Senin, 19 Maret 2018

HIPMI Dukung Ekonomi Kreatif Di Bengkulu


//Bentuk Gerakan Memakmurkan Bengkulu


Berbagai hasil kerajinan industri kreatif dijual di sentral oleh-oleh khas Bengkulu di Jalan Anggut Atas, 
Kota Bengkulu

BENGKULU, SH - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Bengkulu agar terus dikelola maksimal dan dapat menopang perekonomian Bengkulu. Untuk itu, HIPMI membentuk "Gerakan Memakmurkan Bengkulu" dengan komitmen ingin mengangkat industri kreatif Bengkulu agar memiliki value dan marketable melalui lahirnya para entrepreneur-entrepreneur muda.

Ketua DPD HIPMI Bengkulu, Yuan Degama mengungkapkan, Bengkulu merupakan salah satu kota destinasi pariwisata yang memiliki potensi industri kreatif cukup besar. Namun sayangnya segala potensi tersebut belum mampu menopang perekonomian Bengkulu.
"Potensi industri kreatif Bengkulu sangat besar, hanya saja pengelolaannnya tidak tepat dan tidak maksimal," ujar Yuan jumat pagi (9/3/18)

Ekonomi kreatif di Bengkulu saat ini memang belum dikelola secara maksimal, akibatnya Bengkulu masih mengalami kemunduran dibanding dengan daerah-daerah lain di Sumatera. Padahal, apabila dikelola secara tepat, dan konsisten bisa menjadi sumber kekuatan baru bagi pertumbuhan ekonomi.

"Jika dikeola dengan baik potensi industri kreatif di Bengkulu bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya," lanjut Yuan.
Guna memaksimalkan potensi tersebut, Hipmi merespon lewat "Gerakan Memakmurkan Bengkulu" dan berkomitmen ingin mengangkat industri kreatif Bengkulu agar memiliki value dan marketable untuk lahirnya entrepreneur muda di Bengkulu.

"Kami berkomitmen melahirkan para entrepreneur muda yang bukan hanya mampu menghasilkan kreasi namun juga cermat dalam menangkap peluang pasar yang mendatangkan keuntungan dan bernilai ekonomi tinggi," sambung Yuan.

Ada faktor yang menjadi penghambat ekonomi kreatif di Bengkulu. Pertama, banyak dari generasi muda di Bengkulu belum memiliki kesadaran untuk berwirausaha dan masih terpaku menjadi karyawan, atau berpikir untuk urbanisasi ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Jakarta.

"Padahal, banyak anak- anak muda di Bengkulu yang mahir membuat kerajinan batik, kerajinan ukiran, kerajinan kerang dan lain-lain sebagai hasil warisan turun-temurun namun tidak dimanfaatkan," tutur Yuan.

Kebanyakan generasi muda belum memiliki jiwa ekonomi yang kuat. Dipikirannya hanya ingin mencari pekerjaan dengan gaji cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Nah, Hal inilah yang menjadi penghambat terbesar.

"Melalui gerakan ini kami ingin mencoba mengubah mindset mereka, dan mendidik mereka untuk memiliki jiwa entrepreneur yang tangguh dan kreatif," lanjut Yuan.

Akses permodalan juga menjadi faktor penghambat terbesar. Ongkos produksi barang-barang kerjaninan memang tidak murah, terlebih bagi pengusaha-pengusaha kecil menengah atau yang baru merintis usaha.

"Tak jarang para pengusaha kecil harus berhenti di tengah jalan karena kehabisan modal, sementara industri kerajinan kelas kakap semakin mendominasi pasar. Permasalahan modal terus menjadi momok bagi mereka," terang Yuan.

Sayangnya, persoalan semacam ini belum mampu diatasi pemerintah. Untuk itu, Yuan mengatakan, Hipmi ingin mendorong terbentuknya sebuah regulasi pembiayaan permodalan dengan bunga rendah dan akses cepat bagi para pelaku usaha kreatif di Bengkulu.

"Salah satu caranya adalah bagaimana kita bisa menyediakan akses permodalan yang murah dan bisa dimanfaatkan para pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya dan bisa membuat perekonomiannya menjadi lebih baik," tutup Yuan.

Sementara itu, Salah satu pengerajin Industri Kreatif di Kota Bengkulu, Fajri (38) mengatakan, pihaknya menilai memang industri kreatif di Bengkulu belum begitu dikenalkan ke luar, sehingga tak banyak yang melirik Bengkulu padahal industri kreatif juga salah satu pendorong kemajuan pariwisata Bengkulu.

"Pasarnya masih lokal, sehingga produk kerajinan Bengkulu belum dilirik sehingga industri kreatif tidak berkembang," tutur Fajri.

Terakhir Fajri mengharapkan pemerintah lebih memperhatikan nasibnya dan para pengrajin lainnya dan bisa mencarikan solusi terkait pengembangan industri kreatif Bengkulu agar semakin dikenal.

"Kami harap pemerintah memiliki solusi untuk masalah ini agar kami para pengrajin bisa terus menggantungkan kebutuhan ekonomi dari industri kreatif ini," pungkas Fajri.(Frj)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar