// Bakar Boneka Mayat dan Ban
BENGKULU, SH - Memperingati Hari Tani Nasional,
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Bengkulu dan Forum Petani
Bersatu (FPB) melakukan aksi depan Kantor Gubernur Bengkulu, Senin pagi
(24/9/18).
Adapun tuntutam puluhan massa tersebut yang ingin disampaikan oleh
mahasisiwa yaitu:
1. Tolak Politik Liberalisasi Agraria, Pangan, Konflik Agraria,
kriminalisasi petani dan isu lainnya.
2. Mempertanyakan Program Presiden RI Joko Widodo terkait NAWACITA yang seharusnya lebih mensejahterakan rakyat.
3. Cita - cita pelaksanaan Reformasi Agraria yang sekian lama tertunda
kembali lahir setelah Presiden Joko Widodo memasukkan program pendistribusian
tanah seluas 9 juta hektar dalam Nawa Cita yang kemudian dimasukkan ke dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Namun ketika
ditinjau lebih jauh, program tersebut hanya didominasi dengan pembagian
sertifikat tanah (4,5 juta hektar sertifikasi, 4,1 juta hektar pelepasan
kawasan hutan, 0,4 juta hektar dari HGU habis, tanah terlantar dan tanah negara
lainnya).
4. Mempertanyakan serta menyesalkan atas tindakan refresif Polri saat
melakukan pengamanan dalam pelaksanaan aksi unjuk rasa gerakan mahasiswa
beberapa waktu belakangan ini.
Namun ada point penting aspirasi yang disampaikan dari Forum Petani
Bersatu (FPB) dan juga mahasiswa ini, yaitu meminta keseriusan pemerintah dalam
menangani konflik-konflik Agraria karena petani menjadi korban penggusuran,
kekerasan maupun kriminalisasi yang mana sudah di janjikan oleh Plt Gubernur
Bengkulu pada 23 Februari 2018 lalu.
"Hari ini kami meminta kejelasan terhadap janji Plt Gubernur
Bengkulu pada 23 Februari yang lalu, akan membentuk tim pemecah permasalahan
terhadap lahan petani, namun kenyataanya pada hari ini belum juga ada
kejelsaan", tambahnya.
Pada momentum hari tani ini juga mahasiswa mengaspirasikan tuntutan
terhadap kondisi pertanian serta harga hasil tani yang merosot baik sawit dan
karet.
"Pada momentum hari tani ini kami juga meminta solusi yang kongkrit
terhadap harga pertanian kita yang semakin melamah, karena kebijakan-kebijakan
itu bisa di perbaiki dari kebijakan Plt Gubernur," ujar korlap, Hadi
Pratama.
Dalam aksi ini mahasiswa juga melakukan aksi bakar-bakar ban dan boneka
yang di buat menyerupai mayat yang di bakar di depan Kantor Gubernur Bengkulu.
"Aksi bakar mayat ini merupakan salah satu simbol
bahwa mayat itu mati, dia tak mampu mendengar, tak mampu melihat, nah pemimpin
yang seperti ini yang harus kita musnahkan," tutup Hadi.
Terkait Aksi Demo Mahasiswa Ini Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah langsung merespon aksi yang dilakukan oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitaa Negeri Bengkulu (UNIB).
Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengaku sangat
mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai bentuk penyampaian
pendapat kepada pemerintah.
"Mereka menyampaikan aspirasi terkait program
reforma agraria, saya menyambut baik aspirasi dari masyarakat dan semua
kalangan apalagi dari mahasiswa," kata Rohidin.
Rohidin menjelaskan, program agraria ini adalah
sesungguhnya program yang berhasil ,itu yang di tunggu-tunggu oleh masyatakat
dan saat ini tengah dirasakan betul oleh masyarakat Bengkulu.
"Terutama pada program pendaftaran tanah yang
digunakan secara sistematis dan masyarakat senang sekali itu yang kita kenal
reformasi agraria, tidak hanya itu lahan transmigran yang puluhan tahun tidak
bersertifikat sekarang disertifikatkan," tambah Rohidin. Terkait retribusi
lahan, kampung nelayan merupakan salah satu program reformasi agraria, selain
itu program reformasi agraria telah berhasil.
"Untuk ringrut yang di daerah air sebakul menuju
jalan nakau bisa bisa melalui jalan pintas dan itu sudah direncanakan dari 3
tahun yang lalu dan sekarang sudah mendapat persetujuan dan tahun ini akan
dibangun dan ini yang disebut reformasi agraria," tutup Rohidin.(frj)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar