![]() |
BENGKULU, SH - Sejumlah warga Kelurahan Teluk
Sepang Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu sejak setahun terakhir
mengeluhkan jalan rusak parah akibat lalu lintas truk pengangkut batu bara dan
truk pengangkut alat berat proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu
bara.
Jalal,
salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Teluk Sepang mengatakan, sejak proyek
PLTU batu bara dimulai, jalan semakin rusak karena seluruh alat yang dibutuhkan
untuk proyek dibawa lewat jalur ini.
Apalagi anak-anak sekolah yang setiap pagi melintasi jalur tersebut menuju sekolah terpaksa menggunakan baju ganti sebab bila memakai baju berwarna putih maka dipastikan debu akan kotor berdebu.
“Sebagian
besar warga Kelurahan Teluk Sepang sudah lama mengeluh dengan kondisi jalan
yang setiap hari mereka lalui menuju pusat Kota Bengkulu itu, ujarnya,” Senin
siang (3/9/18)
Jalal menambahkan, jalan ini juga rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas karena truk tidak lagi menaati rute karena menghindari lubang yang lebar dan dalam dan banyaknya debu.
Jalal menambahkan, jalan ini juga rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas karena truk tidak lagi menaati rute karena menghindari lubang yang lebar dan dalam dan banyaknya debu.
Kondisi kerusakan jalan semakin diperparah sejak kehadiran proyek PLTU batu bara di kompleks Pelabuhan Pulau Baai sebab seluruh alat berat termasuk tiang pasak bumi diangkut melalui jalur darat.
Sementara,
Ketua Lembaga Pemasyarakatan Masyarakat (LPM) Kelurahan Teluk Sepang Jumadi
mengatakan,pihaknya sejauh ini sudah berulang kali menyampaikan kondisi jalan
tersebut kepada pemerintah Kota Bengkulu, termasuk pihak PT Pelindo II namun
hingga kini tidak ada tanggapan.
Warga
mendesak perbaikan jalan dari pintu Pelabuhan Pulau Baai hingga ke Simpang
Kelurahan Teluk Sepang, warga juga mendesak pemilik truk untuk tetap menutup
terpal hingga ke lokasi "stockpile" batu bara. selain itu, warga juga
meminta pemerintah daerah memperbaiki jalur evakuasi rawan gempa yang
menghubungkan Kelurahan Teluk Sepang dengan Kelurahan Padang Serai yang saat
ini kondisinya putus total karena jembatan penghubung ambruk.
Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Ihsan
Fajri minta manajemen PT. Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) penanggungjawab proyek
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Teluk Sepang untuk
mengklarifikasi keberadaan 600 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang
terlibat dalam proyek tersebut.
Diketahui,
ada kesimpangsiuran data soal tenaga kerja asing karena perusahaan menyebut ada
600 orang, sedangkan data di Dinas Tenaga Kerja hanya sekitar 450 orang total
TKA di daerah ini.
Ihsan menambahklan, penggunaan tenaga kerja lokal menjadi salah satu perhatian anggota legislatif saat berdialog dengan manajemen perusahaan tersebut. Selain persoalan tenaga kerja, anggota legislatif juga mengingatkan penggunaan material proyek yang harus menggunakan material lokal sebesar 30 persen.
Ihsan menambahklan, penggunaan tenaga kerja lokal menjadi salah satu perhatian anggota legislatif saat berdialog dengan manajemen perusahaan tersebut. Selain persoalan tenaga kerja, anggota legislatif juga mengingatkan penggunaan material proyek yang harus menggunakan material lokal sebesar 30 persen.
“Tidak
bisa seluruhnya menggunakan material dari luar dalam hal ini China, harus juga
menggunakan material lokal, ujar Ihsan
Selain
kerusakan jalan dan masalah TKA, Ihsan juga mempertanyakan perkembangan proyek
dan rencana pengelolaan limbah untuk menjawab keresahan masyarakat.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar