Senin, 12 Maret 2018

Keributan Warnai Hearing DPRD Kota Bengkulu


// Kadishub Kota Gebrak Meja


(kiri) Suasana keributan saat Hearing DPRD Kota Bengkulu berlangsung.

(Kanan) Kadishub Kota Bengkulu, Bardin


BENGKULU, SH – Terkait tindak lanjut inspeksi mendadak (Sidak) akses jalan Pasar Barukoto dan Pasar Panorama Kota Bengkulu, akhirnya diwarnai aksi keributan hingga sampai gebrak meja yang dilakukan  oleh Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Bengkulu Bardin pada saat Hearing lanjutan komisi 2 dan komisi 3 DPRD Kota Bengkulu bersama dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Usut punya usut, aksi Bardin ini dipicu oleh pernyataan sekretaris komisi I, Hamsi, yang menyebut akan mengevaluasi beberapa kepala OPD ke penjabat Walikota. Suasana sempat semakin memanas setelah aksi Bardin disambut oleh sikap yang sama oleh anggota Komisi III, Suimi Fales. Keributan terhenti setelah pimpinan hearing, Sutardi mengajak untuk kembali fokus ke titik permasalahan.

Menanggapi kejadian ini, Hamsi saat ditemui wartawan mengatakan, sangat menyesalkan sikap Kadishub kota yang emosi. Menurutnya, pernyataan akan merekomendasikan evaluasi Kepala OPD ke Wali Kota merupakan hak dewan dalam menjalankan fungsi pengawasan. “Apabila memang tidak mampu, kita merekomendasikan untuk evaluasi dan itu haknya ke pak Wali dan kita hanya melakukan fungsi pengawasan, tapi tadi Kadis sempat emosi,” ujar Hamsi, Senin (05/03/18) lalu.

Pernyataan Hamsi ini didukung oleh Suimi Fales. Menurutnya  kritik yang disampaikan dewan memang sedikit pedas. Namun hal ini dilakukan karena murni memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Memang kritikan dewan itu pedas, demi kepentingan masyarakat, bagi OPD yang tidak senang, tidak harus menunjuk-nunjuk dewan, memang bukan saya yang ditunjuk, tapi ini bagian dari dewan,” kata Suimi.

Ditegaskan Suimi, Kepala OPD yang tidak tahan kritik lebih baik mundur dari posisinya. “Bagi OPD yang tidak tahan dikritik oleh DPR ya silahkan mundur saja, dewan ini kan mewakili
masyarakat, ya apapun keluhan masyarakat kita sampaikan,” pungkas Suimi. Sebelumnya, hearing yang sama telah dilaksanakan satu minggu yang lalu, namun belum menemukan
titik temu, karena hanya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dapat hadir.

// Pasca perseteruan, Kadishub Dipanggil Sekda


Pasca hampir adu fisik dengan Hamsi dan Suimi Fales yang merupakan anggota DPRD Kota Bengkulu pada pelaksanaan hearing bersama membahas persoalan pasar pada Senin (05/03/18) kemarin. Akhirnya Kadishub Kota Bengkulu menemui Sekda Kota Bengkulu, Marjon untuk mengklarifikasi persoalan tersebut.

Ditemui usai menemui Sekda, Bardin menuturkan saat itu dirinya hanya membela diri, lantaran saat itu anggota Dewan terlebih dahulu menunjuk-nunjuk dirinya. Sebab itu, ia mengaku akhirnya tersulut emosi karena sikap anggota DPRD tersebut. “Karena saya ditunjuk duluan kan, makanya saya nunjuk juga,” ujar Bardin membela diri.

Sementara itu, disinggung soal evaluasi yang disampaikan oleh anggota DPRD terhadap kinerjanya, Bardin menuturkan hal itu biasa saja. Menurutnya, wajar saja ada evaluasi. “Tidak masalah, silakan saja. Silakan mereka evaluasi, kalau memang kinerja kita tidak bagus ya silakan saja. Atasan kan Sekda, kalau kata Pak Sekda kinerja kita baik, ya tentunya kita menuruti apa kata Pak Sekda,” ujar Bardin. Selain itu, Bardin pun menuturkan bahwa baginya jabatan yang diembannya saat ini hanyalah titipan. Sebab itu, ia pun tak terlalu memusingkan persoalan yang ada saat ini, terlebih diakuinya saat ini masalah tersebut telah selesai dan tidak perlu diperpanjang lagi. Setelah hampir bentrok dengan Hamsi dan Suimi Fales, Anggota DPRD Kota Bengkulu, Bardin akhirnya menghadap Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bengkulu, Marjon.

Ditemui usai berdialog dengan Bardin diruangannya, Marjon mengungkapkan tujuan kedatangan Bardin menemuinya adalah untuk mengklarifikasi persoalan yang terjadi antara Kadishub itu dengan 2 orang wakil rakyat yang terjadi dalam hearing membahas soal persoalan pasar tempo hari.

“Jadi tadi beliau menghadap, melapor tentang persoalan kemarin itu. Ya terjadi miskomunikasi lah, persoalannya soal ‘bahasa’, maka itu beliau juga menyadari keduanya tidak patut mengeluarkan bahasa seperti itu, bagaimana bahasanya saya tidak dengar. Dan beliau mengatakan ya sudah gitu kan, saat ini sudah tidak ada masalah lagi,” ujar Marjon.

Menanggapi hal itu, Marjon pun berharap permasalahan ini tidak diperpanjang lagi, dan kedepannya permasalahan seperti ini tidak terulang lagi. “Kedepan kita bangun komunikasi yang lebih baik aja, mungkin suasananya juga saat itu sedang tidak kondusif. Ya sudah, tidak perlu diperpanjang, saling memaafkan. Kalau ketemu jangan pula sampai bermusuhan, tidak baik saya bilang gitu kan, kita sudah tua,” nasihat Marjon.

Sementara itu, ditanya soal kemungkinan evaluasi kerja Kepala OPD serta kinerja Dishub yang sempat disinggung oleh anggota Dewan saat hearing, Marjon pun mengatakan tak dapat serta merta mempersalahkan kinerja OPD hanya karena ada program yang belum usai dikerjakan.

“Apakah Dewan setiap hari ke lapangan? Setiap hari ketemu Dishub? Kan tidak juga. Karena kami juga kan selalu bersama ni, artinya kan kalau pelayanan masyarakat tidak baik baru dikatakan tidak baik. Tapi sejauh ini kan sesuai dengan kemampuan, kalau semua mau dilayani seketika kan tidak mungkin. Maka tidak bisa juga kita menyalahkan Dishub pelayanannya buruk. Kalau belum terlayani itu bukan buruk, ya mau gimana kalau sarananya belum mampu. Jangan hanya karena ada lampu yang belum menyala Dishub dikatakan buruk, lah memang sarananya yang belum mampu, ya saya kira dapat saling memahami lah,” tutup Marjon.(pau)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar