![]() |
| Wakil Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu, Suharto. |
BENGKULU, SH - Minimnya
serapan anggaran dalam APBD Provinsi Bengkulu tahun 2018 ini mendapat sorotan
dari anggota dewan. Para wakil rakyat ini mempertanyakan kinerja Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) yang lambat dalam menjalankan program kerjanya.
Wakil
Ketua II DPRD Provinsi Bengkulu, Suharto mengatakan, minimnya serapan anggaran
ini akan berdampak pada penurunan perputaran ekonomi di Provinsi Bengkulu.
“Dengan
tegas saya katakan, minimnya serapan APBD 2018 sangat mempengaruhi pertumbuhan
ekonomi di Provinsi Bengkulu,” ujar Suahrto, Senin pagi (26/11/18).
Suharto
menambahkan, hingga per 31 Oktober 2018, serapan anggaran baru mencapai 55%.
Kondisi ini membuat pengerjaan sejumlah proyek pembangunan di Provinsi Bengkulu
terksean berkejar-kejaran dengan waktu. Mengingat sudah masuk akhir tahun.
“Itu data
laporan yang kami terima per 31 Oktober. Untuk perkembangannya hingga saat ini
masih belum ada laporan lagi,” terangnya.
Suharto
mengakui adanya upaya dari OPD walau di tengah waktu yang mepet. Ada satu cara
untuk meminimalisir kejadian minimnya serapan APBD yakni dengan cara marathon.
“OPD harus
bersinergi dengan sejumlah stakeholder dalam upaya mengebut serapan anggaran,”
tambahnya.
Sementara
itu Waka I DPRD Provinsi Bengkulu, Edison Simbolon mengatakan, banyaknya proyek
yang gagal lelang menjadi penyebab minimnya serapan anggaran tahun ini.
“Untuk
hasil pastinya kita belum tahu, tapi hasil dari pengamatan kita ada sejumlah
proyek yang tidak bisa dilelang atau gagal lelang. Kondisi ini diprediksi akan
banyak Silpa anggaran pada tahun ini,” tutupnya.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar