//Didominasi Pelajar dan Mahasiswa
Panza (18), Pemain Mobile Legends
BENGKULU, SH - Saat ini Bengkulu tengah dilanda demam Game Mobile Legends, permainan yang bisa
dimainkan siapa saja di handphone berbasis android ini sukses menarik perhatian
masyarakat Bengkulu hampir di semua kalangan baik tua maupun muda dari yang
berprofesi sebagai pelajar hingga mahasiswa. Bahkan mereka juga sudah memiliki Fans Page Facebook sendiri dengan nama Mobile Legends Bengkulu dengan total
anggota mencapai 2.000 orang.
Pemain Mobile Legends, Fikram Vacena (26) mengatakan,
Game Mobile Legends saat ini sedang
naik daun bisa dimainkan dimana saja karena dimainkan di handphone berbasis Android. Dirinya mengaku baru dua bulan ini bermain
dimana rata-rata pemainnya adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa. "Mobile
legend memang mudah dimainkan bahkaan semua kalangan terutama kalangan pelajar
dan mahasiswa," ujar Vacena, Selasa siang (6/3/18).
Adapun berbagai keunggulan yang dimiliki Mobile Legends yakni dibutuhkan kekuatan
tim. satu team terdiri dari lima orang mulai dari Taker, Fighter, Assasin, Mage, Support, serta Maksman. Tetapi hal
tersebut tidak menutup kemungkinan semua anggota bisa memilih tipe Assasin ataupun Fighter saja tetapi jaminannya adalah kekalahan. "Kita memerlukan kerjasama tim, tidak
bisa egois karena jaminannya adalah kekalahan," ujar Alumni Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Bengkulu
ini.
Total hero pada game ini
mencapai kurang lebih 52 karakter dan hampir setiap bulan selalu melakukan
update. Heronya biasanya diambil dari legenda lama. Vacena yang memang
menggemari permainan game sejak era 'gimbot' hingga era game onlinepun tak ketinggalan mengikuti permainan ini. "Satu
pertandingan memakan waktu rata-rata 10 sampai 15 menit. Tujuannya yaitu
menghancurkan base lawan. Saya dari dulu memang menyukai game dan hingga banyak
game ini juga tidak luput dari saya," tutur Vacena.
Vacena mengungkapkan, Pemain
professional di game ini bahkan bisa menghabiskan uang hingga jutaan rupiah
hanya untuk membeli skin dan hero atau tokoh karakter populer di game ini.
Selain itu ada juga fitur chatting tempat dimana para anggota bisa saling
bertukar pesan singkat secara live dan real
time. "Banyak chat dan makian saat tim tidak kompak seperti berebut
kill atau meninggalkan teman terjebak dengan perkelahian sendiri tetapi meski
begitu game ini berhasil menjadi game yang merebut hati banyak orang termasuk
saya," pungkas Vacena. Pemain Mobile
Legends lainnya, Panza (18) mengaku sering bermain Mobile Legends sejak dirilis pada akhir 2016 lalu. Kurang dari satu
tahun saja game ini sudah bisa dibilang mampu merajai game mobile. "Game
satu ini berhasil menjadi primadona mengingat genre-nya yang merupakan MOBA
mobile dan sangat seru," ujar Panza.
Genre seperti ini sebelumnya
memang sudah ada, namun seolah Mobile Legends berhasil menarik banyak pemain.
Bahkan pemain MOBA yang awalnya adalah pemain MOBA PC, ikut mencoba dan
kemudian ketagihan untuk terus bermain Mobile Legends. Sama seperti game MOBA
yang tenar di PC, Mobile Legends juga
sama menerapakan bagaimana mereka menghadirkan game yang mengharuskan pemainnya
untuk menghancurkan base musuh sambil mempertahankan base mereka sendiri. "Dari
anak kecil, sampai orang tua dapat bermain game ini, siapapun dapat bermain
mengingat game ini merupakan game yang hadir di platform mobile. Sehingga pasarnya pun akan lebih luas," jelas
Mahasiswa IAIN Bengkulu jurusan Pendidikan Agama Islam ini.
Dengan gameplay yang sangat simpel dan mudah, tentunya game ini juga masih
dapat dimainkan bahkan oleh seseorang yang tidak dibekali wawasan game MOBA
sekalipun. Tidak seperti game MOBA lainnya, game ini memudahkan para pemainnya
juga terutama saat membeli item. "Mereka bisa membeli item di manapun,
berbeda dengan MOBA lain yang mengharuskan untuk membeli item di base,"
lanjut Panza.
Sementara Sugeng Sudiyanto
salah seorang mahasiswa UNIB jurusan MIPA mengatakan, pihaknya juga telah
menggelar turnamen Mobile Legends di
Bengkulu yang akan diikuti sekitar 200 orang dimana pertandingannya akan
dilaksanakan di Kampus 4 Universitas Bengkulu di Padang Harapan Bengkulu pada
28 Februari 2018. "Pertandingan ini akan diikuti 30 tim dimana dalam satu
tim ada lima pemain plus satu pemain cadangan," sambung Sugeng.
Pihaknya mengaku banyak yang
masyarakat di Bengkulu bermain Mobile
Legends bahkan mereka memiliki Fans Page Facebook Sendiri dengan nama Mobile Legends Bengkulu dengan total
anggota mencapai 2.000 orang. "Mulai dari pelajar hingga Mahasiswa sudah
bermain game ini sebab game ini sudah mendunia dan mudah dimainkan serta dapat
menjadi penghilang stress dari aktivitas sehari-hari," pungkas Sugeng.
Sementara itu, Pakar Psikologi,
Dra. Ani Suprapti, MS Psikolog , mengatakan, secara psikologi memang game bisa
menghilangkan stress seseorang tetapi sebenarnya tidak hanya game mobile
legends yang mempengaruhi psikologi dan mental seseorang tetapi hampir semua
game jika dilakukan secara terus-menerus akan membuat orang ketagihan untuk
terus bermain game. Karena hampir 70 persen orang yang memainkan game akan
ketagihan tetapi pada akhirnya ketika lama kelamaan memainkan game tersebut
akan merasa bosan dan akan memilih game terbaru lagi.
"Jadi begini, dari sisi
psikologi ketika seseorang mengakses permainan atau game apa pun itu akan
membuat mereka menjadi senang dan nyaman maka akan timbul sebuah perasaan untuk
terus bermain apabila tidak adanya pengawasan dan pencegahan orang tua dalam
penggunaan handphone dan laptop maupun komputer," kata Ani.
Tidak adanya pengawasan dan pencegahan
orang tua dalam penggunaan handphone tersebut dikarenakan adanya dua
kemungkinan yaitu kepercayaan yang berlebihan seorang orang tua terhadap
anaknya serta tidak adanya waktu orang tua memeriksa kondisi anaknya tersebut.
Sedangkan dari sisi mental, seseorang yang sering bermain game dalam handphone
maupun komputer akan bermental penakut dan biasanya sifat mereka tertutup.
"Sosialisasi mereka
terhadap teman mereka dan dunia luar sangat kurang, karena aktifitas mereka
hanya terbatas pada belajar dan bermain tanpa adanya perhatian dan kasih sayang
orang tua yang kurang," ujar Ani. Pihaknya menyarankan kepada orang tua
untuk melakukan pencegahan sebelum terjadinya kecanduan dengan membatasi anak
baik yang masih duduk dibangku SD maupun kuliah dalam penggunaan handphone dan
sejenisnya dan terus lakukan pencegahan yang anda rasa perlu dilakukan. Karena
pencegahan lebih mudah dari pada mengobati. "Jangan sampai game menjadi
pengasuh karakter anak anda," tutup Ani.(Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar