Kain Tenun Delamak.(Doc:net)
Bengkulu kaya akan warisan
budaya, jauh sebelum populernya kain batik besurek yang menjadi kebangaan
masyarakat Kota Bengkulu saat ini. Bengkulu sudah ada kain khas adat, yakni
kain Delamak dan Ambin Dogam yang bersal dari kabupaten Kaur dan Rejang Lebong.
Bahkan dua jenis kain ini sudah ada sejak sebelum Bengkulu diperkenalkan agama
Islam. Namun sayangnya 2 jenis kain tenun ini sudah sangat sulit ditemui bahkan
terancam punah karena para pengrajinya sudah tidak ada lagi. Nah… bagaimana
kisah selengkapnya. Redaksi Suara Hukum Bengkulu akan mengupasnya. Berikut
ulasan singkatnya.
FIKRIYADI
NAJMI – KOTA BENGKULU
BENGKULU,
SH –
Bengkulu hingga saat ini terkenal dengan kain batik besurek. Namun, jauh
sebelum itu, Bengkulu memiliki kain tenun khas yang dinamakan Delamak yang merupakan
kain khas dari kabupaten Kaur dan Kabupaten Rejang Lebong.
Kurator Museum Negeri
Bengkulu, Muhardi mengungkapkan, kain batik besurek yang populer saat ini,
masuk ke Bengkulu pada abad XVI (16) bersamaan dengan Islam. jauh sebelum Islam
masuk, Bengkulu sudah memiliki kain tenun Delamak asal Kabupaten Kaur, termasuk
Kabupaten Rejang Lebong. Kain ini cukup khas, karena bahan dasarnya dari benang
kloi yang merupakan serat tumbuhan menjalar sebagai benang. Motif yang
digunakan tenun Delamak cukup beragam, sama halnya dengan kain-kain khas di
tanah air. Namu yang cukup sering dipakai yakni garis pantai, Pucuk Rebung,
Siku Keluang, perahu, dan manusia.
"Saat Islam
masuk, tenun delamak mendapatkan sentuhan dari batik besurek, semacam
berakulturasi, kira-kira begitu," jelas Muhardi.
Seiring berjalannya
waktu, kain tenun Delamak tertinggal dengan kepopileran kain batik besurek Kota
Bengkulu yang acap kali diperkenalkan di tingkat nasional oleh pemerintah
daerah, bahkan kain ini pada masa pemerintahan Gubernur Bengkulu Razi Yahya
diwajibkan bagi para PNS dan pelajar untuk mengenakannya. Belum lagi pada saat
pameran di berbagai daerah dan iven di daerah ini, eksistensi kain batik
besurek seolah memidarkan keberdaan kain jenis lainnya.
Keberadaan kain tenun
Delamak dan Ambin Dogan asli Bengkulu saat ini mulai punah dan sangat sulit
ditemukan. Kepunahan tenun khas Bengkulu ini menyusul meninggalnya para penenun
terdahulu dari zaman neneng moyang yang tak terwariskan pada anak cucu.
Sementara Kolektor
dan desainer asal Kabupaten Rejang Lebong, Ahmad Barizi yang kami kutif dari
Kompas.com menyebutkan, saat ini masih terdapat dua jenis kain tenun asli
buatan masyarakat suku Rejang, yakni tenun Delamak Dan Ambin Dogan.
"Kalau Delamak
berukuran kecil, kalau Ambin Dogan berukuran besar," jelas Ahmad,
Untuk diketahui
bersama, kain tenun Delamak dan Ambin Dogan sejak ratusan tahun sebelumnya
sudah digunakan masyarakat Rejang untuk keperluan adat, seperti pernikahan,
kelahiran anak, dan persidangan adat. Namun ada juga, kain tenun Delamak dan
Ambin Dogan yang wajib digunakan untuk mengambil sumpah dalam setiap sidang
adat, namanya kain sumpah.
Sepeninggalnya para tetua pewaris tenun Delamak dan Ambin Dogan melegitimasi punahnya generasi penenun kain khas masyarakat adat Rejang ini. Tak banyak generasi saat ini merasa khawatir dengan punahnya tenun Delamak. Bahkan tidak sedikit generasi muda suku Rejang mengetahui bahwa ada kain lebih tua usianya dibandingkan batik besurek yang telah familiar.
Untuk menjagah agar tidak punah, Ahmad Barizi, sejak 20 tahun lalu dirinya bersama sang ayah terus lakukan berbagai usaha untuk melestarikan tenun Delamak dengan caranya sendiri.
Sepeninggalnya para tetua pewaris tenun Delamak dan Ambin Dogan melegitimasi punahnya generasi penenun kain khas masyarakat adat Rejang ini. Tak banyak generasi saat ini merasa khawatir dengan punahnya tenun Delamak. Bahkan tidak sedikit generasi muda suku Rejang mengetahui bahwa ada kain lebih tua usianya dibandingkan batik besurek yang telah familiar.
Untuk menjagah agar tidak punah, Ahmad Barizi, sejak 20 tahun lalu dirinya bersama sang ayah terus lakukan berbagai usaha untuk melestarikan tenun Delamak dengan caranya sendiri.
"Saya kumpulkan
ratusan jenis tenun delamak dan ambin dogan bersama mendiang ayah. Ini usaha
untuk menyelamatkan tenun delamak dari kepunahan," ujarnya.
Bahkan dirinya sudah
sering memberikan masukan pada pemerintah daerah untuk melakukan upaya
menghidupkan kembali keahlian tenun Delamak bagi pemuda. Tujuannya agar tenun
Delamak dan Ambin Dogan kembali hidup.
Sementara itu, Deff
Tri salah seorang anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu
menyatakan, saat ini Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong sedang menggodok
Raperda Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat Adat di Rejang Lebong. Raperda ini
merupakan kunci penting bagi upaya pelestarian tenun Delamak dan Ambin Dogan.
Raperda nanntinya dapat memberikan jaminan bahwa pemerintah wajib melakukan
upaya penegakan kembali warisan budaya, adat, termasuk hukumnya.
Deff menambahkan,
pekerjaan pelestarian warisan adat yang dilakukan oleh anggota masyarakat
seperti Ahmad Barizi menjadi mudah dan wajib difasilitasi pemerintah daerah.
“Raperda berbicara
pemenuhan hak-hak masyarakat adat, di dalamnya juga mencakup memenuhi kewajiban
pemerintah menghidupkan kembali warisan budaya seperti tenun Delamak yang saat
ini sudah punah. Tenun delamak harus dihidupkan kembali agar sejajar dengan
tenun tenun terkenal dari wilayah lain di seluruh nusantara," Tutup Deff
Tri.(Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar