Saat pertemuan,Rabu
(04/04/18) diruang Rapat Pimpinan IAIN Bengkulu.(Doc:net)
BENGKULU,
SH - Polemik antara
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan IAIN Bengkulu yang sempat di hebokan
kericuan kedua pihak. HMI merasa tidak senang dengan adanya perampasan bendera
HMI yang sampai sekarang masih disita pihak rektorat.
“Tapi yang lebih menyakitkan lagi, dimana indentitas kami HMI,
bendera HMI sampai sekarang masih disita pihak rektorat. Dan kami meminta WR 3
harus mundur, kami meminta Rektor segera copot Warek 3, karena tidak objektif
dalam menjalani tugas selaku fasilitator atau bapak dari mahasiswa IAIN,”
tegasnya.
Denga adanya permesalahan tersebut akhirnya dilakukanlah kedua
pihak yakni HMI dan IAIN pertemuan,Rabu (04/04/18)
diruang Rapat Pimpinan IAIN Bengkulu, dihadiri oleh Senior HMI, Koordinator
Presedium KAHMI Provinsi bengkulu, Ketua Cabang HMI, Ketua Komisariat,
Sekretaris Umum dan Anggota HMI. Sementara dari IAIN yaitu Rektor IAIN
Bengkulu, Dekan Syariah, Diretur Pasca Sarjana, Kabag Humas, Kasubag Humas dan
Dosen IAIN bengkulu.
Di dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak sepakat untuk damai,ada
juga 8 poin-poin kesepakatan yang ditandatangani kedua belah pihak. Point-point
kesepakatan diantaranya:
1. Bahwa
HMI dan IAIN Bengkulu sudah saling memaafkan atas terjadinya peristiwa
penertiban atribut HMI pada hari Rabu, 28 Maret 2018.
2.Bahwa
terhadap laporan dan proses hukum atas peristiwa tersebut akam diselesaikan
secara kekeluargaan.
3.Bahwa
penertiban atribut dalam peristiwa tersebut tidak dimaksudkan untuk melecehkan
organisasi HMI.
4.Bahwa
penyerahan bendera dan atribut HMI akan diserahkan di sekretariat HMI Cabang
Bengkulu pada saat silaturahmi Wakil Rektor III dengan HMI Cabang Bengkulu.
5.Bahwa
Civitas Akademika dan HMI Komisariat IAIN Bengkulu wajib menjaga kondusifitas
kampus IAIN Bengkulu.
6.Bahwa
terhadap penjatuhan sanksi terhadap Wakil Rektor III akan diproses sesuai
dengan aturan yang berlaku.
7.Bahwa
KAHMI dan IAIN Bengkulu sepakat untuk bersinergi demi kemajuan bersama.
8.Koordinator
Presidium Majelis Wilayah KAHMI Bengkulu, M.A. Prihatno mengatakan, bahwa
pertemuan dan kesepakatan yang terwujud dengan Rektor IAIN Bengkulu merupakan
hikmah terbesar dari kejadian beberapa waktu yang lalu.
Selain aksi demo Sebelumnya, polemik antara HMI dan IAIN
Bengkulu berujung saling lapor ke Polisi. Aktifis HMI melaporkan Wakil
Rektor III IAIN Bengkulu ke Polisi, sedangkan petugas security IAIN Bengkulu
melaporkan HMI ke Polisi atas dugaan penganiayaan saat terjadi aksi demo di
IAIN Bengkulu oleh HMI.
Masalah kedua belah pihak itu diawali dengan tindakan pengamanan
bendera dan spanduk HMI terkait pembukaan pendaftaran LK I HMI. Spanduk dan
bendera HMI diamankan atas perintah Wakil Rektor III IAIN Bengkulu Dr Samsudin.
Buntut dari peristiwa itu, HMI menggelar demo sebanyak dua kali di IAIN
Bengkulu.
HMI menuntut Wakil Rektor III IAIN Bengkulu dicopot dan IAIN
Bengkulu meminta maaf. Namun, Wakil Rektor IAIN Bengkulu bersikukuh tindakan
pengamanan bendera dan spanduk HMI telah sesuai prosedur.
Kegiatan berjalan lancar ketegangan tak terjadi sedikitpun,
Rektor pun sesekali berguyon dengan Para senior dan anggota HMI.
Dalam kesempatan itu Rektor IAIN Bengkulu Prof Dr Sirajuddin
menyatakan sikap dan menyampaikan permohonan maaf apabila tindakan Wakil Rektor
III IAIN Bengkulu yakni Dr Samsudin menyinggung HMI dan keluarga besarnya.
“Sesama Muslim dalam penyelesaian masalah haruslah mengupayakan
musyawarah dan tujuan mengupayakan perdamaian,” Kata Rektor IAIN Bengkulu, Prof
Sirajuddin.(Pau)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar