Senin, 12 Maret 2018

Bengkulu ‘Demam’ Mobile Legends


//Didominasi Pelajar dan Mahasiswa

Panza (18), Pemain Mobile Legends


BENGKULU, SH - Saat ini Bengkulu tengah dilanda demam Game Mobile Legends, permainan yang bisa dimainkan siapa saja di handphone berbasis android ini sukses menarik perhatian masyarakat Bengkulu hampir di semua kalangan baik tua maupun muda dari yang berprofesi sebagai pelajar hingga mahasiswa. Bahkan mereka juga sudah memiliki Fans Page Facebook sendiri dengan nama Mobile Legends Bengkulu dengan total anggota mencapai 2.000 orang.

Pemain Mobile Legends, Fikram Vacena (26) mengatakan, Game Mobile Legends saat ini sedang naik daun bisa dimainkan dimana saja karena dimainkan di handphone berbasis Android. Dirinya mengaku baru dua bulan ini bermain dimana rata-rata pemainnya adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa. "Mobile legend memang mudah dimainkan bahkaan semua kalangan terutama kalangan pelajar dan mahasiswa," ujar Vacena, Selasa siang (6/3/18).

Adapun berbagai keunggulan yang dimiliki Mobile Legends yakni dibutuhkan kekuatan tim. satu team terdiri dari lima orang mulai dari Taker, Fighter, Assasin, Mage, Support, serta Maksman. Tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan semua anggota bisa memilih tipe Assasin ataupun Fighter saja tetapi jaminannya adalah kekalahan. "Kita memerlukan kerjasama tim, tidak bisa egois karena jaminannya adalah kekalahan," ujar  Alumni Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Bengkulu ini.

Total hero pada game ini mencapai kurang lebih 52 karakter dan hampir setiap bulan selalu melakukan update. Heronya biasanya diambil dari legenda lama. Vacena yang memang menggemari permainan game sejak era 'gimbot' hingga era game onlinepun tak ketinggalan mengikuti permainan ini. "Satu pertandingan memakan waktu rata-rata 10 sampai 15 menit. Tujuannya yaitu menghancurkan base lawan. Saya dari dulu memang menyukai game dan hingga banyak game ini juga tidak luput dari saya," tutur Vacena.

Vacena mengungkapkan, Pemain professional di game ini bahkan bisa menghabiskan uang hingga jutaan rupiah hanya untuk membeli skin dan hero atau tokoh karakter populer di game ini. Selain itu ada juga fitur chatting tempat dimana para anggota bisa saling bertukar pesan singkat secara live dan real time. "Banyak chat dan makian saat tim tidak kompak seperti berebut kill atau meninggalkan teman terjebak dengan perkelahian sendiri tetapi meski begitu game ini berhasil menjadi game yang merebut hati banyak orang termasuk saya," pungkas Vacena. Pemain Mobile Legends lainnya, Panza (18) mengaku sering bermain Mobile Legends sejak dirilis pada akhir 2016 lalu. Kurang dari satu tahun saja game ini sudah bisa dibilang mampu merajai game mobile. "Game satu ini berhasil menjadi primadona mengingat genre-nya yang merupakan MOBA mobile dan sangat seru," ujar Panza.

Genre seperti ini sebelumnya memang sudah ada, namun seolah Mobile Legends berhasil menarik banyak pemain. Bahkan pemain MOBA yang awalnya adalah pemain MOBA PC, ikut mencoba dan kemudian ketagihan untuk terus bermain Mobile Legends. Sama seperti game MOBA yang tenar di PC, Mobile Legends juga sama menerapakan bagaimana mereka menghadirkan game yang mengharuskan pemainnya untuk menghancurkan base musuh sambil mempertahankan base mereka sendiri. "Dari anak kecil, sampai orang tua dapat bermain game ini, siapapun dapat bermain mengingat game ini merupakan game yang hadir di platform mobile. Sehingga pasarnya pun akan lebih luas," jelas Mahasiswa IAIN Bengkulu jurusan Pendidikan Agama Islam ini.

Dengan gameplay yang sangat simpel dan mudah, tentunya game ini juga masih dapat dimainkan bahkan oleh seseorang yang tidak dibekali wawasan game MOBA sekalipun. Tidak seperti game MOBA lainnya, game ini memudahkan para pemainnya juga terutama saat membeli item. "Mereka bisa membeli item di manapun, berbeda dengan MOBA lain yang mengharuskan untuk membeli item di base," lanjut Panza.

Sementara Sugeng Sudiyanto salah seorang mahasiswa UNIB jurusan MIPA mengatakan, pihaknya juga telah menggelar turnamen Mobile Legends di Bengkulu yang akan diikuti sekitar 200 orang dimana pertandingannya akan dilaksanakan di Kampus 4 Universitas Bengkulu di Padang Harapan Bengkulu pada 28 Februari 2018. "Pertandingan ini akan diikuti 30 tim dimana dalam satu tim ada lima pemain plus satu pemain cadangan," sambung Sugeng.

Pihaknya mengaku banyak yang masyarakat di Bengkulu bermain Mobile Legends bahkan mereka memiliki Fans Page Facebook Sendiri dengan nama Mobile Legends Bengkulu dengan total anggota mencapai 2.000 orang. "Mulai dari pelajar hingga Mahasiswa sudah bermain game ini sebab game ini sudah mendunia dan mudah dimainkan serta dapat menjadi penghilang stress dari aktivitas sehari-hari," pungkas Sugeng.

Sementara itu, Pakar Psikologi, Dra. Ani Suprapti, MS Psikolog , mengatakan, secara psikologi memang game bisa menghilangkan stress seseorang tetapi sebenarnya tidak hanya game mobile legends yang mempengaruhi psikologi dan mental seseorang tetapi hampir semua game jika dilakukan secara terus-menerus akan membuat orang ketagihan untuk terus bermain game. Karena hampir 70 persen orang yang memainkan game akan ketagihan tetapi pada akhirnya ketika lama kelamaan memainkan game tersebut akan merasa bosan dan akan memilih game terbaru lagi.

"Jadi begini, dari sisi psikologi ketika seseorang mengakses permainan atau game apa pun itu akan membuat mereka menjadi senang dan nyaman maka akan timbul sebuah perasaan untuk terus bermain apabila tidak adanya pengawasan dan pencegahan orang tua dalam penggunaan handphone dan laptop maupun komputer," kata Ani.

Tidak adanya pengawasan dan pencegahan orang tua dalam penggunaan handphone tersebut dikarenakan adanya dua kemungkinan yaitu kepercayaan yang berlebihan seorang orang tua terhadap anaknya serta tidak adanya waktu orang tua memeriksa kondisi anaknya tersebut. Sedangkan dari sisi mental, seseorang yang sering bermain game dalam handphone maupun komputer akan bermental penakut dan biasanya sifat mereka tertutup.

"Sosialisasi mereka terhadap teman mereka dan dunia luar sangat kurang, karena aktifitas mereka hanya terbatas pada belajar dan bermain tanpa adanya perhatian dan kasih sayang orang tua yang kurang," ujar Ani. Pihaknya menyarankan kepada orang tua untuk melakukan pencegahan sebelum terjadinya kecanduan dengan membatasi anak baik yang masih duduk dibangku SD maupun kuliah dalam penggunaan handphone dan sejenisnya dan terus lakukan pencegahan yang anda rasa perlu dilakukan. Karena pencegahan lebih mudah dari pada mengobati. "Jangan sampai game menjadi pengasuh karakter anak anda," tutup Ani.(Frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar