Budi
Hardiyono, S.Si, ME Saat Rilis di BPS Provinsi Bengkulu
BENGKULU, SH - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat,
Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,99 persen. Angka ini menunjukkan bahwa
Bengkulu berada di peringkat 17 nasional dari 82 kota di Indonesia yang
dipantau oleh BPS. Inflasi tertinggi terjadi di Bandar Lampung sebesar 1,42 persen.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Bengkulu Budi
Hardiyono, S.Si, ME, menjelaskan, lonjakan inflasi ini utamanya disebabkan oleh
komoditas beras yang memberikan andil sebesar 0,31 persen terhadap inflasi
bulan Januari. Disusul oleh daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, dan
komoditi makanan lainnya.
Budi mengatakan, tingginya harga beras di sepanjang bulan
desember karena adanya penimbunan alias penyimpanan beras merk tertentu, yang
tidak dijual oleh salah satu supermarket besar di Bengkulu. Disaat petugas
pencacah bertanya, pemilik supermarket beralasan mereka tidak mau menjual beras
merk tertentu karena harga jual lebih rendah dari harga sewaktu mereka membeli.
“Ada penimbunan atau
penyimpanan beras merk tertentu oleh supermarket besar yang ada di Bengkulu.
Saat petugas kami bertanya, mereka beralasan tidak menjual beras merk itu bukan
karena berasnya tidak masuk, namun menyimpan beras karena harga beras yang
diatur oleh Menteri Perdagangan di bawah harga beli mereka. Jika mereka jual
maka akan rugi, maka tidak mereka keluarkan. Itulah salah satu penyebab kenapa
berasnya banyak tapi harganya naik,” Jelas Budi.
Bukan hanya beras, beberapa bahan pangan juga mencatat
inflasi seperti daging Ayam Ras sebesar 0,19 persen, bahan bakar rumah tangga
sebesar 0,06 persen, Cabai Merah sebesar 0,05 persen. Sedangkan Bawang Merah menyumbang
angka deflasi sebesar 0,02 persen.
Dari 23 Kota di wilayah Sumatera, 21 kota mengalami
inflasi dan 2 kota mengalami deflasi. Dengan angka inflasi sebesar 0,99 persen,
Bengkulu menempati urutan ke 5 di wilayah Sumatera. Inflasi tertinggi terjadi
di kota Bandar Lampung sebesar 1,42 persen, dan terendah di kota Tanjung Pinang
sebesar 0,23 persen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar