//
Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan Kasus Terbanyak
BENGKULU,
SH - Setiap 25 April, dunia memperingati hari Malaria Sedunia.
Penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan dari nyamuk Anopheles ini
merupakan penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia. Di Bengkulu, maria
ternyata masih menjadi musuh utama manusia. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi
Bengkulu tahun 2017 mencatat, ada 1.031 kasus orang menderita penyakit
mematikan ini.
Angka
tersebut sudah menurun dibanding tahun 2016 lalu yang sampai 2.771 kasus
malaria. Pada tahun 2018 sampai dengan bulan Maret angka tersebut masih
sedikit, hanya 78 kasus.
Kepala
Dinkes Provinsi Bengkulu, H. Herwan Antoni, SKM, Mkes., MM, mengatakan, kasus
malaria ini banyak terjadi didaerah pesisir, pertambangan hingga wilayah padat
penduduk yang banyak terdapat air menggenang. Sehingga nyamuk demam berdarah,
terus berkembang biak.
“Kalau
kita lihat memang turun angka kasus malaria. Tapi masih tetap wajib kita
waspadai,” ujar Herwan, selasa siang (24/4/18).
Menurut
Herwan, penyakit malaria terjadi akibat gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi
parasit. Infeksi malaria bisa terjadi hanya dengan satu gigitan nyamuk. Jika
tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. “Itu
kenapa, penyakit ini harus segera ditolong. Agar bisa cepat disembuhkan,”
tuturnya.
Herwan
mengatakan, pencegahaan-pencegahan memang wajib dilakukan. Mulai dari menjaga
lingkungan, gerakan sehat bersama, pemusnahaan sarang nyamuk hingga penggunaan
kelambu. Sebab, dari hasil penelitian, pemakaian kelambu mampu memberikan
pencegahaan secara efektif.
Untuk
Bengkulu, Herwan mengatakan, pemakaian kelampu sudah mencapai 85 persen. “Kita
juga terus berikan edukasi kepada masyarakat, khususnya ibu hamil dan para
orang tua. Sepaya bisa mencegah maraknya nyamuk dirumah-rumah,” tambahnya.
Untuk
saat ini, di Bengkulu ada sebanyak 7 kabupaten yang menjadi wilayah endemik
kasus demam berdarah, yaitu Bengkulu Selatan, Seluma, Mukomuko, Kaur,
Kepahiang, Rejang Lebong dan Bengkulu Utara.
Sementara
3 kabupaten, Kota Bengkulu, Lebong dan Bengkulu Tengah masuk dalam kriteria
eliminasi kasus.
Namun
demikian, wilayah yang akan dijadikan murni eliminasi masih terdapat beberapa
kasus. Sehingga belum ditetapkan menjadi wilayah yang benar-benar tereliminasi
dari kasus demam berdarah. “Target kita tahun ini ada wilayah yang tereliminasi
dari kasus malaria,” ungkap Herwan.
Herwan
menambahkan, angka penurunan kasus demam berdarah akan terus dilakukan. Sebab,
jika tidak diturunkan, tentu akan membayangi masyarakat terkena penyakit
tersebut. Untuk pencegaanya, tidak bisa dilakukan sendiri, butuh dukungan dan
keterlibatan dari semua pihak. Sehingga Bengkulu bisa benar-benar terbebas dari
penyakit malaria. “Kita butuh dukungan dari semua pihak. Karena ini merupakan
tugas kita bersama, khususnya kesadaran masyarakat untuk saling menjaga
lingkungan,” pungasnya.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar