Jalan-jalan yang rusak masih
banyak ditemukan di Bengkulu Tengah.(Doc: net)
BENGKULU TENGAH, SH – Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Bengkulu Tengah (Benteng) hingga saat ini ternyata masih memiliki
banyak pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan dan seakan menjadi
‘hutang’ kepada masyarakat yang belum bisa direalisasikan maksimal. Salah
satunya dan hal yang paling banyak dikeluhkan warga adalah soal jala rusak.
Meski pihak yang berwenang sudah melakukan beberapa
‘aksi’ perbaikan di berbagai titik, namun tak dipungkiri kualitas jalan yang
disulap mulus masih menjadi pertanyaan besar karena membutuhkan waktu yang
sangat panjang serta diduga tak sesuai dengan spek yang seharusnya.
Salah satu contohnya adalah Perbaikan jalan nasional yang menghubungkan Desa Kembang
Seri menuju Desa Air Sebakul, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah
(Benteng) yang dinilai lamban. Betapa tidak, pengerukan jalan yang dilakukan
sejak bulan Februari 2018 lalu sampai saat ini belum ditindaklanjuti.
Akibatnya, batu kerikil berserakan di tengah jalan.
“Kami minta agar perbaikan
segera dilakukan,” desak Kepala Desa (Kades) Tengah Padang, Kecamatan Talang
Empat, Jamali seperti yang dilansir be.com. Selain rentan menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu
lintas (lakalantas), Jamali mengatakan bahwa kerikil yang berserakan juga
membuat jalanan dipenuhi oleh kepulan debu ketika dilintasi berbagai jenis kendaraan.
Baik itu kendaraan pribadi ataupun kendaraan pengangkut batu bara. “Saat musim panas tiba, jalan menjadi
berdebu. Sedangkan, saat musim penghujan, jalan yang belum diperbaiki tersebut
akan dipenuhi genangan air,” bebernya.
Dikatakan Jamali, perbaikan berupa tambal sulam serta
pembuatan baru (rekonstruksi) pada jalan yang berada di depan pemukiman warga
tersebut hampir dilakukan setiap tahun, namun tak pernah bertahan lama. Dalam
tempo beberapa bulan, kerusakan jalan kembali terjadi. Pada awal tahun 2018
ini, perbaikan kembali dilakukan pada titik-titik jalan selama ini sudah
beberapa kali dilakukan perbaikan. “Agar jalan bisa bertahan lama, kami harap
Pemerintah lebih serius melakukan perbaikan dan jangan asal-asalan,” pinta sang
Kades.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, kerusakan jalan di Kecamatan
Talang Empat ini sudah sejak lama dikeluhkan warga setempat. Betapa tidak,
perbaikan berupa tambal sulam serta pembuatan baru (rekonstruksi) yang hampir
dilakukan setiap tahun tak pernah bertahan lama. Dalam tempo beberapa bulan,
kerusakan jalan kembali terjadi.
“Harapan kami adalah agar pemerintah bisa membangun jalan
nasional yang melintasi desa kami secara berkualitas. Sehingga, pembangunan
benar-benar bisa kami rasakan manfaatnya. Tidak seperti saat ini, jalan yang
beberapa bulan dibangun sudah mengalami kerusakan,” beber Jamali lagi. “Kami
harap, perbaikan kali ini bisa bertahan lebih lama. Sebab itu, kami minta
seluruh pihak bisa membantu melakukan pengawasan,” pintanya.
Selain kualitas jalan yang buruk, Jamali mengungkapkan
bahwa keberadaan truk batubara merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan. “Pada
jalur ini (Desa Tengah Padang,red), angkutan batubara memang sangat ramai
sekali. Dari pantauan kami, muatan yang mereka bawa pun melebihi tonase. Inilah
juga menjadi menjadi pemicu kerusakan jalan,” tambahnya.
Masih kata dia, kerusakan jalan memberikan berbagai
dampak negatif. Dimulai dari debu material hingga resiko terjadinya kecelakaan
lalu lintas (lakalantas). “Banyaknya lubang juga menjadi pemicu terjadinya
kecelakaan. Terutama saat musim penghujan yang membuat semua lubang tertutupi
genangan air,” demikian Kades.
// Jalan Menuju Tanjung
Raman Belum Pernah Dibangun Sejak Pemekaran Benteng
Selain jalan di kecamatan Talang Empat, jalan menuju desa
Tanjung Raman dari desa Sukarami kecamatan Taba Penanjung juga kondisinya
semakin parah. Jalan ini diketahui menjadi satu-satunya akses menuju Tanjung
Raman dan desa-desa disekitarnya. Bahkan menurut pengakuan sang kepala desa,
sejak kabupaten Benteng ‘merdeka’, jalan ini belum sekalipun tersentuh
pembangunan dari pemerintah.
Di lokasi bahkan tampak genangan air di tengah badan
jalan yang banyak ditemui serta berlumpur. Meski dilalui oleh sekitar 300an
jiwa lebih dari penduduk desa ditambah puluhan guru sekolah satu atap di desa
Tanjung Raman, namun jalan ini belum juga didapati tanda-tanda perbaikan dari
pemerintah setempat.
Kepala desa Tanjung Raman, Dodi Arianto mengakui,
pihaknya juga sudah berulang kali menyampaikan keluhan dan usulan kepada Pihak
Pemkab Benteng. Namun tragisnya, sejak Kabupaten Benteng melakukan pemekaran,
belum sekalipun jalan tersebut diaspal.
“Kami heran, kenapa usulan kami tidak pernah direspon,”
ujar Dodi. Ditambahkan Dodi, ia menemui Barenlitbang pada akhir 2017 lalu dengan
membawa sejumlah data dan foto untuk meminta bantuan agar jalan menuju desa
Tanjung Raman dibangun.
“Selain kondisi jalan yang masih tergenang lumpur, jalan
ini juga tanpa penerangan dan sangat gelap gulita khususnya pada malam hari. Untuk
masuk ke desa tersebut, menjadi satu-satunya akses yang terdekat dengan jalan
lintas sekitar 6 km, dan di sisi kanan serta kiri jalan masuk juga masih
dipenuhi semak belukar. Kondisi ini sangat menakutkan bagi warga yang ingin
bepergian keluar atau masuk ke desa pada malam hari,” paparnya.
Menurutnya juga, atas kondisi ini, warga terpaksa
menunggu hingga berkelompok atau melakukan konvoi jika ingin keluar masuk desa
saat malam hari demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti
kecelakaan, karena dengan bersama-sama maka akan lebih memudahkan memantau
keadaan satu sama lain dan memberikan pertolongan saat terjadi insiden di
perjalanan.
“Kami sangat
berharap pihak Pemkab melalui OPD yang berwenang dapat segera merespon keluhan
kami dan melakukan pembangunan infrastruktur jalan menuju desa kami agar
masyarakat bisa terbantu,” pungkasnya. Atas keluhan warga ini, sayangnya hingga
berita diturunkan, belum bisa didapatkan konfirmasi seputar masalah ini baik
dari pihak Bupati atau wakil Bupati maupun OPD terkait untuk menanggapi hal
ini.(red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar