BENGKULU, SH – Tak bisa dipungkiri jika tanaman sawit menjadi salah
satu komiditi unggulan dalam negeri dalam peningkatan ekonomi masyarakat.
Termasuk di Provinsi Bengkulu. Hanya saja dalam kurun beberapa waktu terakhir
ini, industri persawitan mengalami penurunan. Adanya permasalahan ekonomi
global serta kenaikan bea impor masuk yang dikenakan oleh negara pengimpor
minyak sawit menjadi beberapa kendala yang mempengaruhi pasar luar negeri.
Pada
tahun ini, industri persawitan
diprediksi masih akan mengalami kendala yang sama yakni, meningkatkan kembali
kejayaan industri persawitan nasional dalam menompong perekonomian masyarakat
tentunya dengan sejumlah persyaratan. Ketua Gabungan Pengusaha Kepala Sawit
Indonesia (GAPKI) Cabang Bengkulu, John Siregar mengatakan, persawitan di
Bengkulu ikut terdampak dari permasalahan global yang terjadi.
“Prospek
industri kelapa sawit di Bengkulu tidak terlepas dari pasar luar negeri dan
kebijak-kebijakan pemerintah pusat dan daerah,” ujarnya.
John
menambahkan, banyak faktor yang menjadi kendala sawit dan produk turunannya di
pasar luar negeri. Beberapa diantaranya perang dagang antara Amerika dan China
yang belum reda. Kemudian pengenaan tarif impor di India serta isu lingkungan
dari Uni Eropa terkait sawit yang kian santer. Sebagai negara pengimpor
terbesar minyak sawit, India memberlakukan bea masuk minyak sawit yang cukup
tinggi.
“Sebelum
India mematok bea tarif impor minyak sawit sebesar 30%. Kini naik menjadi 44%.
Begitu juga tarif bea masuk impor produk turunan CPO. Dari sebelumnya 40%
menjadi menjadi 54%. Ini tentu berdampak pada industri persawitan kita,” jelas
John.
Sedangkan
kondisi di Indonesia terkhusus di Provinsi Bengkulu sendiri lanjut John, ikut
berdampak pada produktivitas industri sawit yang masih belum optimal. Terutama
di tingkat petani. Selain itu peremajaan perkebunaan sawit rakyat saat ini juga
masih terkesan lamban sebab, kebijakannya yang sangat ketat juga menjadi
permasalahan.
John
mengaku masih optimis jika industri persawitan di Provinsi Bengkulu masih punya
harapan untuk tumbuh dan menjadi salah satu lokomotif perekonomian daerah.
Tentunya dengan pesyaratan; adanya komitmen yang tinggi dari pemerintah untuk
meningkatkan produksi dan nilai jual TBS sawit. Adanya rencana pembangunan
pabrik minyak goreng dan pembangunan pabrik bio diesel di Bengkulu ini akan
sangat mendorong peningkatan produksi sawit di Bengkulu. Sebab selama ini kita
sangat tergantung dengan refinery (kilang minyak) di luar Bengkulu.
Ia
berharap, kedepannya Dinas Perkebunan untuk mempunyai data base petani sawit
dan perusahaan perkebunan sawit yang akurat. Pendataan ini penting dengan
tujuan agar dapat membuat program replanting serta penyuluhan kepada petani
agar produktifitasnya meningkat agar dapat mempercepat program replanting itu
sendiri.(frj)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar