Minggu, 13 Januari 2019

Prospek Persawitan Bengkulu di 2019 // GAPKI :Masih Ada Harapan

 

Ketua Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Bengkulu, John Siregar.


BENGKULU, SH – Tak bisa dipungkiri jika tanaman sawit menjadi salah satu komiditi unggulan dalam negeri dalam peningkatan ekonomi masyarakat. Termasuk di Provinsi Bengkulu. Hanya saja dalam kurun beberapa waktu terakhir ini, industri persawitan mengalami penurunan. Adanya permasalahan ekonomi global serta kenaikan bea impor masuk yang dikenakan oleh negara pengimpor minyak sawit menjadi beberapa kendala yang mempengaruhi pasar luar negeri.
Pada tahun  ini, industri persawitan diprediksi masih akan mengalami kendala yang sama yakni, meningkatkan kembali kejayaan industri persawitan nasional dalam menompong perekonomian masyarakat tentunya dengan sejumlah persyaratan. Ketua Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Bengkulu, John Siregar mengatakan, persawitan di Bengkulu ikut terdampak dari permasalahan global yang terjadi.
“Prospek industri kelapa sawit di Bengkulu tidak terlepas dari pasar luar negeri dan kebijak-kebijakan pemerintah pusat dan daerah,” ujarnya.
John menambahkan, banyak faktor yang menjadi kendala sawit dan produk turunannya di pasar luar negeri. Beberapa diantaranya perang dagang antara Amerika dan China yang belum reda. Kemudian pengenaan tarif impor di India serta isu lingkungan dari Uni Eropa terkait sawit yang kian santer. Sebagai negara pengimpor terbesar minyak sawit, India memberlakukan bea masuk minyak sawit yang cukup tinggi.
“Sebelum India mematok bea tarif impor minyak sawit sebesar 30%. Kini naik menjadi 44%. Begitu juga tarif bea masuk impor produk turunan CPO. Dari sebelumnya 40% menjadi menjadi 54%. Ini tentu berdampak pada industri persawitan kita,” jelas John.
Sedangkan kondisi di Indonesia terkhusus di Provinsi Bengkulu sendiri lanjut John, ikut berdampak pada produktivitas industri sawit yang masih belum optimal. Terutama di tingkat petani. Selain itu peremajaan perkebunaan sawit rakyat saat ini juga masih terkesan lamban sebab, kebijakannya yang sangat ketat juga menjadi permasalahan.
John mengaku masih optimis jika industri persawitan di Provinsi Bengkulu masih punya harapan untuk tumbuh dan menjadi salah satu lokomotif perekonomian daerah. Tentunya dengan pesyaratan; adanya komitmen yang tinggi dari pemerintah untuk meningkatkan produksi dan nilai jual TBS sawit. Adanya rencana pembangunan pabrik minyak goreng dan pembangunan pabrik bio diesel di Bengkulu ini akan sangat mendorong peningkatan produksi sawit di Bengkulu. Sebab selama ini kita sangat tergantung dengan refinery (kilang minyak) di luar Bengkulu.
Ia berharap, kedepannya Dinas Perkebunan untuk mempunyai data base petani sawit dan perusahaan perkebunan sawit yang akurat. Pendataan ini penting dengan tujuan agar dapat membuat program replanting serta penyuluhan kepada petani agar produktifitasnya meningkat agar dapat mempercepat program replanting itu sendiri.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar