Senin, 07 Mei 2018

Prediksi Peta Perilaku Pemilih pada Pilwakot Bengkulu Tahun 2018


Oleh : Yoka Pradana

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung diyakini sebagai proses demokrasi sesungguhnya, karena dari proses tersebut diharapkan lahir pemimpin yang memiliki legitimasi yang kuat di tengah masyarakat di daerah. Regulasi yang berlaku pada Pilkada mengharuskan setiap calon kepala daerah yang ingin menduduki jabatan sebagai Kepala Daerah harus meraup suara pemilih terbanyak dalam helatan Pilkada. Mendulang suara terbanyak tentu adalah suatu keharusan dan  salah satu strateginya adalah memahami perilaku pemilih di wilayah berlangsungya pilkada.

Memahami karakter pemilih menjadi landasan kuat bagi penyelenggara pemilu untuk melakukan sosialisasi yang tepat, guna menciptakan pemilih berkualitas. Bagi masyarakat yang memiliki hak suara, mengerti perilaku memilih dapat menjadi evaluasi atas partisipasi politiknya selama ini, kedepan diharapkan dapat menjadi pemilih cerdas.
Guna memahami perilaku memilih, para pakar telah mencetuskan berbagai pendekatan teoritis. Pendekatan The Columbia Study, The Michigan Model, dan Rational Choice (Bartels,2012; Roth,2008) merupakan tinjauan konseptual yang sering digunakan. Ketiga pendekatan tersebut lebih dikenal dengan istilah Sosiologis, Psikologis dan Rasional. Pendekatan sosiologis yakni pendekatan yang diklasifikasikan dalam sentimen identitas seperti suku, agama, ras dan antar golongan. Psikologis pendekatan yang cenderung menilai dari kedekatan psikologi dan pilihan rasional merupakan tipe pemilih yang cenderung melihat rekam jejak dan kinerja kandidat.

Tulisan ini akan memberikan ulasan peta perilaku memilih di Kota Bengkulu, mengingat dalam waktu dekat Bengkulu merupakan salah satu daerah yang akan menggelar pilkada serentak tahun 2018. Analisis kami akan meninjau fenomena politik secara umum yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan. Selanjutnya dikombinasikan dengan hasil-hasil studi-studi penelitian di daerah lain sebagai data pembanding maupun pendukung. Mencatat melalui angka statistik mungkin merupakan hal mutlak dalam memberikan ukuran pemetaan. Namun, mendeskripsikan secara naratif tidak kalah menarik untuk menjelaskan fenomena dilapangan secara mendalam yang selama ini mungkin luput dari pandangan. 

// Identitas Etnik
Indonesia merupakan negara yang tersusun dari struktur masyarakat yang multi etnis, sehingga perbedaan kerap kali menjadi momok dalam sendi kehidupan berbangsa tak terkecuali dalam kegiatan berdemokrasi. Studi Tanasaldy (200:461) yang berjudul “Politik Identitas Etnis di Kalimantan Barat” mengeksplorasi bagaiman dominannya politik berbasis Etnis di Kalimantan Barat sebelum dan pasca Orde Baru.
Pertarungan antara kedua etnis yakni suku Dayak dan Melayu menjadi dua kekuatan politik terbesar di Kalimantan Barat. Sentimen etnis terus dihembuskan oleh elite dan terbukti mempunyai peran penting dalam perpolitikakan Kalimantan Barat. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa sebagian besar orang Dayak menginginkan adanya representasi lebih besar dalam birokrasi, sedangkan orang Melayu menginginkan terlibat didalam internal birokrasi.
Dalam konteks pemilihan Walikota hasil studi penelitian Indra Kesuma Nasution (2014) tentang partisipasi politik pada pemilihan walikota Medan tahun 2010 menemukan kejadian yang serupa, yakni terdapat persepsi di kalangan masyarakat kota Medan bahwa walikota yang berasal dari komunitas etnis yang sama akan memberi banyak manfaat dan pertarungan pemilihan walikota menjadi sebuah pertarungan etnisitas. Tidak hanya dua penelitian tersebut yang menjelaskan tentang fenomena etnisitas dalam ranah politik lokal, masih banyak fenomena-fenomen lain yang kerap terjadi. Artinya pemilih berdasar etnis di beberapa wilayah dan dalam situasi tertentu masih saja terjadi dalam perhelatan politik lokal.
Kota Bengkulu tidak ubahnya seperti nusantara tersusun dari struktur masyarakat yang heterogen termasuk dari struktus kesukuan masyarakat yang multi etnis. Geliat komunikasi politik dalam waktu belakangan di Kota Bengkulu mulai menampilkan simbol-simbol etnisitas dalam berdemokrasi. Munculnya berbagai perkumpulan atas nama etnis tertentu, serta dimunculkan tokoh-tokoh yang seolah representasi etnis merupakan bukti bahwa geliat politik berbasis identitas etnis mulai muncul. Munculnya hal ini bukan tanpa sebab, para elit dan tim mungkin saja sudah mencium masih adanya tipe pemilih yang mengedepankan kedekatan etnis dalam menjatuhkan pilihan dalam pilwakot yang akan digelar nanti, sehingga moment ini coba untuk dimanfaatkan. 


// Money Politic

Masalah yang sampai hari ini belum kunjung selesai dalam sistem demokrasi Indonesia adalah “money politik”. Beberapa laporan penelitian dan pemberitaan dalam Pilkada menunjukkan adanya indikasi bahwa perhelatan Pilkada hampir tidak luput dari kecurangan politik uang. Kesulitan ekonomi, ketidakpuasan kinerja kandidat yang menjabat, sampai pada rendahnya pengetahuan dan kesadaran politik merupakan faktor menguatnya praktik-politik uang dalam helatan pilkada.

Dugaan terjadinya praktik politik uang juga kerap terjadi dalam pesta demokrasi di Bengkulu. Kami mengumpulkan setidaknya ada beberapa laporan pemberitaan yang berkaitan dengan “politik uang” dalam pesta demokrasi lokal di Bengkulu. Diantaranya “8 Calon Bupati Bengkulu Dilaporkan Dugaan Politik Uang”(liputan6.com, 2015)”, “Panwaslu Bengkulu temukan kasus politik uang Pilkada” (www.antarabengkulu.com, 2015) dan  “Politik Uang Membayangi Pilbub Benteng” (harianrakyatbengkulu.com, 2016). Pemberitaan ini menjadi sinyal kuat bahwa salah satu tipikal pemilih di Bengkulu adalah pemilih berdasarkan uang. Sehingga sering terdengar istilah yang beredar ditengah masyarakat “siapo pun yang jadi samo bae, aku pasti cak inilah jugo, siapo yang ngasih duit paling banyak itulah yang bakal ku pilih”. 

// Party Id (Identitas Partai)

Studi penelitian Haryanto (2014) menganalisis perilaku memilih pada Pilkada Gubernur Sulawesi Selatan  pada tahun 2013 menemukan pemilih cenderung melakukan pilihan dengan mengidentifikasikan diri dengan partai, kemudian menentukan pilihan kandidat yang diusung oleh partai. Hasil penelitian ini menjadi antitesis tren penelitian analisis perilaku pemilih dalam perhelatan politik lokal.
Selama ini, hasil-hasil laporan penelitian menunjukkan bahwa pemilih cenderung memilih berdasarkan proximity (kedekatan etnis, kedekatan daerah, atau kedekatan lainnya). Party ID (Identitas Partai) merupakan tipe pemilih dengan mengidentifikasikan diri kepada partai tertentu, tidak berlebihan jika menilik tipe pemilih yang semacam ini dengan berkaca dari hasil pemilu tahun 2014 secara nasional, elektabilitas partai saat ini, dan hasil Pemilu di level Kota Bengkulu sendiri.

Berdasarkan hasil Pemilu pada tahun 2014 PDIP dan Golkar yang notabennya sebagai “partai lama” dan “berpengalaman” mencatatkan diri sebagai pemenang pemilu. Selain itu, berdasarkan beberapa hasil lembaga survey seperti (SMRC) dan Polmark pada tahun 2017  menempatkan kedua partai ini sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi dibanding Partai politik lainnya. Banyak kalangan berpandangan bahwa kedua partai tersebut memiliki identitas yang kuat di kalangan pendukung dan simpatisannya.
PDI dengan ideologi nasionalis terkenal sebagai partai wong cilik, Golkar sebagai partai penguasa Orde Baru disinyalir sebagai partai pembangunan, sehingga memiliki identitas kuat pada “kalangan tua” yang mengelukan keberhasilan pembangunan di negeri ini hasil kinerja Orde Baru. Namun, jika berkaca dari hasil pemilu untuk DPRD kota Bengkulu kedua partai ini bukanlah penguasa. PDI bahkan hanya menduduki 1 kursi, sedangkan Golkar dengan 3 kursi. Bandingkan dengan partai yang notabennya baru dan hasil survey mengenai elektabilitasnya selalu menguntit dibelakang kedua partai berpengalaman ini adalah Nasdem dan Gerindra dengan masing-masing 5 kursi di DPR, agaknya perlu diperhitungkan.

PAN dan PKS bukan partai pemenang pemilu, elektabilitas secara nasional juga tidak begitu mencolok. Namun, untuk tataran kota Bengkulu patut diperhitungkan. Partai Amanat Nasional misalkan dua periode berturut-turut menjadi pengusung utama kandidat Walikota Bengkulu dan berhasil menang. Begitupun dengan PKS yang berlabel partai “dakwah” dengan jaringan politik “halaqoh” memilki simpatisan yang militan dari berbagai kalangan,  hampir dalam setiap perhelatan pilkada di Bengkulu selalu muncul tokoh-tokoh partainya yang siap bersaing. Tanpa mengkerdilkan partai politik lainnya, fenomena ini dapat diartikan bahwa pemilih berdasarkan party id dalam Pilwakot kemungkinan akan muncul. 

// Pemilih Rasional

Kehidupan demokrasi yang sehat tentu mengharapkan pemilih rasional sebagai penentu kemenangan dalam pesta demokrasi, tak terkecuali bagi pilkada. Pemilih dengan jenis ini merupakan tipe pemilih yang lebih memandang penyelesaian masalah di ruang publik dibanding dengan kedekatan proximity atau ideologi tertentu. Pandangan pemilih rasional lebih didasarkan pada rekam jejak, program kerja yang ditawarkan, serta ukuran kemampuan untuk melaksanakan program kerja tersebut.

Secara umum pemilih rasional biasanya ditempati oleh kalangan yang berpendidikan, kondisi ekonomi dan pengetahuan serta kesadaran politik yang baik. Tingkat pendidikan masyarakat Bengkulu secara umum tergolong masih rendah dibanding daerah lain. Bisa saja secara pengetahuan dan kesadaran politik juga rendah. Namun, pada Oktober 2017 reales BPS menyebut bahwa Kota Bengkulu mengalami Deflasi sebesar -0,12% ditengah daerah lain mengalami Inflasi, jika kondisi ini berimbas pada kondisi kesejahteraan ekonomi masyarakat maka bisa saja akan memuncul pemilih yang rasional walau tingkat pendidikan rendah, namun kesejahteraan baik.

Kami meyakini semua masyarakat Kota Bengkulu menginginkan proses demokrasi yang “sehat” sehingga melahirkan pemimpin yang berintegritas. Inti dari Integritas yakni pembicaraan, perbuatan dan kinerja menjadi satu kesatuan sehingga akan mengedapankan kepentingan publik untuk kemajuan kota Bengkulu.
Proses demokrasi yang sehat salah satu indikatornya dengan hadirnya pemilih yang berkualitas. Masyarakat Kota Bengkulu jika dilihat dari demografinya merupakan masyarakat perkotaan yang kita percaya bahwa secara pengetahun Politik cenderung lebih maju karena arus dan akses informasi yang mumpuni. Pengetahuan hendaknya diimbangi dengan kesadaran, pemilih hendaknya mulai menanamkan mindset bahwa proses demokrasi tidak hanya memerlukan pengetahuan akan tetapi kesadaran dalam berdemokrasi.*** (Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Magister Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar