// Demo HMI Berakhir Ricuh
BENGKULU, SH - Ratusan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) se-Kota Bengkulu menggelar aksi demonstrasi ke gedung DPRD
Provinsi Bengkulu, Senin siang (17/918) pukul 14.00 WIB. Mereka menuntut agar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dari jabatannya. Dalam pernyataan
sikapnya, aksi bertema “Selamatkan Indonesia” ini menyatakan Presiden Jokowi
telah menyebabkan bangsa Indonesia berada dalam keterpurukan yang ditunjukkan
dengan kian sulitnya kehidupan rakyat.
“Sudah selayaknya mahasiswa menjalankan fungsinya
untuk ikut mengawasi dan mengontrol jalannya roda pemerintahan. Apalagi saat
ini supremasi hukum berjalan tidak sebagaimana mestinya dan stabilitas bangsa
terancam. Ada yang salah dengan rezim ini,” ungkap Koordinator Lapangan Aksi,
Auzan Dacosta
Massa aksi meminta dan mendesak agar TNI dapat
mengambil alih negara. Selain itu, massa juga meminta dan mendesak agar MPR RI
dan DPR RI menggelar sidang istimewa mencabut mandat Jokowi sebagai presiden.
“Tolak tenaga kerja asing dengan menghapus Perpres
Nomor 20 tahun 2018. Turunkan harga BBM. Tolak impor pangan. Tegakkan supremasi
hukum seadil-adilnya,” teriak Auzan saat orasi.
Auzan menambahkan, IMM sebagai organisasi mahasiswa
akan senantiasa berada di tengah-tengah rakyat dan menyuarakan aspirasi rakyat.
Ia menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan adalah aksi damai.
“Kami cinta NKRI. Sudah seharusnya mahasiswa menjadi
garda terdepan dalam membela kepentingan-kepentingan rakyat,” tutup mahasiswa
UMB tersebut.
Sementara itu, dari salah satu anggota dewan Provinsi
Bengkulu H. Sujono SP, M.Si menyikapi aksi rombongan mahasiswa IMM tersebut.
Dia mengatakan itu adalah hak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Sebab itu
mereka selaku wakil rakyat di lembaga DPRD Provinsi akan menyampaikan aspirasi
tersebut.
“Kami akan menyampaikan aspirasi tersebut terhadap
pemerintah pusat. Dan tuntutan mahasiswa itu lebih pada kebijakan
pemerintah pusat,” katanya.
Selain itu, Sujono menilai bahwa aksi tersebut menjadi
tamparan serius kepada mahasiswa lainnya di Indonesia yang kehilangan sikap
kritisnya. “Aksi demonstrasi hari ini itu menempeleng jutaan mahasiswa
Indonesia lainnya yang saat ini seolah diam dalam melihat permasalahan bangsa.
Adanya teriakan dari masyarakat jelas karena ada yang tersakiti selama ini,
jika rakyat bahagia jelas tidak akan ada teriakan dari siapapun,” ujar anggota
dewan PKS ini .
Adapun dari pantauan aksi yang juga diwarnai teatrikal
dan pembacaan Puisi tersebut berlansung terkendali meskipun sesekali
terjadi aksi saling dorong antara pihak mahasiswa dengan mahasiswa.
Berikut Pernyataan Sikap IMM Bengkulu:
1. Save rupiah dan secepatnya stabilkan
perekonomian bangsa.
2. Tolak impor sebagai alternatif
solusi dari pemerintah dan utamakan produk lokal.
3. Tegakkan supremasi hukum.
4. Tolak tenaga kerja asing di
Indonesia dengan menghapus Perpres Nomor 20 tahun 2018.
5. Turunkan harga BBM.
6. Meminta dan mengaskan pihak TNI dan
Polri untuk menetralisir dalam menyikapi politik.
7. Meminta dan mendesak MPR RI / DPR RI
untuk melakukan sidang istimewa mencabut mandat Joko Widodo dari Presiden.
8. Meminta dan mendesak TNI untuk
segera mengambil alih negara.
Jika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
Bengkulu telah menggelar demo pada Senin 17 September 2018, maka Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu menggelar demo pada Selasa 18 September
2018. Demo HMI digelar di dua tempat berbeda, yakni di depan Kantor DPRD
Provinsi Bengkulu sekitar pukul 13.00-15.00 WIB, dan di Depan Mapolda Bengkulu
sekitar pukul 16.00-18.00 WIB.
"HMI mengecam dan mengutuk kebijakan
pemerintah, ada dua tema yang kita usung. Pertama soal meningkatkan sektor
perekonomian, kita ingin pemerintah stabilkan nilai tukar rupiah, meningkatkan
ekspor dan mengurangi impor. Juga peningkatan harga komoditas pertanian,"
demikian HMI dalam rilisnya.
Hal kedua yakni terkait peran lembaga
pemerintahan. HMI menuntut peran lembaga legislatif sebagai wakil rakyat.
Selain itu, HMI juga menagih janji-janji pemerintah
Selang keesokan harinya, giliran kali ini
aksi digalang oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu yang menuntut
agar Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf
Kalla untuk merealisasikan Nawacita.
Dalam aksi ini, mahasiswa tampak membawa
keranda mayat yang bertuliskan “Pemerintah sing sabar”.
“Kami menuntut pemerintah untuk segera
melakukan perbaikan dan peningkatan pada sektor perekonomian menstabilisasi
nilai tukar Rupiah, peningkatkan produksi ekspor dan pengurangan impor di
segala lini, peningkatkan harga jual komoditas pertanian, adanya optimalisasi
peran lembaga pemerintahan, lembaga legislatif untuk berpihak dan menyuarakan
kepentingan masyarakat, enuntut pelaksanaan janji-janji pemerintahan yang belum
terlaksana mengecam tindakan represif aparat kepolisian terhadap penyampaian
aspirasi masyarakat,” teriak Holik Sander, Koordinator Lapangan.
Dalam aksi ini mahasiswa mengecam dan
mengutuk kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam berbagai paket kebijakan
ekonomi.
Aksi yang
semula berjalan damai ini berlangsung ricuh di depan DPRD Provinsi Bengkulu,
Selasa siang (18/9/18). Membuat sebanyak delapan orang polisi dan belasan
mahasiswa terluka. Karena terjadi aksi lemparan batu dan pemukulan menggunakan
kayu saat demo berlangsung. Atas kejadian itu polisi mengamankan 8 orang
mahasiswa yang diduga sebagai biang kericuhan demo tersebut. Kapolres Bengkulu
AKBP Prianggodo Heru Kun Prasetyo, S.IK, yang memantau langsung di lokasi demo
menuturkan, “Delapan yang diamanakan masih kita cek untuk dimintai keterangan
sementara waktu,” pungkas Kapolres Bengkulu. Kapolres menambahkan, ada 8
anggota polisi yang terluka. Dua orang diantaranya dilarikan kedokes (Kedokter
Kesehatan).
Beberapa mobil dinas kita dan
beberapa mobil yang berada di parkiran dewan ikut rusak terkena lemparan batu
dan kayu dari para pendemo. Ia menjelaskan, kalau pengamanan demo sejak awal
polisi sudah siap. Tuntutan adik mahasiswa ingin bertemu dewan pun itu kita
sudah fasilitasi. Ada beberapa anggota dewan juga sudah menemui mereka, Namun
mereka tetap memaksa ingin masuk sedangkan di dalam (DPRD) sedang ada rapat
paripurna berlangsung. “Kericuhan pun tidak terelakkan. Hingga kita sedikit
kerepotan menenangkan massa, sehingga menyemprotkan water canon dan menembakkan
gas air mata,” ujarnya.
Sebelumnya dalam orasi yang disampaikan, mahasiswa yang membawa replika
keranda jenazah dengan tulisan pemerintah sing sabar. Massa HMI mengkritisi
kinerja pemerintah pusat terkait perbaikan dan peningkatan sektor ekonomi,
menuntut stabilisasi nilai tukar rupiah, peningkatan produksi eksport dan
pengurangan import di segala lini. Menuntut peningkatan harga jual komoditas pertanian,
adanya optimalisasi peran lembaga pemerintahan. Lalu menuntut lembaga
legislatif untuk berpihak menyuarakan kepentingan masyarakat, menuntut
pelaksanaan janji-janji pemerintah yang belum terlaksana, dan mengecam tindakan
refresif aparat kepolisian terhadap penyampaian aspirasi masyarakat.
Sebelum ricuh hingga terjadi pelemparan batu dan saling pukul dengan
menggunakan tiang bendera HMI antara mahasiswa dengan aparat kepolisian. Dua
anggota dewan Provinsi Bengkulu wakil Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu H.
Suharto SE, M.BA dengan ditemani H. Sujono SP, M.Si mencoba turun dan menemui
rombongan mahasiswa yang berada di depan gerbang pintu masuk DPRD. Namun
setelah ditemui ternyata tidak tercapai negosiasi dan rombongan massa HMI tetap
bersikukuh untuk mencoba menerobos masuk Gedung DPRD.
Sebanyak 28 orang aktivis Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu, diamankan Kepolisian Daerah (Polda)
Bengkulu. Pasca demo berakhir bentrok dengan aparat kepolisian, di depan
Sekretariat DPRD Provinsi Bengkulu, Selasa (18/9). “Kami akan lakukan aksi yang
lebih besar lagi. Jika kader lain yang diamankan tidak dibebaskan dan tidak ada
pertanggungjawaban dari pihak kepolisian,” tegas Kordinator Aksi saat Konfrensi
pers di Sekretariat HMI Cabang Bengkulu, Zelig Ilham Hamka. Zelig pun
membeberkan dafar aktifis HMI Bengkulu yang ditahan tersebut.(tim)
Berikut dafar nama 28 mahasiswa
yang sempat diamankan Polda Bengkulu Selasa (18/9) lalu.
1. Resyanto
(20), warga Jalan.Pondok Bulat Kandang Limun
2. Dede
Irawan (23), warga Jalan Pondok Bulat, Kandang Limun
3. Apri
Gunawan (20), warga Kandang Limun, Unib Belakang
4. Yuda If
(21), warga Gang Karya Unib Belakang
5. Abi
Albaba (20), warga Penurunan
6. Bima
Fajar Bay (21), warga Penurunan
7. Deo Agung
Pratama (20), warg Anggut Atas
8 Alfat
(21), warga Jalan Sentot Alibasyah.
9. Rendy
Wiranata (21), warga Unib Belakang
10. Priska
Nanda (23), warga Jalanl Budi Utomo, Unib Depan
11. Noven
Gustran (20), warga Telaga Dewa 6
12. Haza
Karimulla (21), warga Timur Indah
13. Kholiq
Aleksander (21), warga Sukamerindu
14. Agung
Putra Wijaya (21), warga Penurunan
15. Bayu
Fazrul Hakim (22), warga Timur Indah
16. Jeri
Andika (20), warga Hibrida
17. Dimas
(20), warga Timur Indah
18. Alpian
(21), warga Pagar Dewa
19. Faris
(21), warga Bajak
20.
Hernandes (21), warga Kampung Bali
21. Sandes
Saputra (21), warga Kampung Bali
22. Mazako
(21), warga Kampung Bali
23. Bima
Hajar (21), warga Belakang Unihaz
24. Nodi
(20)
25. Fitra Insani
(28 ), warga Bentiring Permai
26.
M.A.Prihatno, warga Kandang
27. Yeki
Faizal
28. Kelfin
aldo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar