Minggu, 23 September 2018

Tuntut Jokowi Mundur, 2 Hari Mahasiswa Geruduk Rumah Wakil Rakyat


// Demo HMI Berakhir Ricuh




BENGKULU, SH - Ratusan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Kota Bengkulu menggelar aksi demonstrasi ke gedung DPRD Provinsi Bengkulu, Senin siang (17/918) pukul 14.00 WIB. Mereka menuntut agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dari jabatannya. Dalam pernyataan sikapnya, aksi bertema “Selamatkan Indonesia” ini menyatakan Presiden Jokowi telah menyebabkan bangsa Indonesia berada dalam keterpurukan yang ditunjukkan dengan kian sulitnya kehidupan rakyat.

“Sudah selayaknya mahasiswa menjalankan fungsinya untuk ikut mengawasi dan mengontrol jalannya roda pemerintahan. Apalagi saat ini supremasi hukum berjalan tidak sebagaimana mestinya dan stabilitas bangsa terancam. Ada yang salah dengan rezim ini,” ungkap Koordinator Lapangan Aksi, Auzan Dacosta

Massa aksi meminta dan mendesak agar TNI dapat mengambil alih negara. Selain itu, massa juga meminta dan mendesak agar MPR RI dan DPR RI menggelar sidang istimewa mencabut mandat Jokowi sebagai presiden.

“Tolak tenaga kerja asing dengan menghapus Perpres Nomor 20 tahun 2018. Turunkan harga BBM. Tolak impor pangan. Tegakkan supremasi hukum seadil-adilnya,” teriak Auzan saat orasi.

Auzan menambahkan, IMM sebagai organisasi mahasiswa akan senantiasa berada di tengah-tengah rakyat dan menyuarakan aspirasi rakyat. Ia menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan adalah aksi damai.

“Kami cinta NKRI. Sudah seharusnya mahasiswa menjadi garda terdepan dalam membela kepentingan-kepentingan rakyat,” tutup mahasiswa UMB tersebut.

Sementara itu, dari salah satu anggota dewan Provinsi Bengkulu H. Sujono SP, M.Si menyikapi aksi rombongan mahasiswa IMM tersebut. Dia mengatakan itu adalah hak mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi. Sebab itu mereka selaku wakil rakyat di lembaga DPRD Provinsi akan menyampaikan aspirasi tersebut.

“Kami akan menyampaikan aspirasi tersebut terhadap pemerintah pusat. Dan tuntutan mahasiswa itu lebih pada kebijakan  pemerintah pusat,” katanya.

Selain itu, Sujono menilai bahwa aksi tersebut menjadi tamparan serius kepada mahasiswa lainnya di Indonesia yang kehilangan sikap kritisnya. “Aksi demonstrasi hari ini itu menempeleng jutaan mahasiswa Indonesia lainnya yang saat ini seolah diam dalam melihat permasalahan bangsa. Adanya teriakan dari masyarakat jelas karena ada yang tersakiti selama ini, jika rakyat bahagia jelas tidak akan ada teriakan dari siapapun,” ujar anggota dewan PKS ini .

Adapun dari pantauan aksi yang juga diwarnai teatrikal dan pembacaan Puisi tersebut  berlansung terkendali meskipun sesekali terjadi aksi saling dorong antara pihak mahasiswa dengan mahasiswa. 

Berikut Pernyataan Sikap IMM Bengkulu:
1.     Save rupiah dan secepatnya stabilkan perekonomian bangsa.
2.     Tolak impor sebagai alternatif solusi dari pemerintah dan utamakan produk lokal.
3.     Tegakkan supremasi hukum.
4.     Tolak tenaga kerja asing di Indonesia dengan menghapus Perpres Nomor 20 tahun 2018.
5.     Turunkan harga BBM.
6.     Meminta dan mengaskan pihak TNI dan Polri untuk menetralisir dalam menyikapi politik.
7.     Meminta dan mendesak MPR RI / DPR RI untuk melakukan sidang istimewa mencabut mandat Joko Widodo dari Presiden.
8.     Meminta dan mendesak TNI untuk segera mengambil alih negara.

Jika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bengkulu telah menggelar demo pada Senin 17 September 2018, maka Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu menggelar demo pada Selasa 18 September 2018. Demo HMI digelar di dua tempat berbeda, yakni di depan Kantor DPRD Provinsi Bengkulu sekitar pukul 13.00-15.00 WIB, dan di Depan Mapolda Bengkulu sekitar pukul 16.00-18.00 WIB.

"HMI mengecam dan mengutuk kebijakan pemerintah, ada dua tema yang kita usung. Pertama soal meningkatkan sektor perekonomian, kita ingin pemerintah stabilkan nilai tukar rupiah, meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Juga peningkatan harga komoditas pertanian," demikian HMI dalam rilisnya.

Hal kedua yakni terkait peran lembaga pemerintahan. HMI menuntut peran lembaga legislatif sebagai wakil rakyat. Selain itu, HMI juga menagih janji-janji pemerintah

Selang keesokan harinya, giliran kali ini aksi digalang oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu yang menuntut agar Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk merealisasikan Nawacita.

Dalam aksi ini, mahasiswa tampak membawa keranda mayat yang bertuliskan “Pemerintah sing sabar”.

“Kami menuntut pemerintah untuk segera melakukan perbaikan dan peningkatan pada sektor perekonomian menstabilisasi nilai tukar Rupiah, peningkatkan produksi ekspor dan pengurangan impor di segala lini, peningkatkan harga jual komoditas pertanian, adanya optimalisasi peran lembaga pemerintahan, lembaga legislatif untuk berpihak dan menyuarakan kepentingan masyarakat, enuntut pelaksanaan janji-janji pemerintahan yang belum terlaksana mengecam tindakan represif aparat kepolisian terhadap penyampaian aspirasi masyarakat,” teriak Holik Sander, Koordinator Lapangan.

Dalam aksi ini mahasiswa mengecam dan mengutuk kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam berbagai paket kebijakan ekonomi.

Aksi yang semula berjalan damai ini berlangsung ricuh di depan DPRD Provinsi Bengkulu, Selasa siang (18/9/18). Membuat sebanyak delapan orang polisi dan belasan mahasiswa terluka. Karena terjadi aksi lemparan batu dan pemukulan menggunakan kayu saat demo berlangsung. Atas kejadian itu polisi mengamankan 8 orang mahasiswa yang diduga sebagai biang kericuhan demo tersebut. Kapolres Bengkulu AKBP Prianggodo Heru Kun Prasetyo, S.IK, yang memantau langsung di lokasi demo menuturkan, “Delapan yang diamanakan masih kita cek untuk dimintai keterangan sementara waktu,” pungkas Kapolres Bengkulu. Kapolres menambahkan, ada 8 anggota polisi yang terluka. Dua orang diantaranya dilarikan kedokes (Kedokter Kesehatan). 

Beberapa mobil dinas kita dan beberapa mobil yang berada di parkiran dewan ikut rusak terkena lemparan batu dan kayu dari para pendemo. Ia menjelaskan, kalau pengamanan demo sejak awal polisi sudah siap. Tuntutan adik mahasiswa ingin bertemu dewan pun itu kita sudah fasilitasi. Ada beberapa anggota dewan juga sudah menemui mereka, Namun mereka tetap memaksa ingin masuk sedangkan di dalam (DPRD) sedang ada rapat paripurna berlangsung. “Kericuhan pun tidak terelakkan. Hingga kita sedikit kerepotan menenangkan massa, sehingga menyemprotkan water canon dan menembakkan gas air mata,” ujarnya.

Sebelumnya dalam orasi yang disampaikan, mahasiswa yang membawa replika keranda jenazah dengan tulisan pemerintah sing sabar. Massa HMI mengkritisi kinerja pemerintah pusat terkait perbaikan dan peningkatan sektor ekonomi, menuntut stabilisasi nilai tukar rupiah, peningkatan produksi eksport dan pengurangan import di segala lini. Menuntut peningkatan harga jual komoditas pertanian, adanya optimalisasi peran lembaga pemerintahan. Lalu menuntut lembaga legislatif untuk berpihak menyuarakan kepentingan masyarakat, menuntut pelaksanaan janji-janji pemerintah yang belum terlaksana, dan mengecam tindakan refresif aparat kepolisian terhadap penyampaian aspirasi masyarakat.

Sebelum ricuh hingga terjadi pelemparan batu dan saling pukul dengan menggunakan tiang bendera HMI antara mahasiswa dengan aparat kepolisian. Dua anggota dewan Provinsi Bengkulu wakil Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu H. Suharto SE, M.BA dengan ditemani H. Sujono SP, M.Si mencoba turun dan menemui rombongan mahasiswa yang berada di depan gerbang pintu masuk DPRD. Namun setelah ditemui ternyata tidak tercapai negosiasi dan rombongan massa HMI tetap bersikukuh untuk mencoba menerobos masuk Gedung DPRD.

Sebanyak 28 orang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu, diamankan Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu. Pasca demo berakhir bentrok dengan aparat kepolisian, di depan Sekretariat DPRD Provinsi Bengkulu, Selasa (18/9). “Kami akan lakukan aksi yang lebih besar lagi. Jika kader lain yang diamankan tidak dibebaskan dan tidak ada pertanggungjawaban dari pihak kepolisian,” tegas Kordinator Aksi saat Konfrensi pers di Sekretariat HMI Cabang Bengkulu, Zelig Ilham Hamka. Zelig pun membeberkan dafar aktifis HMI Bengkulu yang ditahan tersebut.(tim)
 
Berikut dafar nama 28 mahasiswa yang sempat diamankan Polda Bengkulu Selasa (18/9) lalu.
1. Resyanto (20), warga Jalan.Pondok Bulat Kandang Limun
2. Dede Irawan (23), warga Jalan Pondok Bulat, Kandang Limun
3. Apri Gunawan (20), warga Kandang Limun, Unib Belakang
4. Yuda If (21), warga Gang Karya Unib Belakang
5. Abi Albaba (20), warga Penurunan
6. Bima Fajar Bay (21), warga Penurunan
7. Deo Agung Pratama (20), warg Anggut Atas
8 Alfat (21), warga Jalan Sentot Alibasyah.
9. Rendy Wiranata (21), warga Unib Belakang
10. Priska Nanda (23), warga Jalanl Budi Utomo, Unib Depan
11. Noven Gustran (20), warga Telaga Dewa 6
12. Haza Karimulla (21), warga Timur Indah
13. Kholiq Aleksander (21), warga Sukamerindu
14. Agung Putra Wijaya (21), warga Penurunan
15. Bayu Fazrul Hakim (22), warga Timur Indah
16. Jeri Andika (20), warga Hibrida
17. Dimas (20), warga Timur Indah
18. Alpian (21), warga Pagar Dewa
19. Faris (21), warga Bajak
20. Hernandes (21), warga Kampung Bali
21. Sandes Saputra (21), warga Kampung Bali
22. Mazako (21), warga Kampung Bali
23. Bima Hajar (21), warga Belakang Unihaz
24. Nodi (20)
25. Fitra Insani (28 ), warga Bentiring Permai
26. M.A.Prihatno, warga Kandang
27. Yeki Faizal
28. Kelfin aldo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar