Aksi tolak BBM didepan Kantor DPRD Provinsi Bengkulu. (Doc:Pau)
BENGKULU,
SH - Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM)
nonsubsidi Pertalite sebesar Rp. 200 yang dilakukan oleh pemerintah pusat,
mendapatkan respon yang kurang baik oleh masyarakat pada umumnya, hal ini
membuat masyarakat menengah kebawah semakin sulit, Rabu siang (04/04/18).
Massa KAMMI yang
melakukan aksi protesnya di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Provinsi Bengkulu, menurut Koordinator Lapangan aksi, bahwa kebijakan
pemerintah dalam menaikkan harga BBM jenis Pertalite telah membuat masyarakat
kecil menengah semakin Sulit.
“Seharusnya
pemerintah bisa menemukan solusi yang tepat, dengan menaikkan harga BBM
Pertalite itu semakin membuat masyarakat kecil menengah semakin
sulit,"jelas khoiril ikhsan.
Menteri ESDM harus
langsung turun kelapangan, pada saat ini banyak sekali SPBU yang sudah tidak
melayani pengisian BBM subsidi, bahkan sering sekali BBM subsidi itu kosong,
sehingga hal ini mendorong masyarakat kecil menengah untuk menggunakan BBM
nonsubsidi Pertalite.
“Coba Pemerintah cek
langsung kelapangan, bahwa pada SPBU pada saat ini, banyak sekali BBM
bersubsidi itu tidak ada, hal ini mendorong agar masyarakat kecil menengah juga
menggunakan BBM nonsubsidi, akan tetapi jika Pertalite terus naik seperti ini,
bukankah semakin membuat masyarakat susah,”tambahnya.
Untuk diketahui, langkah
pemerintah yang mengurangi pasokan BBM subsidi ini, pasti akan mendorong
masyarakat untuk menggunakan BBM nonsubsidi, oleh karena itu kami minta kepada
DPRD Provinsi Bengkulu, untuk melakukan perundingan kepada pemerintah untuk
menekan harga BBM.
“Pengurangan pasokan
BBM subsidi, akan membuat masyarakat menggunakan BBM nonsubsidi, namun jika BBM
nonsubsidi terus mengalami kenaikan maka rakyat semakin susah, dan kami minta
agar para anggota dewan bisa menyikapi ini," tambahnya.
Disisi lain, Ketua
Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Sri Rezeki mengatakan, bahwa kenaikan harga
BBM nonsubsidi ini adalah keputusan pemerintah pusat, dan DPRD Provinsi tidak
berhak untuk mengatur kebijakan pemerintah pusat.
“Hal ini merupakan
kebijakan pemerintah pusat, dan kita tidak berhak untuk mengatur kebijakan
pusat, ini merupakan tugas DPR RI, dan semoga para wakil rakyat yang dipusat
dapat mengambil langkah tepat,"terang Sri Rezeki.
Sri Rezeki selaku
anggota Dewan Provinsi berjanji secepatnya akan segera ke Jakarta untuk bertemu
dengan pemerintah pusat dan akan menyampaikan aspirasi dari masyarakat
Bengkulu.
“Saya akan segera
menuju Jakarta, akan saya sampaikan aspirasi ini kepada pemerintah pusat,
sehingga aspirasi masyarakat ini dapat didengar oleh presiden," pungkasnya.
.
4 petikan yang tertulis tuntutan massa dalam aksi tersebut. (Doc:Pau)
Ada juga 4 petikan
yang tertulis tuntutan massa dalam aksi tersebut: Menuntut pemerintah menjamin
ketersediaan BBM bersubsidi untuk masyarakat miski, Menuntut pemerintah
mengambil alih pengaturan harga BB, Menolak kenaikan harga BBM yang
menyengsarakan rakyat dan, Mendesak DPRD Provinsi Bengkulu untuk menyampaikan
dan memperjuangkan tuntutan masyarakat ke pemerintah pusat tentang kenaikan
BBM.(pau)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar