// Perempuan Bengkukulu Masih Tertindas
Para
ibu-ibu tengah sibuk membersihkan Sampah dan batu napal di tumpukan batu bara
di Wilayah Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu
Ditengah gempuran kemajuan zaman, masih ada
tangan-tangan perkasa yang tidak kenal lelah untuk mencari nafkah demi membantu
suami dan kebutuhan keluar. Jika banyak ibu-ibu sibuk merias diri di rumah
untuk menyambut suami dan berjalan di luar rumah, para ibu-ibu ini sibuk
mengais rezeki ditumpukan batubara yang jauh dari kesan nyaman dan bersih. Saat ini masih banyak di dapati perempuan di
daerah ini menggemban pekerjaan ganda, dimana mereka wajib mengurus rumah dan
bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti halnya pekerja
parting di stockpile pemilah batu bara yang setiap hari
bekerja dari pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB mereka lakoni.
Terik matahari dan debu tebal siap melumat mereka saat
waktu istirahat kebanyakan orang. Hanya satu kata keluar dari mulut para
perempuan ini, mengantongi rupiah demi rupiah untuk sekedar membeli lauk-pauk
dan keinginan batin dan anak-anak mereka untuk menyambung hidup keluarga.
Bagaimana kisahnya, berikut investigasi tim redaksi Suara Hukum Bengkulu !!!!
Fikriyadi Najmi – Kota
Bengkulu
Siang itu waktu telah menunjukkan pukul 13.10 WIB,
di bawah sengatan terik matahari tampak Erni (43) bersama dengan 30 orang
teman-temanya tengah sibuk membersihkan emas hitam alias batu bara milik PT.
Jambi Resource di Wilayah Pelabuhan
dan pendaratan Batu Bara kawasan Pulau Baai Kota Bengkulu. Ini bisa dikatakan
suatu pekerjaan yang kebanyakan orang belum layak bagi para perempuan , namun
bagi Erni inilah saat ini dan puluhan pekerja lainnya yang dapat mereka
kerjakan untuk bertahan hidup ditengah
desakan ekonomi yang semakin tinggi dari hari ke hari. Sebab lapangan pekerjaan
di daerah ini sangat sulit didapatinya.
Sembari
mengenakan topi petani dan masker rangkap pelindung wajah yang pagi itu
didapatinya dari komunitas peduli perempuan dari salah satu kampus ternama di
Kota Bengkulu. Erni bersama puluhan pekerja lainnya berusaha mengumpulkan dan
memisahkan kotoran yang tercampur dengan batubara agar kualitasnya menjadi
lebih baik untuk dapat di ekspor pihak perusahaan.
“Kami
pisahkan rumput, ranting kayu dan tanah napal supaya batubaranya bersih,” ujar
Erni saat ditemui diselah istiraha siangnya.
Sebetulnya
kami yang menginvestigasi pekerjaan para ibu-ibu hebat ini sempat kwatir dan
takut, namun dengan pengalaman dan keberanian untuk masuk di areal pekerja
seraya mengendap dan jadi bagian dari keluarga para ibu hebat ini. Sembari
bercengkeramah, kamipun melaksanakan sesi obrolan menarik. Namun saat waktu
istrahat habis, para ibu-ibu ini t urun di tengah hamparan batu bara yang di
ratakan oleh alat eksepator dank am ipun langsung memetikan kamera. Namun hal
mencegangkan terejadi, kamipun di panggil ke dalam kantor untuk menghadap
pengawas menayakan prihal apa yang kami lakukan dan untuk apa foto tersebut.
Sebab areal ini dilarang masuk selain pekerja. Dengan senyuman dan jawabanb ala
kekeluargaan kamipun kelaura dan mendaptkan secarik data untuk kami buat karya
yang melukiskan keperkasaan perempuan Bengkulu di muat pada peringatan hari
Perempaun Sedunia yang jatuh setiap tahunnya pada tanggal 10 maret.
Erni
menceritakan, dirinya bersama yang lainnya sebetulnya mengaku sangat takut, sebab pekerjaan ini bisa
berefek bagi kesehatan tubuh yakni penyakit paru hitam. Tak khayal, saat ia
pulang kerumah saat mandi. Hidung dan mulut garus benar-benar di bersihkan
sebab adalah bagian vital karena sering didapati debu menempel tebal. Akan
tetapi menurut Erni dan para ibu-ibu lainnya letih dan lelah untuk melakukan
pekerjaannya walau hanya dibayar 50 ribu
rupiah baru per 1 maret kamrin naik menjadi Rp. 75 ribu. Jumlah ini sebenarnya
tak setimpal dengan berbagai resiko penyakit yang akan mereka derita di suatu
saat jika tanpa pengamanan terstransar.
“Dulu
sehari dibayar hanya Rp. 50 ribu, jauh dari UMP Provinsi Bengkulu yang
ditetapkan sebesar Rp. 1,8 ribu perbulan. Namun sejak 1 Maret 2018 dinaikan
menjadi Rp. 75 ribu perhari. Rata-rata ibu yang bekerja disini sudah cukup
lama” tambah Erni.
Erni
menambahkan, meski tak ada didapati pekerja di usia bawah umur, namun para
pekerja disini terdaopat juga ibu muda berusia 23 tahin hingga tertua 50 tahun
keatas.
Erni
sendiri merupakan ibu berusia kepala empat hampir setiap hari melakoni
pekerjaan ini mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Panas terik dan
hujan badaipun tidak menghentikan aktivitasnya , hanya sakit yang kadang
memaksanya untuk berhenti sementara waktu melakukan pekerjaannya.
“Kalau
ada Pekerjaan lain, saya memilih kerja ditempat lain, tapi sekarang tidak ada
pekerjaan lain sebab saat ini penghasilan kelaurga masih dirasa
kurang,”sambungnya.
Sesekali
kami dapati tampak raut ceria dan semangat di wajah para ibu-ibu tersebut saat
kamia jak berbicara dengan logat daerah Selatan dan Kaur, Seolah tak ada raut
mengeluh di wajah-wajah hitam penuh debu mereka.
Para
ibu-ibu ini datang dengan Mobil sewaan dan ada juga yang datang diantar
keluarga. Mereka datang dari Desa Kandang dan Teluk Sepang Kota Bengkulu. Jarak
yang cukup jauh harus ditempuh untuk mencapai lokasi ini tidak menjadi
penghalang, karena di mata ibu-ibu hebat ini, membantu ekonomi keluarga adalah
hal terpenting.
“Kami
datang dari Teluk Sepang, memang cukup jauh tapi bukan jadi penghalang kami,”
ujar Erni.
Seharusnya,
di usia memasuki setengah abad ini, para ibu ini harusnya berada di rumah
mengurusi anak dan menyaipkan kebutuhan suami. Keseharian mereka ini menjadi
kesan tersendiri diantara mereka, walaupun pekerjaanya berat, namun tetap
dijalani dengan senang hati dan tanpa mengeluh meskipun harus terpanggang
matahari setiap hari.
“Ya beginilah dek, kalau
tidak kerja tidak bisa makan,” celetuk dalam Erni.(Frj)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar