// Lima Warga ‘Sakit
Parah’ Tanpa Bantuan Sejak 2016
Banyak Warga Sakit Parah Tanpa
Ada Bantuan.(Doc:Net)
BENGKULU TENGAH, SH – Kesejahteraan masyarakat di Bengkulu Tengah
(Benteng) masih sangat rendah dan belum mampu dirasakan oleh seluruh masyarakat,
salah satunya di Desa Srikaton, Kecamatan Pondok Kelapa Benteng. Betapa tidak, dari
data di berbagai sumber diketahui ada sebanyak 5 (lima) orang warga miskin yang
menderita berbagai penyakit serius yang mengancam nyawa mereka tanpa adanya
bantuan dan uluran tangan dari pemerintah setempat untuk berobat. Parahnya,
usulan dan permohonan bantuan yang kirimkan oleh pihak keluarga dan kepala desa
setempat ke Pemkab Benteng tak pernah digubris sejak tahun 2016 lalu hingga
sekarang. Kepala Desa (Kades) Srikaton, M Sarjoni mengungkapkan, pihaknya tidak
bisa berbuat banyak untuk memberikan bantuan secara maksimal. Sebab itu,
Sarjoni mengharapkan agar seluruh elemen masyarakat dan pemangku jabatan bisa
turun tangan dan menyumbangkan sebagian hartanya.
“Kami hanya bisa
berharap agar hati Pak Bupati dan segenap Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kabupaten Benteng bisa terketuk mengetahui ada warga kami
menderita penyakit serius ini. Terlebih lagi, mereka adalah warga kurang mampu.
Mereka dan anggota keluarganya tidak memiliki biaya yang cukup untuk berobat,”
ungkap Kades. Berupaya
untuk menolong warganya, Sarjoni mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali
mengajukan proposal usulan bantuan dana kepada sejumlah Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) di lingkungan Pemda Kabupaten Benteng. Sayangnya, usulan yang
sudah disampaikan sejak tahun 2016 tersebut tak kunjung membuahkan hasil.
“Kali ini, kami juga menyiapkan proposal
bantuan untuk sejumlah perusahaan yang berinvestasi di Kabupaten Benteng.
Seperti PT Bio Nusantara Teknologi, PT RAA, CV Kitaro, PT BAM dan PT Batang
Hari yang berlokasi di Desa Kembang Seri. Besar harapan kami pihak swasta
memberikan sumbangsih,” lirih Kades penuh harapan.
Sejauh ini, lanjut Kades, para lanjut usia
(lansia) yang menderita penyakit di desanya tersebut memang memiliki kartu
sakti BPJS Kesehatan untuk mengikuti pengobatan rawat jalan. Akan tetapi,
penyembuhan baru bisa dilakukan setelah kelima warganya mendapatkan pengobatan
yang lebih intensif di rumah sakit rujukan di Palembang. “Perlu diketahui, pengobatan di Palembang
membutuhkan biaya pendampingan yang tidak sedikit. Setidaknya biaya
pendampingan untuk 5 orang warga Desa Srikaton membutuhkan dana sekitar Rp 50
juta. Inilah yang belum kita miliki,” pungkas Kades.
// Capek Tunggu
Pemda, Mahasiswa ‘Turun Tangan’ Galang Dana
Aksi Mahasiswa Bantu Warga kurang
mampu di Benteng (Doc:net)
Sebelumnya, Puluhan mahasiswa yang tergabung
dalam Ikatan Mahasiswa Bengkulu Tengah (Ikama Benteng), Jumat Sore (2/3/2018) juga
sempat menggelar aksi solidaritas berupa penggalangan dana untuk membantu biaya
pengobatan Aina, warga kurang mampu yang saat ini terbaring lemah dirumahnya
karena terserang penyakit kanker payudara.
Warga Desa Talang Empat, Kecamatan
Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah tersebut, sebelumnya sudah pernah
dirawat di salah satu rumah sakit di Bengkulu. Namun karena kondisi Aina
semakin memburuk, pihak RS memberikan saran agar pasien dirujuk ke rumah sakit
yang terletak di Palembang.
“Menurut informasi yg
kami terima beberapa minggu yg lalu, ibu Aina sempat di rawat di salah satu
rumah sakit di Bengkulu, hanya saja dengan kondisi yang sekarang Ibu Aina harus
di rujuk ke Palembang, dan tentunya pihak keluarga membutuhkan dana yang tidak
sedikit,” ujar Reki. Dengan diadakannya kegiatan ini, lanjut Reki, dirinya
berharap dapat sedikit membantu meringankan beban financial bagi Ibu Aina dan
keluarga. “berapapun hasil sumbangan yang didapat hari ini akan langsung
diserahkan kepada pihak keluarga,” pungkasnya.
// Program bedah rumah warga miskin 2018,
Benteng Kuota Terbanyak
Buruknya
kesejahteraan masyarakat Benteng juga bisa dilihat dari banyaknya warga Benteng
tidak mampu yang direkomendasikan sebagai peserta. Dari total sebanyak 2.500
unit rumah warga miskin tidak layak huni di Bengkulu yang direhabilitasi oleh
Dinas Perumahan dan Tata Ruang setempat, kabupaten Bengkulu Tengah mendapat
alokasi terbanyak dengan 368 unit rumah atau KK.
"Tahun ini, ada 2.500 unit rumah warga
tidak layak huni di Provinsi Bengkulu, akan kita lakukan perbaikan, tersebar di
sejumlah kota dan kabupaten di Bengkulu," kata Kepala Dinas Perumahan dan
Tata Ruang Bengkulu, Rudi Perdana, di Bengkulu, Kamis (1/3/2018) silam. Ia
mengatakan, dari 2.500 unit rumah yang akan diperbaiki itu, sebanyak 1.183 unit
sudah dikeluarkan surat keputusan (SK) oleh pusat untuk segera direalisasikan
dalam waktu dekat. Dana perbaikan rumah tidak layak huni bersumber dari APBN
sebesar Rp 37,5 miliar.
Sedangkan sisanya sebanyak 1.317 unit
lagi masih dalam proses dan diharapkan dalam waktu dekat ini juga diterbitkan
surat keputusanya oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, perbaikan 2.500 unit
rumah warga tidak layak di Bengkulu, tahun 2018 dapat direalisasikan 100
persen. Rudi menambahkan, sebanyak 1.183 unit rumah tidak layak huni yang sudah
disetujui pusat untuk diperbaiki dalam waktu dekat, tersebar di 5 kabupaten di
Provini Bengkulu.
Adapun kelima kabupaten itu, yakni Kabupaten
Lebong sebanyak 158 unit, Kaur 164 unit, Bengkulu Tengah sebanyak 368 unit,
Rejang Lebong sebanyak 236 unit dan Kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 267 unit.
Sedangkan besarnya dana perbaikan rumah tidak layak huni dianggarkan pemerintah
sebesar Rp 15 juta/unit. Dana perbaikan rumah tersebut, disalurkan Dinas
Perumahan dan Tata Ruang Provinsi Bengkulu ke rekening pemilik rumah
bersangkutan.
"Perbaikan rumah tidak layak huni
terserbut, kata Rudi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus
derajat masyarakat kurang mampu di daerah ini," ujarnya. Mantan Kepala
Dinas Pariwisata Bengkulu ini, menambahkan, saat ini masih ada ratusan ribu
unit rumah warga tidak layak huni di Bengkulu, tersebar di 10 kabupaten dan
kota.(red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar