
SELUMA, SH - Bosan menunggu perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seluma untuk membangun
jalan desa yang kini kondisinya m
untuk memperbaikinya dengan membeli material berupa koral secara swadaya. Infonya, sudah lama
jalan sepanjang 600 meter di desa Lubuk Lagan ini belum juga diperbaiki dan mendapat perhatian dari
pemerintah setempat. Selain itu, makin lama keadaannya semakin parah, khususnya saat musim hujan
tiba, dengan kondisi yang menurun jalan ini sangat sulit untuk dilewati kedaraan terutama mobil.
Diketahui, jalan ini merupakan ‘sisa’ jalan yang belum dibangun dari total sepanjang 2.200 meter,
sedangkan sepanjang 1600 meter sudah dihotmix beberapa tahun sebelumnya.
Menurut Hardi yang akrab disapa Lipuk, warga desa setempat yang ditemui awak media Suara
Hukum (10/2/19) lalu, mereka melakukan ini semua karena sudah lelah menunggu perhatian Pemkab
Seluma. “Kami terpaksa bergotong royong serta mengeluarkan uang pribadi untuk membeli koral untuk
menimbun jalan yang rusak. Kalau harus menunggu respon dari pemerintah mau sampai kapan, karena
sampai saat ini belum ada juga tanda-tanda akan dibangun,” ungkap Lipuk.
Ditambahkannya, warga merasa ada kesenjangan karena seakan tidak ada perhatian, padahal
akses jalan yang rusak ini adalah jalan desa sekaligus sentra produksi karena lebih separuh aktifitas
perekonomian masyarakat desa Lubuk Lagan harus melewati jalan tersebut, seperti mengangkut karet
maupun sawit. “Dengan rusaknya jalan tersebut otomatis masyarakat sangat kesulitan untuk menjual
hasil perkebunan mereka,” ujarnya. Hardi juga berpendapat, harusnya kejadian seperti yang dialami
masyarakat Lubuk Lagan sebenarnya tidak perlu terjadi kalau Pemerintah serius dalam pembangunan,
karena menurutnya setiap tahun Pemkab Seluma memiliki anggaran untuk pembangunan terutama
terhadap jalan.
“Sebenarnya kami merasa ada kecemburuan sosial, pasalnya jalan desa Lubuk Lagan secara
keseluruhan hanya sepanjang 2200 meter, sepanjang 1100 meter sudah diaspal sedangkan yang tersisa
sepanjang 600 meter sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan dibangun, sedangkan kondisinya
sekarang bukan lagi rusak bàhkan sudah hancur. Kapan hujan tidak bisa lagi dilewati mobil apalagi posisi
jalan menurun,dengan adanya kondisi seperti ini terpaksa kami secara swadaya untuk memperbaikinya
dengan biaya seadanya, padahal desa ini adalah dusun 3, letaknya dibagian ujung, sementara lebih
sebagian produksi terutama hasil perkebunan harus melewati jalan tersebut,” ungkapnya.(izr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar