Minggu, 30 September 2018

Hari Tani, Mahasiswa Datangi Kantor Gubernur


// Bakar Boneka Mayat dan Ban

 

BENGKULU, SH Memperingati Hari Tani Nasional, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Bengkulu dan Forum Petani Bersatu (FPB) melakukan aksi depan Kantor Gubernur Bengkulu, Senin pagi (24/9/18).

Adapun tuntutam puluhan massa tersebut yang ingin disampaikan oleh mahasisiwa yaitu:

1.   Tolak Politik Liberalisasi Agraria, Pangan, Konflik Agraria, kriminalisasi petani dan isu lainnya.
2.   Mempertanyakan Program Presiden RI Joko Widodo terkait NAWACITA yang  seharusnya lebih mensejahterakan rakyat.
3.   Cita - cita pelaksanaan Reformasi Agraria yang sekian lama tertunda kembali lahir setelah Presiden Joko Widodo memasukkan program pendistribusian tanah seluas 9 juta hektar dalam Nawa Cita yang kemudian dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Namun ketika ditinjau lebih jauh, program tersebut hanya didominasi dengan pembagian sertifikat tanah (4,5 juta hektar sertifikasi, 4,1 juta hektar pelepasan kawasan hutan, 0,4 juta hektar dari HGU habis, tanah terlantar dan tanah negara lainnya).
4.   Mempertanyakan serta menyesalkan atas tindakan refresif Polri saat melakukan pengamanan dalam pelaksanaan aksi unjuk rasa gerakan mahasiswa beberapa waktu belakangan ini.

Namun ada point penting aspirasi yang disampaikan dari Forum Petani Bersatu (FPB) dan juga mahasiswa ini, yaitu meminta keseriusan pemerintah dalam menangani konflik-konflik Agraria karena petani menjadi korban penggusuran, kekerasan maupun kriminalisasi yang mana sudah di janjikan oleh Plt Gubernur Bengkulu pada 23 Februari 2018 lalu. 

"Hari ini kami meminta kejelasan terhadap janji Plt Gubernur Bengkulu pada 23 Februari yang lalu, akan membentuk tim pemecah permasalahan terhadap lahan petani, namun kenyataanya pada hari ini belum juga ada kejelsaan", tambahnya.

Pada momentum hari tani ini juga mahasiswa mengaspirasikan tuntutan terhadap kondisi pertanian serta harga hasil tani yang merosot baik sawit dan karet.

"Pada momentum hari tani ini kami juga meminta solusi yang kongkrit terhadap harga pertanian kita yang semakin melamah, karena kebijakan-kebijakan itu bisa di perbaiki dari kebijakan Plt Gubernur," ujar korlap, Hadi Pratama.

Dalam aksi ini mahasiswa juga melakukan aksi bakar-bakar ban dan boneka yang di buat menyerupai mayat yang di bakar di depan Kantor Gubernur Bengkulu.

"Aksi bakar mayat ini merupakan salah satu simbol bahwa mayat itu mati, dia tak mampu mendengar, tak mampu melihat, nah pemimpin yang seperti ini yang harus kita musnahkan," tutup Hadi.

Terkait Aksi Demo Mahasiswa Ini Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah langsung merespon aksi yang dilakukan oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitaa Negeri Bengkulu (UNIB).

Plt. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengaku sangat mengapresiasi aksi yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai bentuk penyampaian pendapat kepada pemerintah.

"Mereka menyampaikan aspirasi terkait program reforma agraria, saya menyambut baik aspirasi dari masyarakat dan semua kalangan apalagi dari mahasiswa," kata Rohidin.

Rohidin menjelaskan, program agraria ini adalah sesungguhnya program yang berhasil ,itu yang di tunggu-tunggu oleh masyatakat dan saat ini tengah  dirasakan betul oleh masyarakat  Bengkulu.

"Terutama pada program pendaftaran tanah yang digunakan secara sistematis dan masyarakat senang sekali itu yang kita kenal reformasi agraria, tidak hanya itu lahan transmigran yang puluhan tahun tidak bersertifikat sekarang disertifikatkan," tambah Rohidin. Terkait retribusi lahan, kampung nelayan merupakan salah satu program reformasi agraria, selain itu program reformasi agraria telah berhasil.

"Untuk ringrut yang di daerah air sebakul menuju jalan nakau bisa bisa melalui jalan pintas dan itu sudah direncanakan dari 3 tahun yang lalu dan sekarang sudah mendapat persetujuan dan tahun ini akan dibangun dan ini yang disebut reformasi agraria," tutup Rohidin.(frj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar