Tau gak sih?
BENGKULU, SH – Emang sih ini bukan cerita saya. Tapi cerita rekan saya, tepatnya tetangga satu komplek perumahan. Awalnya dia itu usaha Brownies dan omzet per bulannya 300 juta. Punya beberapa counter di Bandung. Ga tahunya hutangnya ke bank mencapai 11,5 Milyar dan akhirnya karena ga sanggup menutup biaya hutang, dia jual semua ias yg dimilikinya mulai dari rumah mewah di sebuah kawasan elit Bandung dan pindah jadi tetangga saya. Trus mobil dijual dan anak2nya akhirnya berhenti sekolah semua ketika orangtuanya bangkrut di usia 56 tahun. Rasanya spt jatuh terhempas, Tertimpa tangga dan tertimpa Batubata nya hingga tidak ias bergerak dan Move on!
Hutang memang sudah lunas, tapi utk move on lagi disaat kebangkrutan
total dan semua barang2 ludes itu sangat berat! Setiap hari, yg biasanya makan
enak, setelah semua ias ias habis terjual, untuk maakan saja bafi. Jarang
banget makan ayam iasn.
Dan yg lebih mengejutkan lagi, ketika dia mendatangi saya utk melamar
pekerjaan di perusahaan saya, dia menangis karena ingat anak2nya yg jadi tidak
sekolah karena dia tidak punya uang seperser pun sekarang. Kerjaan tiap hari
hanya menjual barang2 yg ada di rumahnya spt kulkas, lemari, dan lain-lain.
“Kenapa tidak melanjutkan usaha yg dulu saja? Apa usaha browniesnya
tutup?” Tanya saya.
“Usaha saya tidak tutup tapi saya kasihkan ke saudara saya. Sebab saya
ga sanggup bayar biaya operasional karena semua utk bayar hutang.”
“Kan Ibu masih ias bikin Brownies
ya? Kenapa harus melamar kerja ke saya? Penghasilan pegawai kan segitu2 aja.
Ibu sendiri pernah menggaji pegawai kan?”
Sang ibu cerita kalo semua alat2 membuat Brownies udah dijual.
Dia merasa gagal dan susah move on. Pertama kali ketika jatuh sebegitu
kerasnya dia menangis dan mempertanyakan kenapa Allah mengujinya dg ujian
seberat itu. Lalu ketika saya ngobrol dgnya, setelah 2 tahun berlalu pikirannya
mulai berubah.
Dia bilang, “Ada saatnya ketika kita gagal dan begitu sakit hati, sangat
mudah menyalahkan Allah atas dosa yg kita lakukan. Saya baru tahu riba itu ga
boleh setelah saya bangkrut. Kenapa ga dari dulu saya tahu. Kenapa saya harus
jatuh dulu begini. Kadang itu yg saya sesalkan.”
Si ibu lalu melanjutkan lagi. “Tapi saya baru tahu hikmahnya ketika saya
melihat perilaku anak2 saya berubah ketika kami menjadi miskin. Dulu kami ga
pernah menghargai sepotong ayam iasn. Tapi ketika kami susah, sepotong ayam iasn
menjadi begitu berharga.
Sehingga kami ingin anak2 saya yg 4 orang itu menikmatinya. Tapi anak2
saya menolak sebab merasa kasihan pada saya. Shg sepotong ayam iasn itu, hanya
ada di atas piring menunggu siapa yg layak menyantapnya. Dan ayam itu berakhir
ke orang lain yg kondisinya lebih tidak mampu daripada kami.”
“Dan … Banyak pelajaran yg kami dapatkan. Kami jadi lebih peka terhadap
orang miskin. Dulu karena tinggal di kompleks elit, kami ga pernah bersentuhan
dg orang miskin. Tapi sekarang di sini, saya melihat banyak yg lebih susah dari
saya. Saya sebenarnya beruntung.”
Ibu ini menemukan pelajaran moral yg luar biasa setelah bangkrut. Lalu
saya pun ingat bahwa utk menjadi orang baik, ga ias hanya dg membaca buku saja
langsung berubah. Bagi sebagian orang, perlu cara khusus utk menamparnya agar
berubah. Allah tahu, bagaimana cara membuat ibu ini dan keluarganya berubah.
Mungkin tanpa kesandung kerikil riba itu, dia ga akan pernah belajar arti
kesulitan, kemiskinan dan kepekaan thd lingkungan.
Sekarang, ketika dia sudah jatuh, dia jadi sangat pemurah dan
mendahulukan orang lain iasnding dirinya. Sebuah sikap yang tidak pernah
dimilikinya ketika dia masih terjerat riba dan tinggal di kompleks elit. Lalu percakapan kami pun
berakhir dg pertanyaan, “Bu Dina, kalo Bu Dina usahanya tidak pinjam siapa2?”
Saya jawab, “Ya betul. Dan omzet kita sama Bu, Cuma saya merangkak dari
bawah.”
Dia heran, “Kok ias?”
Saya jawab, “Selalu ada keajaiban dalam kehidupan orang2 yg mentaati
Tuhannya. Percaya pada saya. Suatu saat ibu pun akan mendapat keberuntungan
sebab telah meninggalkan riba dan menjalani semua kesulitan ini dg sabar. Saya
beruntung sebab saya tahu hukum riba sebelum memulai usaha sampai usaha saya
bernilai ratusan juta sekarang.”
Ibu itu merasa heran dan mengulang2 pertanyaan dan meminta saya
menjelaskan detilnya usaha saya, kok ias omzet segitu besarnya tapi dimulai
tanpa pinjam orang lain seperser pun. Bagi otak pengusaha umumnya emang tidak
masuk akal, tapi kalo dilihat dari sudut pandang iman, ya apa2 yg ga masuk akal
akan jadi sangat masuk akal. Praktik dulu, biar tahu rasa masuk akal yg saya
sampaikan. (SumberInternet).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar