Senin, 16 April 2018

Harga Daging Di Kota Bengkulu Mendadak Naik


// RPH Jual Daging Tinggi, Pedagang dan Warung Makan Terancam Merugi


Penjual Daging sapi di Kawasan Pasar Minggu Kota Bengkulu

BENGKULU, SH – Sejak sepekan terakhir, harga daging sapi di Kota Bengkulu terus beranjak mengalamo kenaikan. Di pasar tradisional pasar Minggu, harga daging sapi berada di kisaran Rp. 120-130 ribu perkilogram.
Salah satu pedagang daging  di pasar minggu bawah Ucok mengatakan, kenaikan harga daging sapi  tak lain disebabkan oleh naiknya harga jual daging sapi bersih di rumah potong hewan (RPH) Kota Bengkulu yang saat ini mencapai Rp. 115 ribu perkilogram.
“Kami ini hanya ambil untung Rp. 10-15 ribu pak perkilogram saja. Kami mau jual murah juga tak dapat untung sama sekali, sebab kami juga membeli daging sapi dari RPH juga mahal. Jadi tidak mungkin kami jual dibawah harga modal kami,” ujar Ucok, Senin pagi (9/4/18).
Sebelumnya, harga daging sapi di pasaran wilayah kota Bengkulu masih terbilang normal, yakni berkisar Rp. 100 ribu peekilogram. Namun sejak satu minggu terakhir harga daging mulai merangkak naik Rp. 20-30 ribu perkilogram . Ironisnya, harga jual daging sapi di RPH termasuk lebih mahal dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah pusat yaitu Rp. 80 ribu perkilogram.
“Pedagang hanya mengikuti alur harga modal dan mengambil untung sedikit dari penjualan. Sangat jarang sapi lokal dipotong dan dijual di RPH. Memang sih kondisi ini sangat merugikan para peternak sapi lokal pak. Tetapi mau gimana lagi, kalau kami pedagang hanya berjualan saja,” tambah Ucok.
Sementara itu, di tempat yang sama, senada dengan Ucok, salah seorang pedagang  Asep berharap, agar secepatnya pemerintah daerah, khususnya dinas perdardagangan baik provinsi maupun kota dapat memberikan solusi atas kenaikan harga daging sapi yang dinilai tak wajar ini, pasalnya, dengan tingginya harga jual daging sapi maka jumlah warga yang membeli juga jauh berkurang alias sepi.
“Jarang ada warga yang beli  daging saat ini. Sehari hanya bisa habis 30 kilogram. Biasanya bisa sampai 100 kilogram habis terjual per harinya. Ya kalau nggak ada yang beli, kami juga jadi merugi. Setiap hari jualan makan modal terus, bangkrut,” pungkasnya.
Tidak hanya pada pedagang dan konsumen, naiknya harga daging ini juga sangat berpengaruh  pada pengusaha rumah makan. Tari, salah seorang Pedagang sop daging mengatakan, naiknya harga ini sangat merugikan karena tidak mungkin menaikkan harga dagangannya, lantaran takut ditinggal konsumen.
“Sangat merugikan kami, kalau daging terus menerus naik gimana nasib kami? tidak mungkin kan kami menaikkan harga jualnya, jikalau kami masih menaikkan pasti konsumen akan mengeluh,” ujar Tari.
Sementara itu, Watini seorang ibu rumah tangga mengaku sangat mengeluh dengan kenaikan harga daging ini, sebab menurutnya tidak semua masyarakat dapat menikmati daging.
“Tidak semua masyarakat dapat membeli daging, daging sendiri kan sudah mahal dan sekarang tambah mahal. Kasian kami yang cuma sebulan sekali dapat mengkonsumsi daging,” pungkas Watini.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar