Selasa, 11 September 2018

Jalan rusak, DPRD Pantau Aktivitas PLTU Teluk Sepang



BENGKULU,  SH - Sejumlah warga Kelurahan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu sejak setahun terakhir mengeluhkan jalan rusak parah akibat lalu lintas truk pengangkut batu bara dan truk pengangkut alat berat proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

Jalal, salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Teluk Sepang mengatakan, sejak proyek PLTU batu bara dimulai, jalan semakin rusak karena seluruh alat yang dibutuhkan untuk proyek dibawa lewat jalur ini.

Apalagi anak-anak sekolah yang setiap pagi melintasi jalur tersebut menuju sekolah terpaksa menggunakan baju ganti sebab bila memakai baju berwarna putih maka dipastikan debu akan kotor berdebu.
“Sebagian besar warga Kelurahan Teluk Sepang sudah lama mengeluh dengan kondisi jalan yang setiap hari mereka lalui menuju pusat Kota Bengkulu itu, ujarnya,” Senin siang (3/9/18)

Jalal menambahkan, jalan ini juga rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas karena truk tidak lagi menaati rute karena menghindari lubang yang lebar dan dalam dan banyaknya debu.

Kondisi kerusakan jalan semakin diperparah sejak kehadiran proyek PLTU batu bara di kompleks Pelabuhan Pulau Baai sebab seluruh alat berat termasuk tiang pasak bumi diangkut melalui jalur darat.

Sementara, Ketua Lembaga Pemasyarakatan Masyarakat (LPM) Kelurahan Teluk Sepang Jumadi mengatakan,pihaknya sejauh ini sudah berulang kali menyampaikan kondisi jalan tersebut kepada pemerintah Kota Bengkulu, termasuk pihak PT Pelindo II namun hingga kini tidak ada tanggapan.

Warga mendesak perbaikan jalan dari pintu Pelabuhan Pulau Baai hingga ke Simpang Kelurahan Teluk Sepang, warga juga mendesak pemilik truk untuk tetap menutup terpal hingga ke lokasi "stockpile" batu bara. selain itu, warga juga meminta pemerintah daerah memperbaiki jalur evakuasi rawan gempa yang menghubungkan Kelurahan Teluk Sepang dengan Kelurahan Padang Serai yang saat ini kondisinya putus total karena jembatan penghubung ambruk.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Ihsan Fajri minta manajemen PT. Tenaga Listrik Bengkulu (TLB) penanggungjawab proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Teluk Sepang untuk mengklarifikasi keberadaan 600 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang terlibat dalam proyek tersebut. 

Diketahui, ada kesimpangsiuran data soal tenaga kerja asing karena perusahaan menyebut ada 600 orang, sedangkan data di Dinas Tenaga Kerja hanya sekitar 450 orang total TKA di daerah ini.

Ihsan menambahklan, penggunaan tenaga kerja lokal menjadi salah satu perhatian anggota legislatif saat berdialog dengan manajemen perusahaan tersebut.  Selain persoalan tenaga kerja, anggota legislatif juga mengingatkan penggunaan material proyek yang harus menggunakan material lokal sebesar 30 persen.

“Tidak bisa seluruhnya menggunakan material dari luar dalam hal ini China, harus juga menggunakan material lokal, ujar Ihsan

Selain kerusakan jalan dan masalah TKA, Ihsan juga mempertanyakan perkembangan proyek dan rencana pengelolaan limbah untuk menjawab keresahan masyarakat.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar