Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra saat
menyampaikan Kajian Ekonomi Regional Provinsi Bengkulu pada press conference
BENGKULU,
SH - Kinerja perekonomian Provinsi Bengkulu triwulan IV
2017 mengalami perlambatan dengan pertumbuhan hanya mencapai 4,60 persen (yoy)
atau lebih rendah dibandingkan triwulan III 2017 lalu yang tercatat mencapai
4,90 persen. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada tahun 2017
hanya tumbuh sebesar 4,99 persen atau masih dibawah pertumbuhan nasional yang
mencapai 5.07 persen (yoy), namun pada 2018 mendatang pertumbuhan ekonomi
Bengkulu diprediksi akan lebih tinggi hingga mencapai 5,2-5.4 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi
Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Bengkulu
pada triwulan IV 2017 nyatanya masih mengalami perlambatan dibandingkan pada
triwulan sebelumnya.
"Meskipun begitu, pertumbuhan ekonomi
Bengkulu triwulan IV 2017 masih bisa dikatakan tumbuh positif," ungkap
Endang, Rabu Siang (28/2/18).
Di sisi permintaan, melambatnya pertumbuhan
ekonomi tersebut bersumber dari melambatnya Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi
Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) dan lnvestasi sementara
di sektor penawaran dari sektor konstruksi serta sektor perdagangan besar dan
eceran, reparasi mobiI dan sepeda motor.
"Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini
terjadi karena rendahnya realisasi investasi khususnya yang bersumber dari
pembiayaan pemerintah daerah serta harga komoditas yang masih stagnan,"
kata Endang.
Melengkapi triwulan sebelumnya, pertumbuhan
di triwulan ke IV ini membuat pertumbuhan ekonomi Bengkulu secara keseluruhan
di tahun 2017 tumbuh 4,99 persen (yoy), atau lebih rendah dibandingkan kondisi
nasional yang tercatat sebesar 5.07 persen (yoy).
"Pertumbuhan ekonomi Bengkulu di tahun
ini dibawah rata-rata nasional," sambung Endang.
Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan
IV 2017 tercatat sebesar 3,56 persen (yoy) atau relatif stabil dibandingkan
inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,54 persen (yoy). Tekanan
inflasi pada triwulan laporan bersumber dari kelompok administered prices dan
kelompok inti. Meningkatnya inflasi kelompok administered prices karena
peningkatan tarif angkutan udara menjelang Hari Natal dan libur akhir tahun,
sementara meningkatnya inflasi kelompok inti didorong oleh peningkatan
ekspektasi konsumsi masyarakat pada triwulan laporan.
"Dengan perkembangan tersebut, laju
inflasi Bengkulu pada tahun 2017 berada di bawah Iaju inflasi nasional 3,61
persen namun masih berada di atas inflasi Sumatera sebesar 3,30 persen,"
ungkap Endang.
Aktivitas sektor korporasi pada triwulan IV
2017 masih melanjutkan tren kontraksinya meskipun mengalami perbaikan apabila
dibandingkan triwulan sebelumnya. Hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)
Provinsi Bengkulu mencatat perbaikan kinerja korporasi terjadi pada sektor
Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan, dan sektor Perdagangan, Hotel,
dan Restoran.
"Masih berlanjutnya tren kontraksi
sektor korporasi tersebut tercermin dari akses pembiayaan, likuiditas, dan
rentabilitas yang masih mengalami perlambatan dibandingkan triwulan
sebelumnya," jelas Endang.
Meskipun kinerja korporasi masih dalam tren
kontraksi, eksposur perbankan di sektor korporasi mengalami perbaikan yang
ditandai dengan tingkat NPL yang stabil dan wajar pada triwulan laporan.
Sementara itu, ketahanan sektor rumah tangga pada triwulan IV 2017 cukup
terjaga, yang tercermin dari stabilnya kinerja pembiayaan dan terjaganya
tingkat risiko (NPL) kredit non produktif.
"NPL perbankan semakin membaik namun
tingkat penghimpunan dana sektor rumah tangga sedikit mengalami
perlambatan," lanjut Endang.
Meskipun Perekonomian Bengkulu pada tahun
2017 mengalami perlambatan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan
II 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5.1-5.3 persen dengan tren meningkat
dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkiraan membaiknya ekonomi Bengkulu tahun
2018 didukung oleh kenaikan permintaan konsumsi rumah tangga, konsumsi
pemerintah dan kegiatan investasi.
"Potensi peningkatan konsumsi rumah
tangga pada periode Ramadhan didukung oleh peningkatan pendapatan masyarakat
seiring perkiraan perbaikan harga dunia untuk CPO dan Karet, kenaikan UMP tahun
2018, dan penerapan TPP PNS di Pemda," jelas Endang.
Di sisi sektoral, kinerja sektor utama pada
2018 diperkirakan membaik begitu juga sektor pertanian diperkirakan mengalami
perbaikan, didukung juga oleh proyeksi perbaikan permintaan global atas
komoditas karet dan sawit serta pelemahan sementara produksi karet Thailand.
Peningkatan juga akan terjadi pada sektor transportasi karena beberapa jalur
penerbangan baru saat ini telah dalam proses realisasi seperti rute
Bengkulu-Bandung dan Bengkulu-Lampung.
"Perekonomian Bengkulu secara
keseluruhan tahun 2018 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan 2017 pada
kisaran 5.2-5.4 persen atau lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2017
sebesar 4.9 persen," tutur Endang.
Adapun perkiraan laju inflasi Bengkulu pada
triwulan II 2018 berada pada kisaran 3,7-3,9 persen (yoy) dengan kecenderungan
meningkat dibandingkan perkiraan pada triwulan I 2018. Tekanan permintaan pada
bulan Ramadhan dan ldul Fltri mendorong inflasi Volatile Food (VF),
Administered Price (AP) mengalami kenaikan. Dampak kenaikan AP juga
diperkirakan meningkat seiring dengan proyeksi kenaikan harga minyak dunia.
"Harapan kita kedepannya pertumbuhan
ekonomi Bengkulu diprediksi meningkat dan lebih tinggi dibanding sebelumnya
begitu juga inflasi tetap dalam keadaan terjaga," tutup Endang.(Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar