Minggu, 18 Februari 2018

BI: 2018, Ekonomi Bengkulu Bisa Tumbuh Diatas 5 Persen

Endang Kurnia Kepala kantor BI Perwakilan Bengkulu

BENGKULU, SH – Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Provinsi Bengkulu Endang Kurnia mengakui, Bengkulu saat ini terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di posisi 4,99 persen, namun pertumbuhan ekonomi riil Bengkulu justru meningkat, karena inflasi berhasil ditekan rendah ke posisi 3,56 persen. Hal ini bukan menjadi persoalan Provinsi Bengkulu saja, tapi juga se-wilayah Sumatera dan nasional, seiring dengan perlambatan ekonomi Negara Indonesia.

“Posisi pertumbuhan masih diatas Inflasi. Ini membuktikan bahwa Ekonomi riil Bengkulu meningkat. Artinya menanam aset di Bengkulu, return nya positif,” Jelas Endang.

BI menilai terdapat 3 hal yang perlu dilaksanakan sebaik-baiknya oleh Pemerintah Daerah yakni, serapan anggaran tahun 2018 harus lebih baik dari tahun 2017 lalu, dimana prosesnya harus dimulai di awal tahun, lalu mempermudah investasi swasta masuk ke Bengkulu, selanjutnya fokus kepada pengembangan infrastruktur strategis, seperti Pelabuhan Pulau Baai. Seperti baru-baru ini adanya pembangunan Hotel Mercure. Dan yang ketiga,

“Ketiga hal ini harus segera dilakukan, Khusus untuk KEK, kami menilai Pemprov dan Pelindo sudah sangat tepat upayanya. BI sangat mengapresiasi dan akan tetap mendukung upaya untuk menjadikan Pulau Baai sebagai KEK,” tutup Endang.

Dyah Anugrah, Kepala BPS Provinsi Bengkulu

Sementara, kepala BPS Provinsi Bengkulu Dyah Anugrah Kuswardani mengatakan, tahun 2017 lalu ekonomi Provinsi Bengkulu ternyata menjadi titik nadir atau titik terendah dalam 3 tahun terakhir. Di tahun 2017, ekonomi Bengkulu hanya tumbuh sebesar 4,99 persen, melambat dibandingkan tahun 2016 yang tumbuh 5,29 persen. Dan di tahun 2015 yang mencapai 5,13 persen.

Provinsi Bengkulu menjadi provinsi yang terkceli menyumbang perekonomian di Pulau Sumatera, yakni hanya 2,03 persen saja. Angka ini jauh berada di bawah Provinsi Riau dan Sumatera Utara, yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Pulau Sumatera. Mereka menyumbang sebesar masing-masing 23,57 persen dan 22,84 persen.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Bengkulu sebesar 4,99 persen, pertumbuhan tertinggi dari sektor lapangan usaha adalah jasa lainnya sebesar 10,93 persen disusul penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,09 persen. Jasa pedagangan besar dan eceran hanya menyumbang 8,69 persen, real estate sebesar 4,59 persen, sedangkan pertanian, kehutanan dan perikanan, hanya sebesar 3,27 persen.

Penurunan ekonomi Bengkulu ini sebenarnya tidak ter prediksi, karena diawal tahun 2017 tepatnya di triwulan 1 dan triwulan 2, ekonomi Bengkulu masih berada di atas 5,28 persen. Namun tsunami itu terjadi pada triwulan 3 dan triwulan 4, yang menyebabkan ekonomi Bengkulu jatuh.


“Triwulan 1 ekonomi kita sebesar 5,21 persen, triwulan 2 sebesar 5,28 persen, triwulan ke 3 jatuh sebesar 4,90 persen, dan triwulan ke 4 sebesar 4,60 persen saja. Seperti itulah, gambaran perekonomian Bengkulu. Kita harap tahun 2018 ini, kita dapat bangkit dan mengejar ketertinggalan,” tutup Dyah.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar