Endang Kurnia Kepala
kantor BI Perwakilan Bengkulu
BENGKULU, SH – Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Provinsi
Bengkulu Endang Kurnia mengakui, Bengkulu saat ini terjadi perlambatan
pertumbuhan ekonomi di posisi 4,99 persen, namun pertumbuhan ekonomi riil
Bengkulu justru meningkat, karena inflasi berhasil ditekan rendah ke posisi
3,56 persen. Hal ini bukan menjadi persoalan Provinsi Bengkulu saja, tapi juga
se-wilayah Sumatera dan nasional, seiring dengan perlambatan ekonomi Negara
Indonesia.
“Posisi pertumbuhan masih
diatas Inflasi. Ini membuktikan bahwa Ekonomi riil Bengkulu meningkat. Artinya
menanam aset di Bengkulu, return nya positif,” Jelas Endang.
BI menilai terdapat 3 hal yang perlu dilaksanakan sebaik-baiknya
oleh Pemerintah Daerah yakni, serapan anggaran tahun 2018 harus lebih baik dari
tahun 2017 lalu, dimana prosesnya harus dimulai di awal tahun, lalu mempermudah
investasi swasta masuk ke Bengkulu, selanjutnya fokus kepada pengembangan
infrastruktur strategis, seperti Pelabuhan Pulau Baai. Seperti baru-baru ini
adanya pembangunan Hotel Mercure. Dan yang ketiga,
“Ketiga hal
ini harus segera dilakukan, Khusus untuk KEK, kami menilai Pemprov dan Pelindo
sudah sangat tepat upayanya. BI sangat mengapresiasi dan akan tetap mendukung
upaya untuk menjadikan Pulau Baai sebagai KEK,” tutup Endang.
Dyah Anugrah, Kepala BPS Provinsi Bengkulu
Sementara, kepala BPS Provinsi Bengkulu Dyah Anugrah Kuswardani
mengatakan, tahun 2017 lalu ekonomi Provinsi Bengkulu ternyata menjadi titik
nadir atau titik terendah dalam 3 tahun terakhir. Di tahun 2017, ekonomi
Bengkulu hanya tumbuh sebesar 4,99 persen, melambat dibandingkan tahun 2016
yang tumbuh 5,29 persen. Dan di tahun 2015 yang mencapai 5,13 persen.
Provinsi Bengkulu menjadi provinsi yang terkceli
menyumbang perekonomian di Pulau Sumatera, yakni hanya 2,03 persen saja. Angka
ini jauh berada di bawah Provinsi Riau dan Sumatera Utara, yang sangat berpengaruh
terhadap perekonomian di Pulau Sumatera. Mereka menyumbang sebesar
masing-masing 23,57 persen dan 22,84 persen.
Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Bengkulu
sebesar 4,99 persen, pertumbuhan tertinggi dari sektor lapangan usaha
adalah jasa lainnya sebesar 10,93 persen disusul penyediaan akomodasi dan makan
minum sebesar 9,09 persen. Jasa pedagangan besar dan eceran hanya
menyumbang 8,69 persen, real estate sebesar 4,59 persen, sedangkan
pertanian, kehutanan dan perikanan, hanya sebesar 3,27 persen.
Penurunan ekonomi Bengkulu ini sebenarnya tidak ter
prediksi, karena diawal tahun 2017 tepatnya di triwulan 1 dan triwulan 2,
ekonomi Bengkulu masih berada di atas 5,28 persen. Namun tsunami itu terjadi
pada triwulan 3 dan triwulan 4, yang menyebabkan ekonomi Bengkulu jatuh.
“Triwulan 1 ekonomi kita sebesar 5,21 persen, triwulan 2
sebesar 5,28 persen, triwulan ke 3 jatuh sebesar 4,90 persen, dan triwulan ke 4
sebesar 4,60 persen saja. Seperti itulah, gambaran perekonomian Bengkulu. Kita
harap tahun 2018 ini, kita dapat bangkit dan mengejar ketertinggalan,” tutup Dyah.(Frj)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar