Minggu, 11 Februari 2018

Kekerasan Pada Perempuan Terjadi Lagi Di Bengkulu, Auzia Meregang Nyawa Di Tangan Sang Mantan

// Pelaku Terancam Hukuman Mati 

Alm.Auzia Umi Detra (16)               DN, pelaku pembunuhan

            Innalillahi wa inna illaihi radjiun. Miris dan tragis nasib yang menimpa Auzia Umi Detra (17), siswi SMAN 4 Kota Bengkulu yang dinyatakan hilang sejak Kamis, 1 Februari 2018 lalu dan berhasil ditemukan pihak kepolisian Polda Bengkulu dengan kondisi sudah tidak bernyawa lagi dan  tubuh korban membusuk. Jasad korban ditemukan di kawasan wisata Pantai Lentera Merah Pulau Baai Kota Bengkulu, Rabu pagi, (7/2/18), bagaimana kronologi kejadian, hingga pelaku DN yang merupakan pacar korban tegah melakukan perbuatan sadis dan memilukan yang merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kota Bengkulu ini. Berikut penelusuran khusus tim redaksi Suara Hukum Bengkulu !!

FIKRIYADI – KOTA BENGKULU

BENGKULU, SH – Tak ada yang menyangka jika jodoh, maut dan rezeki datangnya dari Allah SWT dan kehendaknya pula 3 hal tersebut di sampaikan kepada kita sebagai hambanya dengan cara yang tak disangka-sangka, ada yang berupa kecerian, namun adapula berupa duka mendalam untuk orang terkasih di sekelilingnya. Senin sore adalah hari kelam dan gelap bagi siswi yang duduk di bangku kelas XI berparas cantik ini menghembuskan napas terakhirnya.

            Teka-teki hilangnya Auzia Umi Detra (17) siswa SMAN 4 Kota Bengkulu akhirnya terjawab sudah. Auzia ditemukan tewas mengenaskan di kawasan Lentera Merah, Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Terungkapnya kasus hilangnya Auzia atas kerja keras Tim Opsnal Jatanras Polda Bengkulu, Selasa malam (6/2/18) yang berhasil membekuk satu orang pelaku berinisial DN (17) yang tidak lain adalah pacar korban di rumah temannya di jalan Jenggalu tak jauh dari SMAN. 7 Plus Kota Bengkulu.

            Dari hasil penyelidikan dan pengembangan yang dilakukan tim Opsnal Jatanras Polda Bengkulu DN mengakui jika membunuh Auzia karena ingin menguasai harta korban. Akibat terus didesak pihak kepolisian, akhirnya DN bersedia menunjukkan lokasi Auzia dibuang, tepatnya di semak-semak pohon Bakau Lentera Merah. Saat ditemukan, kondisi jenazah Auzia sangat mengenaskan, yakni sudah membusuk dan terpisah-pisah yang diduga dimakan binatang buas, sisa jenazah Auzia yang hanya tinggal bahu hingga tangan dan paha hingga kaki yang masih mengenakan sepatu sekolahnya dan traning olahraga warna biru dan baju batik merah yang sudah tercabik-cabik langsung diperiksa oleh tim dokter Biddokes di RS. Bhayangkara Polda Bengkulu untuk dilakukan visum, karena untuk dilakukan otopsi tidak memungkinkan akibat jenazah tidak lagi utuh. “Jika dilihat dari ciri-cirinya, sudah dipastikan itu jenazah Auzia,” jelas Efendi salah satu keluarga korban.

            Dari keterangan DN yang saat ini sebagai tersangka, diketahui bahwa dia yang sengaja menghabisi nyawa Auzia pada Kamis sore (1/2/18) lalu. Pembunuhan itu dilakukan tidak jauh dari tempat jenazah yakni kurang lebih 500 meter dari lokasi TKP pembunuhan. Dir Reskrimum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Hariono, SH, mengatakan, dari hasil penelusuran tim Opsnal Jatanras Polda Bengkulu saat menggeledah kamar kos DN, tim menemukan barang bukti 1 buah tikar dengan bercak darah dan Palu. Selain itu, di TKP penemuan jenazah Auzia pun tim menemukan satu buah gunting yang diduga digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban.

            Untuk diketahui,  DN sendiri adalah warga pendatang dari Kabupaten Lebong bersama keluarganya, namun DN memilih untuk mengontrak kos-kosan. Belum tau motif terdalam, mengapa DN lebih memilih mengekos ketimbang tinggal bersama keluarag besarnya. Korban sendiri terakhir kali keluar rumah pada 1 Februari 2018 menggunakan celana olahraga sekolah berwarna biru dan baju batik merah dengan mengendarai sepeda motor jenis matic. Korban yang kesehariannya berjilbab tersebut adalah warga gang Suakmiling RT. 10 RW 04  Kelurahan Timur Indah Kota Bengkulu.

            Informasi sebelumnya, Auzia Umi Detra yang merupakan siswi SMAN 4 Kota Bengkulu sebelumnya telah diinformasikan dikabarkan sebagai orang hilang selama sepekan yang dilaporkan pihak keluarga tak kembali kerumah dan tanpa kabar. “Saksi-saksi teman dekat korban sudah diperiksa sejak Selasa malam, kepolisian terus mengembangkan apa motif pembunuhan ini, kita masih menunggu hasil autopsi. Mengenai apakah ada tersangka lain itu masih dikembangkan” ujar Direktur Reskrim Umum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Haryono, SH.

// Demi Bayar Kos, Pelaku Habisi Korban Dengan Keji

            Dari keterangan Polisi, pelaku menghabisi nyawa korban karena terdesak kebutuhan uang untuk membayar kos yang ditempatinya. Dari data yang terhimpun sementara pihak kepolisian, diduga kuat pembuhunan tersebut dilator belakangi faktor ekonomi karena DN sedang membutuhkan uang untuk membayar kontrakan yang telah menunggak hampir 3 bulan. Kemudian DN merencanakan untuk menghabisi korban demi untuk dapat menjual telepon genggam dan cincin ditangan korban. "Pelaku mengambil handphone dan cincin emas milik korban, uang hasil penjualannya digunakan untuk membayar tunggakan kos yang telah menunggak beberapa bulan." terang Kombes Pol. Pudyo.

Adapun smarhanphone milik korban oleh pelaku dijual pada tanggal 2 Februari 2018 seharga Rp. 900 ribu. Dari uang itu digunakan untuk membayar kos pelaku yang nunggak 3 bulan. Dari keterangan DN juga diperoleh informasi bahwa korban dihabisi nyawanya pada Kamis 1 Februari 2018 lalu dengan menggunakan Palu. Namun untuk mengetahui pasti dimana letak benda keras itu bersarang ditubuh korban, Polisi masih menunggu hasil otopsi.

// Bagaimana Kronologi Pembunuhannya?

            Pada hari Kamis 1 Februari 2018 pukul 08.00 WIB, pelaku menghubungi korban melalui pesan Watshapp dengan maksud untuk memberikan kejutan hadiah ulang tahun kepada korban. Korban kemudian menemui pelaku di samping rumah rekan pelaku pada pukul 15.00 WIB seusai pulang sekolah. Bersama korban, pelaku kemudian menuju ke Lentera Merah dengan tujuan memberikan kejutan hadiah ulang tahun. Setiba di kawasan Lentera Merah, pelaku kemudian menutup mata korban dengan masker korban dan mengikat tangan korban menggunakan lakban coklat yang telah disiapkan pelaku. 

Namun, bukannya kejutan hadiah ulang tahun yang diterima korban melainkan pukulan palu dari pelaku. Awalnya korban sempat melawan kemudian pelaku kembali memukul kepala korban sebanyak 3 kali. Korbanpun terjatuh dan tak sadarkan diri. Pelaku kemudian mengambil hanphone milik korban. Sementara korban oleh pelaku diseret ke rawa-rawa. Helm, jam tangan, gunting dan lakban oleh pelaku juga dibuang.

Usai melakukan tindakan itu, pelaku kemudian meninggalkan lokasi dengan menggunakan motor metic milik korban menuju rumah temannya di Kelurahan Sukarami untuk meminjam Obeng agar dapat mencopot plat kendaraan milik korban untuk menghilangkan jejak. Dengan kendaraan milik korban, pelaku sempat berkeliling di seputaran kota, namun kemudian kendaraan milik korban ditinggalkannya di Lapangan Golf. Pelaku kemudian pulang dengan berjalan kaki menuju rumah rekannya. Hingga akhirnya, perbuatan pelaku terungkap oleh Polisi. Pelaku juga "dihadiahi" timah panas dipaha kanannya oleh Polisi.

Paman Koban: Nyawa Balas Nyawa, Tapi Kita Punya Hukum. Paman korban Harman Dahuri dan pihak keluarga, mengaku sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa keponakannya. Kepada media, Harman mengaku ingin nyawa dibalas nyawa, namun ia menghormati hukum yang berlaku. "Mau hati nyawa dibalas nyawa, tapi kita tidak mungkin berlaku demikian, kita punya hukum dinegara ini," kata Harman, Rabu sore di kediaman rumah Duka di gang Suakmiling RT. 10 RW 04 Kelurahan Timur Indah Kecamatan gading Cempaka Kota Bengkulu,” ucap tegas Harman. "Kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai aturan yang berlaku," tambah Harman. Dikatakan Harman, jenazah korban akan dimakamkan di TPU Tanjung Agung Bukit Macan Kamis pagi (8/2/18).

Sementara itu, sejak berita ini viral dimasyarakat, rasa duka dan ucapan langsung nitizen dari berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Twiterr hingga watshApp terus diucapkan, mulai dari kalangan masyarakat biasa, para pejabat hingga kabar berita ini banyak diucapkan berbagai pihak, khususnya kepada para tim gabungan pihak kepolisian dan relawan yang terlibat dalam pencarian kurang lebih satu minggu. Tak khayal juga, banyak nitizen yang memposting foto tersangka di medsos dengan ucapan miris.

// Banyak Spekulasi Motif Menghabisi Korban
            Kematian korban Auziah Umi Detra yang dihabisi pacarnya sendiri, memunculkan banyak spekulasi tentang motif pelaku hingga nekat menghabisi sang pacar. Dari pemeriksaan awal terhadap jenazah korban, memang ada dugaan kuat bila korban telah dicabuli sebelum akhirnya dihabisi oleh pelaku. “Iyaa ada dugaan seperti itu yaa (dicabuli),,, karena korban dan tersangka ini kan sudah kenal lama,” terang Dir Reskrim Umum Polda, Kombes Pol. Pudyo Haryono.

            Polisi sebenarnya masih terus mendalami motif aksi keji pelaku, yang rupanya juga merupakan salah satu atlet cabor karate ini. Di sisi lain, korban diketahui Auzia menggunakan perhiasan emas berupa cincin dan memiliki smartphone. Diduga hal inilah, yang membuat pelaku berfikir singkat hingga nekat menghabisi korban.

// Polda Bengkulu Pastikan Tara Tidak Dimutilasi
Kombes Pol Pudyo Hariono, SH

            Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Hariono, SH, memastikan jenazah tidak dimutilasi. “Tidak dimutilasi,” aku DN pelaku pembunuhan saat ditanya Pudyo apakah dia memutilasi Tara. Terkait kondisi jenazah Tara yang sebagian tubuhnya ada yang terpisah, Pudyo menyebut sebab lokasi jenazah Tara ditemukan yaitu dialam terbuka dan dekat dengan air. Sehingga kemungkinan bagian jenazah tersebut ada yang diserang oleh hewan liar.

“Jadi kalau ada yang tinggal tulang itu karena kemungkinan dimakan hewan. Itu kan ditemukan di rawa-rawa,” kata Pudyo. Selain itu, kondisi jenazah yang diperkirakan sudah lama tewas juga menyebabkan sebagian tubuh jenazah rusak. “Jadi tidak benar itu kalau ada berita yang menyebut korban mutilasi. Itu tidak benar, tolong diluruskan,” tegas Pudyo.

// Tara Dibunuh Pakai Palu


            Terungkap fakta bahwa Tara dibunuh menggunakan palu oleh DN (17) yang tak lain adalah pacarnya sendiri. Dir Reskrimum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Hariono, SH, mengatakan, palu tersebut ditemukan oleh tim Opsnal Jatanras Polda Bengkulu di kamar kosan DN.

“Iya pakai palu,” kata DN saat ditanya oleh Dir Reskrimum Polda Bengkulu, Kombes Pol Pudyo Hariono soal pakai apa dia membunuh Tara. Untuk kepastian dibagian tubuh mana palu tersebut dihantamkan, Pudyo menyebut pihaknya masih menunggu hasil otopsi dari pihak RSMY Bengkulu. Data terhimpun, dari TKP penemuan jenazah Tara juga ditemukan 1 botol Tupperware, helm, dan sepatu.

// Kamis Siang Tara Dimakamkan

Suasana rumah duka di gang Suakmiling RT. 10 RW 04 Kelurahan Timur Indah, Kota Bengkulu

            Pihak keluarga merencanakan pemakaman Kamis siang (8/2/18) di Pemakaman Umum (TPU) Bukit Bacang, Tanjung Agung. Setelah korban ditemukan, keluarga, tetangga, teman teman korban berbondong bondong menuju ke rumah korban di gang Suakmiling RT. 10 RW 04 Kelurahan Timur Indah, Kota Bengkulu. Saat jenazah korban berhasil ditemukan, situasi rumah korban ramai dikunjungi keluarga. Siswa SMAN 4 juga terlihat ramai mengunjungi kediaman Tara.


Menurut salah satu teman korban yang tidak mau namanya disebutkan mengatakan, proses belajar mengajar sekolah terpaksa dihentikan karena semuanya ingin mengunjungi rumah Tara. “Jam pulang sekolah sebenarnya belum selesai, tapi karena  siswa dan para guru ingin mengunjungi rumah teman kami, akhirnya sekolah di selesaikan,” tutupnya.(tim/SH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar