-Y.
Hal senada juga
disampaikan nelayan lainnya, N-I (45), kejadian ini sudah berulang kali terjadi
dan puncakny terjadi hari ini.
“Nelayan tradisional seperti kami sudah cukup sabar. Jadi kami minta juga aparat tegas terkait trawl ini,”pungkasnya.(frj/pau)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar