Selasa, 06 Maret 2018

2018, Wujudkan Bengkulu Bebas Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni

BENGKULU, SH - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu tahun ini berkomitmen melakukan tindak lanjut program nasional dalam rangka meningkatkan peningkatan gizi masyarakat. Pemprov juga mengajak pemerintah kabupaten/kota untuk mengurangi atau membebaskan Bengkulu dari potensi permasalahan stunting atau kurang gizi kronis hingga menyebabkan pertumbuhan anak menjadi kerdil.

Plt Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA, melalui Asisten III Setda Provinsi Bengkulu, H. Gotri Suyanto, SE., MSoc, Sc, mengajak pemerintah daerah Bengkulu untuk terus memajukan program nasional terkait peningkatan gizi masyarakat.

"Mari kita wujudkan Indonesia bebas anak kerdil (stunting)," ujar Gotri, Kamis siang (29/2/18).
Anak kerdil (stunting) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting ini terjadi dimulai saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

"Permasalahan stunting masih banyak terjadi, oleh karenanya mari kita entaskan permasalahan stunting dengan mencukupi gizi yang diperlukan terutama untuk anak," jelas Gotri.

Menurut Badan dunia UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

"Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk," jelas Gotri.

Stunting tak lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi. Stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa faktor seperti kurang gizi kronis dalam waktu lama, retardasi pertumbuhan intrauterine, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, perubahan hormon yang dipicu oleh stres, serta sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.

"Stunting disebabkan dari beberapa atau gabungan semua faktor ini," sambung Gotri.

Adapun gejala-gejala stunting adalah diantaranya anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya, Berat badan rendah untuk anak seusianya, Pertumbuhan tulang tertunda.

"Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang," sambung Gotri.

Terakhir Gotri mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Bengkulu mendukung penuh kegiatan pencegahan kasus stunting ini. Untuk itu pihaknya bekerja bersama-sama untuk mengatasi permasalahan terkait dengan gizi.

"Apabila ini bisa diatasi maka ini adalah program investasi bangsa karena anak-anak memiliki prestasi yang tinggi dan menjadi generasi yang lebih baik untuk kedepannya," tutup Gotri.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni, MKes., MSi, mengatakan, pihaknya terus gencar untuk ikut mengatasi gizi buruk di Provinsi Bengkulu terutama masalah stunting dimana secara nasional pada 2017 mencapai 37,5 persen sedangkan di Provinsi Bengkulu mencapai 29,4 persen dimana ada satu kabupaten menjadi tingkat prioritas Pemerintah Pusat yaitu Kaur.

"Sesuai intruksi menteri dalam negeri dan menteri kesehatan untuk sama-sama lintas OPD, lintas sektor untuk melakukan intervensi anak kerdil (stunting) di Kabupaten/kota," ujar Herwan.

Permasalahan stunting ini merupakan permasalahan yang kronis dimana permasalahan kurang gizi ini dimulai dari masa hamil, masa bayi sampai dua tahun kehidupan. Untuk itu memang harus dipersiapkan secara bersama dan banyak lintas OPD yang akan terlibat mulai dari Dinkes, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kelautan dan Perikanan.

"Kita menggandeng semua pihak untuk ikut membantu mengatasi permasalahan ini agar bisa diatasi dan kasus stunting tidak lagi terjadi," sambung Herwan.

Penyebab stunting bisa jadi mulai dari Faktor kemiskinan, pola asuh yang salah, lingkungan, kecacingan, diare, termasuk ibu hamil yang mengalami anemia. semua hal ini ahrus benar-benar diperhatikan dengan lebih serius.

"Oleh karena itu seluruh lintas OPD dan instansi terkait diminta ikut terjun langsung mengatasi permasalahan ini agar cepat selesai dan bisa diminimalisir atau bahkan takkan terjadi lagi," pungkas Herwan.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar