BENGKULU, SH - Latber Bengkulu Gemstone Competition kembali menggelar perlombaan batu akik dengan
bermacam kelas yang di perlombakan. Bertempat di Kampung Pesisir Siantar Pantai
Panjang, Sabtu (22/12) lalu, sebanyak 21 kelas di perlombakan. Di sesi pertama
untuk kelas fosil sebanyak 40 peserta dan hampir 300 batu hadir dalam
perlombaan tersebut.
Diantaranya, 4 kelas kategori di
perlombaan ajang tingkat nasional seperti fosil, sosok orang, gambar tampak
samping, pemandang dan mistis. Tujuan digelar perlombaan tersebut, sebagai
wadah tempat berkreatifitas bagi penggemar batu akik dan ajang pembelajaran
untuk mengenal lebih dekat karakter apa saja batu yang di perlombakan dalam
tingkat Nasional. “Kita mengadakan kontes perlombaan batu akik dari awal
Januari tahun 2018 dan sudah 12 kali perlombaan,” ujar Ari Sandi.
Goboy sapaan akrabnya mengatakan,
peningkatkan dari event pertama sampai hari ini sangat signifikan
perkembangannya. Dari awal hanya 150 batu sampai melonjak 1.200 batu. “Awalnya
ini hanya kelompok kecil untuk event kontes batu akik di Bengkulu rutin di
adakan, lama kelamaan masyarakat tahu secara tidak langsung,” tambahnya.
Masyarakat Bengkulu mulai kembali menggeluti dunia perbatuan batu unik
tersebut. Sedangkan untuk penjualan harga batu akik sendiri pasca sempat tertidur panjang. “Tahun 2018 sudah
mulai tinggi harga penjualannya. Batu fosil yang sekarang di cari oleh para
pencinta batu,” ungkapnya.
Untuk diketahui, batu Red Rafflesia
harganya masih tinggi dipasaran untuk kontes perlombaan tapi sudah terkalahkan
oleh fosil sosok orang, mistis, pemandangan alam, lukisan alam dan potret
orang. “Harga fantastis terjual 85 juta batu akik fosil sosok mistis,”
tutupnya. Tahun 2013 silam awal mula batu akik beredar di Bengkulu. Puncaknya,
tahun 2015 batu akik menjadi primadona di kalangan masyarakat.
Harga yang ditawarkan sangat
fantastis, bahkan investor ataupun pengoleksi batu akik rela gelontorkan sakunya
dalam-dalam demi mendapatkan batu yang diinginkan. Namun sayangnya, seiring
berjalan waktu batu akik mulai terlupakan dan perlahan hilang begitu saja
setelah puncaknya pada tahun 2015 lalu. Tapi, perlahan demi perlahan batu akik
mulai hidup kembali di Bengkulu. Berkat dukungan dari Pemerintah Provinsi
maupun Kota mulai kembali memberi semangat baru. Sama halnya, membangunkan
macan sedang tertidur pulas hampir beberapa tahun belakang.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar