Selasa, 06 Maret 2018

Ekonomi Bengkulu Tumbuh 4.99 Persen // Diprediksi Capai 5,4 Persen


Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra saat menyampaikan Kajian Ekonomi Regional Provinsi Bengkulu pada press conference

BENGKULU, SH - Kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu triwulan IV 2017 mengalami perlambatan dengan pertumbuhan hanya mencapai 4,60 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan III 2017 lalu yang tercatat mencapai 4,90 persen. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada tahun 2017 hanya tumbuh sebesar 4,99 persen atau masih dibawah pertumbuhan nasional yang mencapai 5.07 persen (yoy), namun pada 2018 mendatang pertumbuhan ekonomi Bengkulu diprediksi akan lebih tinggi hingga mencapai 5,2-5.4 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan IV 2017 nyatanya masih mengalami perlambatan dibandingkan pada triwulan sebelumnya.

"Meskipun begitu, pertumbuhan ekonomi Bengkulu triwulan IV 2017 masih bisa dikatakan tumbuh positif," ungkap Endang, Rabu Siang (28/2/18).

Di sisi permintaan, melambatnya pertumbuhan ekonomi tersebut bersumber dari melambatnya Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) dan lnvestasi sementara di sektor penawaran dari sektor konstruksi serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobiI dan sepeda motor.

"Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini terjadi karena rendahnya realisasi investasi khususnya yang bersumber dari pembiayaan pemerintah daerah serta harga komoditas yang masih stagnan," kata Endang.

Melengkapi triwulan sebelumnya, pertumbuhan di triwulan ke IV ini membuat pertumbuhan ekonomi Bengkulu secara keseluruhan di tahun 2017 tumbuh 4,99 persen (yoy), atau lebih rendah dibandingkan kondisi nasional yang tercatat sebesar 5.07 persen (yoy).

"Pertumbuhan ekonomi Bengkulu di tahun ini dibawah rata-rata nasional," sambung Endang.

Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar 3,56 persen (yoy) atau relatif stabil dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,54 persen (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan laporan bersumber dari kelompok administered prices dan kelompok inti. Meningkatnya inflasi kelompok administered prices karena peningkatan tarif angkutan udara menjelang Hari Natal dan libur akhir tahun, sementara meningkatnya inflasi kelompok inti didorong oleh peningkatan ekspektasi konsumsi masyarakat pada triwulan laporan.

"Dengan perkembangan tersebut, laju inflasi Bengkulu pada tahun 2017 berada di bawah Iaju inflasi nasional 3,61 persen namun masih berada di atas inflasi Sumatera sebesar 3,30 persen," ungkap Endang.

Aktivitas sektor korporasi pada triwulan IV 2017 masih melanjutkan tren kontraksinya meskipun mengalami perbaikan apabila dibandingkan triwulan sebelumnya. Hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Provinsi Bengkulu mencatat perbaikan kinerja korporasi terjadi pada sektor Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan, dan sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.

"Masih berlanjutnya tren kontraksi sektor korporasi tersebut tercermin dari akses pembiayaan, likuiditas, dan rentabilitas yang masih mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya," jelas Endang.

Meskipun kinerja korporasi masih dalam tren kontraksi, eksposur perbankan di sektor korporasi mengalami perbaikan yang ditandai dengan tingkat NPL yang stabil dan wajar pada triwulan laporan. Sementara itu, ketahanan sektor rumah tangga pada triwulan IV 2017 cukup terjaga, yang tercermin dari stabilnya kinerja pembiayaan dan terjaganya tingkat risiko (NPL) kredit non produktif.

"NPL perbankan semakin membaik namun tingkat penghimpunan dana sektor rumah tangga sedikit mengalami perlambatan," lanjut Endang.

Meskipun Perekonomian Bengkulu pada tahun 2017 mengalami perlambatan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5.1-5.3 persen dengan tren meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkiraan membaiknya ekonomi Bengkulu tahun 2018 didukung oleh kenaikan permintaan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan kegiatan investasi.

"Potensi peningkatan konsumsi rumah tangga pada periode Ramadhan didukung oleh peningkatan pendapatan masyarakat seiring perkiraan perbaikan harga dunia untuk CPO dan Karet, kenaikan UMP tahun 2018, dan penerapan TPP PNS di Pemda," jelas Endang.

Di sisi sektoral, kinerja sektor utama pada 2018 diperkirakan membaik begitu juga sektor pertanian diperkirakan mengalami perbaikan, didukung juga oleh proyeksi perbaikan permintaan global atas komoditas karet dan sawit serta pelemahan sementara produksi karet Thailand. Peningkatan juga akan terjadi pada sektor transportasi karena beberapa jalur penerbangan baru saat ini telah dalam proses realisasi seperti rute Bengkulu-Bandung dan Bengkulu-Lampung.

"Perekonomian Bengkulu secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan 2017 pada kisaran 5.2-5.4 persen atau lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2017 sebesar 4.9 persen," tutur Endang.

Adapun perkiraan laju inflasi Bengkulu pada triwulan II 2018 berada pada kisaran 3,7-3,9 persen (yoy) dengan kecenderungan meningkat dibandingkan perkiraan pada triwulan I 2018. Tekanan permintaan pada bulan Ramadhan dan ldul Fltri mendorong inflasi Volatile Food (VF), Administered Price (AP) mengalami kenaikan. Dampak kenaikan AP juga diperkirakan meningkat seiring dengan proyeksi kenaikan harga minyak dunia.

"Harapan kita kedepannya pertumbuhan ekonomi Bengkulu diprediksi meningkat dan lebih tinggi dibanding sebelumnya begitu juga inflasi tetap dalam keadaan terjaga," tutup Endang.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar