BENGKULU , SH - Sidang dugaan korupsi pemotongan
dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu
Tengah (Benteng), 2018, berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Bengkulu, Rabu
(27/03/19).
Dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.Atas terdakwa
mantan Bendahara Dinkes Benteng Fintor Gunanda. Dihadapan majelis hakim para
saksi menuturkan, pemotongan dana BOK sudah menjadi budaya di Bengkulu tengah.
Dalam persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari
Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu Utara menghadirkan beberapa orang saksi,
sebut saja Plt Kadis Dinkes Mulya Wardana, yang sudah menjadi tersangka, tetapi
belum ditahan. Saksi berikutnya, Kadis Dinkes Elyandes Kori, Kabid Pencegahan
Penyakit Burhanudin, mantan Kabid di Dinkes Tierboti dan Kabid Kesmas Gadis
Nosita.
Saksi dihadirkan untuk mengetahui sejak kapan adanya
pemotongan dana BOK, kenapa dana BOK dipotong dan untuk siapa, siapa yang
memerintahkan hingga diperbolehkan atau tidak pemotongan 10 persen dana BOK
tersebut. Dari keterangan semua saksi, intinya mereka mengatakan, pemotongan
dana BOK sudah seperti budaya di Dinkes Bengkulu tengah, tidak ada yang
memerintahkan, pemotongan merupakan kesepakatan bersama.
// Bagi-bagi Dana ‘Seping’
Dari pengakuan saksi Kadis Dinkes Bengkulu tengah
Elyandes Kori, uang yang dipotong tersebut dinamakan ‘dana seping’ atau dana yang
dipotong. Kemudian, digunakan untuk kegiatan di luar Dinkes. Dana seping
tersebut digunakan untuk kerja sama dengan media dan LSM di Kabupaten Bengkulu
tengah.
“Dana Seping itu kesepakatan yang mulia, banyak yang
sepakat terkait pemotongan tersebut.Mulai dari Kabid sampai kasi sepakat
semua.Digunakan untu kerja sama media dengan LSM di Bengkulu tengah,” jelas
Elyandes.
Bahkan dana Seping tersebut juga diberikan kepada
penyidik tipikor Polres Bengkulu Utara dan Kejari Bengkulu Utara. Dari Plt
Kadis Dinkes, pemberian uang tersebut untuk hubungan baik dan pertemanan antara
Dinkes Bengkulu tengah dengan Kejari Bengkulu Utara dan Polres
Bengkulu Utara.
“Uang untuk Kejari Bengkulu Utara itu diserahkan
oleh staf saya Rp 15 juta, untuk penyidik tipikor Polres Bengkulu Utara juga
ada,” jelas Mulya.
Plt Kadis Dinkes Mulya Wardana mengaku tidak tahu sejak
kapan pemotongan anggaran di Dinkes Bengkulu tengah dilakukan. Tahu
adanya pemotongan saat dirinya berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan
mendapatkan informasi Fintor terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) Polda
Bengkulu.
“Tidak tahu sejak kapan yang mulia,” jelas Mulya. Hanya saja Mulya mengatakan,
dia pernah dipanggil Polres Bengkulu Utara yang menanyakan kenapa dana seping
tidak sampai.
“Saya dipanggil orang Polres untuk silaturahmi,
membahas kenapa dana tidak sampai,” jelas Mulya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar