Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni
BENGKULU,
SH - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu tahun ini
berkomitmen melakukan tindak lanjut program nasional dalam rangka meningkatkan
peningkatan gizi masyarakat. Pemprov juga mengajak pemerintah kabupaten/kota
untuk mengurangi atau membebaskan Bengkulu dari potensi permasalahan stunting
atau kurang gizi kronis hingga menyebabkan pertumbuhan anak menjadi kerdil.
Plt Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin
Mersyah, MMA, melalui Asisten III Setda Provinsi Bengkulu, H. Gotri Suyanto,
SE., MSoc, Sc, mengajak pemerintah daerah Bengkulu untuk terus memajukan
program nasional terkait peningkatan gizi masyarakat.
"Mari kita wujudkan Indonesia bebas anak
kerdil (stunting)," ujar Gotri, Kamis siang (29/2/18).
Anak kerdil (stunting) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh
asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting ini terjadi dimulai saat janin
masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.
"Permasalahan stunting masih banyak terjadi, oleh karenanya mari kita entaskan
permasalahan stunting dengan mencukupi gizi yang diperlukan terutama untuk
anak," jelas Gotri.
Menurut Badan dunia UNICEF, stunting
didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan
tinggi di bawah minus (stunting
sedang dan berat) dan minus tiga (stunting
kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.
"Selain pertumbuhan terhambat, stunting
juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan
kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang
buruk," jelas Gotri.
Stunting
tak lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah
satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi.
Stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa faktor
seperti kurang gizi kronis dalam waktu lama, retardasi pertumbuhan
intrauterine, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, perubahan
hormon yang dipicu oleh stres, serta sering menderita infeksi di awal kehidupan
seorang anak.
"Stunting
disebabkan dari beberapa atau gabungan semua faktor ini," sambung Gotri.
Adapun gejala-gejala stunting adalah
diantaranya anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh
cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, Berat badan
rendah untuk anak seusianya, Pertumbuhan tulang tertunda.
"Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti
bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin
telah terjadi di masa lalu seorang," sambung Gotri.
Terakhir Gotri mengungkapkan, Pemerintah
Provinsi Bengkulu mendukung penuh kegiatan pencegahan kasus stunting ini. Untuk
itu pihaknya bekerja bersama-sama untuk mengatasi permasalahan terkait dengan
gizi.
"Apabila ini bisa diatasi maka ini
adalah program investasi bangsa karena anak-anak memiliki prestasi yang tinggi
dan menjadi generasi yang lebih baik untuk kedepannya," tutup Gotri.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni, MKes., MSi, mengatakan, pihaknya terus
gencar untuk ikut mengatasi gizi buruk di Provinsi Bengkulu terutama masalah stunting dimana secara nasional pada
2017 mencapai 37,5 persen sedangkan di Provinsi Bengkulu mencapai 29,4 persen
dimana ada satu kabupaten menjadi tingkat prioritas Pemerintah Pusat yaitu
Kaur.
"Sesuai intruksi menteri dalam negeri
dan menteri kesehatan untuk sama-sama lintas OPD, lintas sektor untuk melakukan
intervensi anak kerdil (stunting) di Kabupaten/kota," ujar Herwan.
Permasalahan stunting ini merupakan permasalahan yang kronis dimana permasalahan
kurang gizi ini dimulai dari masa hamil, masa bayi sampai dua tahun kehidupan.
Untuk itu memang harus dipersiapkan secara bersama dan banyak lintas OPD yang
akan terlibat mulai dari Dinkes, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kelautan dan
Perikanan.
"Kita menggandeng semua pihak untuk ikut
membantu mengatasi permasalahan ini agar bisa diatasi dan kasus stunting tidak
lagi terjadi," sambung Herwan.
Penyebab stunting
bisa jadi mulai dari Faktor kemiskinan, pola asuh yang salah, lingkungan,
kecacingan, diare, termasuk ibu hamil yang mengalami anemia. semua hal ini
ahrus benar-benar diperhatikan dengan lebih serius.
"Oleh karena itu seluruh lintas OPD dan
instansi terkait diminta ikut terjun langsung mengatasi permasalahan ini agar
cepat selesai dan bisa diminimalisir atau bahkan takkan terjadi lagi,"
pungkas Herwan.(Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar