Istri Gubernur Bengkulu
sedang mempraktekkan tulis kain batik Besurek
Saat ini,
hampir tidak ada yang tidak mengenal kain batik Besurek Bengkulu. Semua
kalangan mulai dari generasi muda sampai yang tua, dapat membedakan dengan
mudah, apa yang disebut dengan kain batik Besurek . Tapi, sudahkan anda tahu,
apakah sebenarnya arti dalam mengenaik kain batik Besurek Bengkulu? Berikut
penelusuran tim Suara Hukum Bengkulu mengenai kain batik Besurek Bengkulu sidah
pantas mendunia dan bersaing dengan batik dari daerah lain di tanah air !!!!
FIKRIYADI
NAJMI - KOTA BENGKULU
BENGKULU, SH - Dalam kamus besar bahasa indonesia, Batik merupakan kain
bergambar yang pembuatannya dilakukan secara khusus pada kain dengan
menggunakan lilin yang dibalut dengan seni lukis. Kemudian pengolahannya
diproses dengan cara tertentu. Dengan keanekaragaman seni lukis tersebut,
tentunya menghasilkan berbagai kreasi dari setiap daerah. Termasuk Kota
Bengkulu yang tak lepas dari kata Besurek. Besurek sendiri berarti bersurat,
yang isinya memiliki berbagai makna. Dan sejak kapan, Besurek mulai dikenal di
Bengkulu.
Dari keterangan pengusaha sekaligus pemerhati dan pecinta
kain batik Besurek di kota Bengkulu, Trisna Angraini mengatakan, kain batik
Besurek itu muncul bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Bengkulu. Tepatnya
di awal tahun 1930 an. Motif kaligrafi arab gundul pun sudah sangat mendominasi
kain Besurek pada kala itu. Dengan ke khasan itulah, kain Besurek Bengkulu
tidak dikenakan dengan luas seperti saat ini, namun dikenakan pada kegiatan
acara sacral saja, seperti penutup keranda mayat, sungkeman ke makam leluhur
didominasi warna hitam, acara adat istiadat pernikahan didominasi warna merah,
hingga pertemuan dengan para bangsawan kerajaan warna kuning keemasaan dan
coklat. Sehingga Besurek sangat keramat dan diagungkan. Yang artinya, Besurek
hanya dimiliki oleh kaum bangsawa, petinggi, atau pejabat saja kala itu.
Trisna menambahkan, titik tolak perkembangan kain batik
Besurek di Bengkulu terjadi saat kepemimpinan Gubernur Bengkulu, Drs. H. A
Razie Yahya pada tahun 80-an. Saat itu, kain Besurek tidak lagi digunakan untuk
acara-acara formal saja, namun sudah dipopulerkan ke masyarakat untuk dipakai
dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan kain Besurek semakin menjadi, saat
Bengkulu dipimpin oleh Gubernur Suprapto. Dimana hampir seluruh kegiatan adat Bengkulu,
sudah mengenakan kain batik Besurek untuk dibalutkan pada dirinya.
Seiring perkembangan zaman, kain batik Besurek pun sudah
menjadi idola bagi masyarakat Bengkulu. Kain batik Besurek sudah dimodifikasi
dengan berbagai karya, mulai dari fashion bagi kaum wanita dan laki-laki,
hingga atribut lain seperti tas, dompet, hingga peralatan rumah tangga yang
sudah turut dibalut dengan desain kain batik Besurek.
Sejak tahun 2000 lalu,
fashion kain batik Besurek Bengkulu semakin menjadi-jadi di tangan
desainer-desainer handal, dengan banyaknya jenis fashion, seperti Ready
Waer untuk kalangan
anak-anak, dewasa, tua, pria hingga wanita. Pada 2010 hingga sekarang, kain
batik Besurek Bengkulu semakin trendi, dengan gaya kekinian, yang berkiblat
pada desainer nasional dan internasional, mulai dari Yogjakarta, Bandung, Paris
hingga Prancis.
Kain batik Besurek
Bengkulu semakin menyatu karena motifnya tak hanya berpaku pada kaligrafi arab
gundul, namun juga sudah ditambah dengan ornamen flora dan fauna khas Bengkulu.
Seperti bunga Raflesia, dan bunga Kibut.
Pembuatan kain batik
Besurek Bengkulu, proses pembuatannya tidaklah mudah, butuh waktu dan ketekunan
tinggi. Eli salah satunya, ia merupakan salah satu pembatik kain batik Besurek
Bengkulu, yang masih eksis. Menurutnya, butuh waktu paling cepat 1 minggu,
untuk membuat kain batik Besurek dengan kualitas yang bagus.
Proses pembuatan panjang
ini dimulai dari penulisan desain gambar batik ke dasar kain. Hal inipun tidak
mudah karena harus mengetahui posisi bagian motif untuk dada, pundak, hingga
posisi untuk tangan. Proses penterjemahan gambar inilah, awal mula konsep
pembuatan kain batik Besurek. Setelah selesai, selanjutnya kain tersebut
dicolet dengan lilin, lalu direndam dan diberi warna dasar, untuk kemudian di
jemur namun tidak boleh dibawah matahari langsung.
Proses panjang inilah,
yang membuat kain batik Besurek Bengkulu, dijual dengan harga yang mahal, sebab
tidak semua masyarakat, bisa memakai kain batik Besurek dengan kualitas bagus,
sebab harganya sampai jutaan rupiah untuk kualitas bagus dan terendah di
kusaran Rp. 200.000. namun hal yang sangat disayangkan, omset penjualan kain
batik Besurek Bengkulu untuk tingkat domestik, tergolong sangat rendah.
Namun hal ini berbanding
terbalik, dengan tinggihnya minat masyarakat luar Bengkulu, seperti dari
Jakarta, Bandung, hingga masyarakat luar negeri. Hal ini tampak terlihat
dari beberapa pameran batik tingkat nasional, baik yang diadakan di Jakarta,
maupun di tempat lain. Stand kain batik Besurek Bengkulu paling ramai di
kujungi para tamu. Mulai dari Presiden, Menteri, Direktur perusahaan ternama,
hingga turis mancanegara. Tak sekedar melihat, mereka turut membelinya untuk
dipakai di kegiatan-kegiatan resmi mereka.
Seperti terlihat saat
diadakannya Jogja Expo Center (JEC)
di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bulan oktober 2017 lalu. Saat itu, Ketua
Dekranasda Provinsi Bengkulu, Derta Wahyulin membatik bersama dengan istri Paku
Alam X Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam. Padahal dalam pameran
itu, terdapat lebih dari 150 stand pameran batik orisinal berkelas dari
berbagai daerah se-Indonesia.
Upaya untuk
membangkitkan kain batik Besurek Bengkulu terus dilakukan oleh pemerintah
kabupaten/kota dan pemerintah provinsi Bengkulu. Sebagai momentumnya, setiap
tanggal 18 november sudah resmi dijadikan sebagai hari resmi kain batik
Besurek yang bersamaan dengan hari lahirnya provinsi Bengkulu.
Sementara, Plt Gubernur
Bengkulu, H. Rohidin Mersyah mengaku sangat antusiasdengan terus turun
bersama-sama mempopulerkan kain batik Besurek Bengkulu dengan cara keluar masuk
kedutaan besar negara luar, untuk mempopulerkan kain batik Besurek, seperti
Iran, hingga negara yang dikenal “militer” yakni Vietnam dan Rusia.
Atas dasar kesuksesan
itulah, banyak masyarakat Bengkulu berharap, karnaval kain batik Besurek dapat
semakin di galakkan. Tri warga kelurahan Tengah Padang Kota Bengkulu ini
misalnya, selain jumlah peserta yang ditingkatkan, ia juga berharap rute
perjalanan dipanjangkan. Sebab dengan panjangnya rute, maka akan semakin banyak
masyarakat yang menonton, dan semakin meriah dengan berbagai atraksi yang
memukau.
Untuk semakin
mempopulerkan kain batik Besurek kepada para pengunjung, pemerintah kota
Bengkulu juga telah memberikan himbauan kepada pemilih hotel dan perusahaan
yang ada di Bengkulu, khususnya di wilayah kota agar mewajibkan pemberian
ornamen kain batik Besurek di kawasan hotel. Seperti lobby, kamar, hingga
karyawan hotel yang turut memakai seragam batik Besurek.
Dari semua itu,
pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten, harus mampu bersinergi dengan
pengusaha Bengkulu untuk bersama-sama secara masif, bergerak mempopulerkan
Batik Besurek Bengkulu. Pemerintah harus bisa menciptakan batik Besurek yang
berkualitas dengan harga yang terjangkau. Apalagi tantangan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) saat ini, dimana banyak barang-barang asing (dominasi cina) yang
masuk ke indonesia, tak terkecuali Bengkulu. Kain batik Besurek bukan tidak
mungkin, akan menjadi sasaran empuk, bagi pebisnis luar negeri, untuk di
jajaki.
Lalu apa yang bisa kita
(masyarakat) lakukan, mampukah, kain batik Besurek Bengkulu menjadi tuan rumah
di daerahnya sendiri ??. Konsumsilah produk-produk lokal, agar mampu
menghidupkan perekonomian masyarakat di Bengkulu. Kita harus bangga dan
bersama-sama memakai produk olahan asli daerah, baik di keseharian hingga ke
tingkat nasional. Ayo.. Bangga Memakai Batik Besurek Bengkulu. (Frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar