Senin, 23 April 2018

BI : Pemerintah Harus Inovatif Hadapi Pasar Online


BENGKULU, SH - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengatakan, mulai saat ini pemerintah daerah (Pemda) diminta inovatif dalam menghadapi serangan pasar online untuk menjaga peredaran uang di daerah. Pernyataan ini muncul dalam diskusi sosialisasi Gerakan Nasional Non-Tunai yang dihelat Bank Indonesia ( BI) perwakilan Bengkulu, Kamis siang (6/4/18).

"Saat ini kecenderungan masyarakat tinggi berbelanja online, itu bisa dilihat dalam keseharian. Ini menjadi persoalan karena uang di daerah Bengkulu banyak tersedot keluar. Pemda harus punya siasat jitu," ungkap Endang.

Menurut Endang,  Gerakan Nasional Transaksi Non-Tunai (GNNT) sangat berguna dalam efisiensi dan percepatan pertumbuhan ekonomi. Tidak bisa dipungkiri bila uang daerah dapat berpindah ke daerah lain. Terutama daerah yang sedikit memiliki sumber produksi.

"Di Bengkulu uang masuk dan ke luar itu perbandingannya, jadi kalau ada tiga uang masuk maka hanya satu yang tinggal di Bengkulu," ujarnya.

Kondisi ini terjadi karena semua bahan baku produksi dan konsumsi di Bengkulu berasal dari luar daerah. Menurutnya, Hal tersebut dapat ditekan apabila daerah memiliki pusat-pusat industri dan produksi dan aktivitas ekonomi produktif.

"BI sebagai contoh selama ini menggalakkan batik besurek Bengkulu, Namun semua bahan baku harus ambil dari Jawa semua. di Bengkulu tidak ada, ini salah satu masalahnya," ungkap Endang.

Pada 2015 menurut BI perwakilan Bengkulu dari 100 persen uang investasi yang masuk 70 persennya akan kembali ke luar. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertekan. Di Bengkulu, 70 Persen Uang Investasi ke keluar  daerah.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar