Senin, 18 Maret 2019

Film Botoi Botoi Optimis Bisa Juara





Rahman Yasin, sutradara film.
Bengkulu, SH – Film pendek berjudul Botoi Botoi masuk 20 besar Indonesian Short Film Festival (ISFF) 2019 yang digelar oleh SCTV.Tinggal beberapa langkah lagi film yang disutradarai Rahman Yasin ini akan menjadi juara dalam festival yang bergengsi tersebut.
“Alhamdulillah film Botoi Botoi masuk 20 besar. Kita sangat optimis akan juara,” ujar Rahman Yasin.
Jika juara Rahman mengatakan film ini akan diproduksi menjadi sinetron atau FTV yang diproduksi oleh stasiun TV nasional.Ini tentu menjadi kebangaan tersendiri bagi masyarakat Bengkulu sekaligus bisa menjadi ajang promosi daerah ke tingkat nasional.
 “Saya juga minta do’a kepada seluruh masyarakat Bengkulu agar film ini bisa menang,” harap Rahman.
Untuk diketahui bersama, film pendek Botoi Botoi ini mengisahkan sisi kehidupan nelayan pesisir Kota Bengkulu. Yakni, keluarga Safril.
Nelayan miskin yang memiliki 1 istri (Nurjanah) 1 anak (Ipe) dan 2 adiknya, Adnan (Wely) dan Asril yang diperankan Totok.Safril dan keluarga tinggal di rumah kecil di perkampungan nelayan yang kumuh. Safril dan keluarga terlilit utang mencekik.
Selain terlilit utang, Safril dan keluarga juga dicekam ancaman tsunami akibat aktifnya anak gunung Krakatau Sebab, sebelumnya, dampak erupsi anak gunung Krakatau ini telah memicu gelombang tsunami yang meluluhlantakan pesisir Banten dan Lampung.
Tak dinyana, gempa dan tsunami benar-benar terjadi dan menerjang pesisir Bengkulu.Film ini kental akan budaya masyarakat pesisir pantai Kota Bengkulu.Film Botoi Botoi yang berdurasi 15 menit ini didukung sederet artis lokal.
Adapun para pemain film, mereka adalah Anton Supriadi sebagai Safril, Rosdianti (Nurjanah), Wely Yaswan (Adnan), Ipe (Rosidah), Asril (Totok Suprapto). Ditambah, Riki (pedagang ikan), Antok Asa dan Delson sebagai depkolektor. Desi Eko Riani (rentenir), Desi Isnania (anak rentenir). Dina dan Bunga (penjual kue).Juga dibantu masyarakat nelayan Kelurahan Pasar Bengkulu, Pulau Baai dan pemangku adat Kelurahan Berkas.
Tim produksi terdiri, Asep (penata kamera), Atenk dan Edy (kameraman), Pandu Subakti (soundman), Editor (Asep/Edy Prayekno), Antok Asa (penata artistik). Serta Dedi S sebagai penata musik.
“Film pendek ini juga diharapkan menjadi salah satu karya yang menjadi penambah perbendaharaan budaya daerah dan budaya nasional,’’tutup Rahman.(frj)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar