Rahman
Yasin, sutradara film.
Bengkulu, SH – Film pendek berjudul Botoi Botoi
masuk 20 besar Indonesian Short Film Festival (ISFF) 2019 yang digelar oleh
SCTV.Tinggal beberapa langkah lagi film yang disutradarai Rahman Yasin ini akan
menjadi juara dalam festival yang bergengsi tersebut.
“Alhamdulillah film Botoi Botoi
masuk 20 besar. Kita sangat optimis akan juara,” ujar Rahman Yasin.
Jika juara Rahman mengatakan film
ini akan diproduksi menjadi sinetron atau FTV yang diproduksi oleh stasiun TV
nasional.Ini tentu menjadi kebangaan tersendiri bagi masyarakat Bengkulu
sekaligus bisa menjadi ajang promosi daerah ke tingkat nasional.
“Saya juga minta do’a kepada seluruh
masyarakat Bengkulu agar film ini bisa menang,” harap Rahman.
Untuk
diketahui bersama, film pendek Botoi Botoi ini mengisahkan sisi kehidupan nelayan pesisir Kota
Bengkulu. Yakni, keluarga Safril.
Nelayan miskin yang memiliki 1 istri
(Nurjanah) 1 anak (Ipe) dan 2 adiknya, Adnan (Wely) dan Asril yang diperankan
Totok.Safril dan keluarga tinggal di rumah kecil di perkampungan nelayan yang
kumuh. Safril dan keluarga terlilit utang mencekik.
Selain terlilit utang, Safril dan
keluarga juga dicekam ancaman tsunami akibat aktifnya anak gunung Krakatau
Sebab, sebelumnya, dampak erupsi anak gunung Krakatau ini telah memicu
gelombang tsunami yang meluluhlantakan pesisir Banten dan Lampung.
Tak dinyana, gempa dan tsunami
benar-benar terjadi dan menerjang pesisir Bengkulu.Film ini kental akan budaya
masyarakat pesisir pantai Kota Bengkulu.Film Botoi Botoi yang berdurasi 15
menit ini didukung sederet artis lokal.
Adapun para pemain film, mereka
adalah Anton Supriadi sebagai Safril, Rosdianti (Nurjanah), Wely Yaswan
(Adnan), Ipe (Rosidah), Asril (Totok Suprapto). Ditambah, Riki (pedagang ikan),
Antok Asa dan Delson sebagai depkolektor. Desi Eko Riani (rentenir), Desi
Isnania (anak rentenir). Dina dan Bunga (penjual kue).Juga dibantu masyarakat
nelayan Kelurahan Pasar Bengkulu, Pulau Baai dan pemangku adat Kelurahan
Berkas.
Tim produksi terdiri, Asep (penata
kamera), Atenk dan Edy (kameraman), Pandu Subakti (soundman), Editor (Asep/Edy
Prayekno), Antok Asa (penata artistik). Serta Dedi S sebagai penata musik.
“Film pendek ini juga diharapkan
menjadi salah satu karya yang menjadi penambah perbendaharaan budaya daerah dan
budaya nasional,’’tutup Rahman.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar